Ringkasan Berita:
- Fenomena terdamparnya banyak batu apung yang terbawa arus laut dan menumpuk di sepanjang garis pantai Pulau Liki, Kabupaten Sarmi, mengejutkan warga, Minggu (28/6/2026).
- Air laut di sekitar pesisir terlihat kecokelatan, sementara pasir putih ikut tertutup endapan batu apung dan material lain yang terbawa arus.
- Fenomena ini menarik perhatian warga karena baru pertama kali terjadi dalam jumlah yang begitu besar.
Laporan Wartawan , Anderson Esris
, SARMI – Warga Pulau Liki, Distrik Sarmi, Kabupaten Sarmi, Papua, dikejutkan dengan fenomena alam berupa terdamparnya batu apung yang terbawa arus laut di sepanjang garis pantai Pulau Liki pada Minggu (28/6/2026).
Peristiwa tersebut menjadi perhatian masyarakat karena jumlah batu apung yang terdampar cukup banyak dan menutupi sebagian pesisir.
Keberadaan batu apung pertama kali diketahui oleh warga yang sedang beraktivitas di sekitar pantai pada pagi hari.
Mereka mendapati ribuan pecahan batu apung mengapung di permukaan laut sebelum akhirnya terbawa ombak dan menumpuk di sepanjang bibir pantai Pulau Liki.
Akibat fenomena tersebut, pemandangan pantai yang biasanya dihiasi laut berwarna biru jernih dan hamparan pasir putih tampak berubah.
Air laut di sekitar pesisir terlihat kecokelatan, sementara pasir putih ikut tertutup endapan batu apung dan material lain yang terbawa arus.
Fenomena ini menarik perhatian warga karena baru pertama kali terjadi dalam jumlah yang begitu besar.
Sejumlah masyarakat mengabadikan momen tersebut melalui foto dan video, sementara yang lainnya memilih mendekati lokasi untuk melihat secara langsung batu apung yang memenuhi kawasan pantai.
Batu apung merupakan batuan vulkanik berpori yang dapat mengapung di permukaan laut karena mengandung banyak rongga udara.
Material ini umumnya berasal dari aktivitas gunung api dan dapat terbawa arus laut hingga menempuh jarak yang sangat jauh sebelum akhirnya terdampar di suatu wilayah.
Meski belum diketahui secara pasti asal batu apung tersebut, masyarakat menduga material itu terbawa arus laut dari wilayah yang mengalami aktivitas vulkanik.
Dugaan tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut dari instansi terkait maupun para ahli geologi.
Warga berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera melakukan penelitian terhadap fenomena tersebut untuk mengetahui asal-usul batu apung sekaligus memastikan tidak ada dampak negatif terhadap lingkungan pesisir maupun ekosistem laut di sekitar Pulau Liki.
Para nelayan juga mengaku akan terus memantau kondisi perairan karena keberadaan batu apung dalam jumlah besar dikhawatirkan dapat mengganggu aktivitas melaut maupun pergerakan perahu di sekitar kawasan pesisir.
Hingga Minggu siang, batu apung masih terlihat mengapung dan menumpuk di sejumlah titik sepanjang pantai Pulau Liki.
Masyarakat berharap kondisi laut segera kembali normal, sehingga keindahan laut biru dan pasir putih yang menjadi ciri khas Pulau Liki dapat kembali dinikmati seperti sebelumnya. (*)




















