
Karena itu, PBB bekerja sama dengan Komite Palang Merah Internasional (ICRC) dan badan penanggulangan ranjau PBB (Unmas) untuk mengidentifikasi lokasi sensitif.
Langkah ini dilakukan demi keamanan petugas serta menghormati proses evakuasi jasad korban.
”Puing di beberapa area bukan sekadar sisa bangunan, tapi menyimpan kenangan dan jasad keluarga warga. Ini masalah yang sangat sensitif,” kata anggota tim WFP, Nehal Abu Hassan.
Terhalang Blokade Israel, PBB Daur Ulang Puing Jadi Jalanan
Pekerjaan tim PBB makin rumit lantaram otoritas Israel melarang masuknya peralatan berat dan material bangunan baru ke Gaza.
Israel beralasan material selain makanan dan obat-obatan dikhawatirkan dimanfaatkan Hamas.
Akibatnya, petugas terpaksa bekerja pakai alat seadanya yang sudah tua dan sering rusak.
Demi menyiasati keadaan, PBB mendaur ulang puing beton menggunakan mesin penghancur batu tua untuk dijadikan bahan perbaikan jalan dan fondasi tempat pengungsian.
”Kualitasnya memang tak sebaik bahan bangunan normal, tapi kami tidak punya pilihan lain,” kata Abu Hassan.
Meski berjalan lambat, pembersihan jalan sepanjang 580 km yang sudah dilakukan membawa dampak positif.
Akses jalan yang terbuka mempermudah distribusi bantuan pangan, mobilisasi tim medis, hingga mendorong warga lokal untuk mulai membuka lagi usaha kecil mereka.
(Ft)






















