Lokal  

Bengkayang Berdarah: Warga Geger Penemuan Tragis

Tragedi Subuh di Masjid: Pembunuhan Keji Guncang Bengkayang

Sebuah peristiwa tragis mengguncang ketenangan Dusun Sungai Soga, Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Pada Selasa, Juni 2026, suasana khusyuk salat Subuh berjamaah di Masjid At-Taqwa terkoyak oleh aksi kekerasan yang merenggut nyawa seorang jemaah. Korban, yang diidentifikasi dengan inisial CA, meninggal dunia akibat luka serius yang diduga kuat disebabkan oleh serangan senjata tajam dari seorang pria berinisial IAB. Kejadian ini meninggalkan luka mendalam dan kebingungan yang luar biasa bagi masyarakat setempat, mengingat lokasi kejadian berada di tempat yang selama ini dikenal sebagai pusat kegiatan keagamaan yang damai dan aman.

Keterkejutan Warga dan Sosok Terduga Pelaku

Ketua RT 001/RW 014, Anida, mengungkapkan rasa syok dan tidak percayanya atas insiden yang terjadi di wilayahnya. Menurut pengamatannya, terduga pelaku, IAB, dikenal sebagai individu yang cenderung tertutup dan tidak banyak berinteraksi secara sosial dengan warga.

“Sebagai warga, saya mengenalnya seperti warga pada umumnya. Namun memang dia agak jarang bergaul dengan masyarakat. Kalau ada kegiatan gotong royong atau kerja bakti, kadang tidak ikut,” ujar Anida saat ditemui di lokasi kejadian.

Meskipun memiliki sifat yang cenderung menyendiri, IAB tidak sepenuhnya asing bagi warga. Ia beberapa kali terlihat mengikuti kegiatan ibadah di Masjid At-Taqwa, bahkan pernah dipercaya untuk menjadi imam salat.

“Sesekali dia terlihat salat berjamaah di masjid, bahkan pernah menjadi imam. Jadi untuk aktivitas ibadah, dia memang cukup sering terlihat di masjid,” tambahnya.

Anida menegaskan bahwa selama mengenal IAB, tidak pernah ada perilaku mencurigakan yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga.

“Saya pernah mengobrol dan bercanda dengannya seperti dengan warga lainnya. Tidak ada hal yang membuat kami curiga atau berpikir akan terjadi kejadian seperti ini,” tuturnya, menunjukkan betapa tak terduganya peristiwa ini.

Profil Korban dan Kesaksian Saksi Mata

Di mata para tetangganya, korban CA dikenal sebagai pribadi yang baik hati, ramah, dan aktif terlibat dalam berbagai kegiatan keagamaan di lingkungan mereka. Farhani, seorang warga yang menjadi saksi mata dalam kejadian memilukan ini, memberikan kesaksian mengenai sosok korban.

“Korban adalah orang yang sangat baik. Beliau sering salat berjamaah di masjid dan tidak pernah memiliki masalah dengan siapa pun,” ujar Farhani.

Ia menambahkan bahwa korban memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat dan selalu mudah berbaur.

“Kami mengenalnya sebagai sosok yang baik dan dekat dengan warga,” katanya.

Kepergian CA secara tragis ini tentu saja menyisakan duka mendalam bagi banyak warga, terutama karena tidak ada satupun yang mengetahui adanya konflik atau masalah yang pernah dihadapi korban dengan siapapun.

Kejanggalan Sebelum Peristiwa

Farhani, yang juga memiliki tugas sebagai muazin di Masjid At-Taqwa, membeberkan beberapa kejanggalan yang ia rasakan sebelum insiden penyerangan terjadi. Ia menceritakan bahwa ketika ia tiba di masjid untuk persiapan salat Subuh, terduga pelaku ternyata sudah berada di dalam masjid.

“Saat saya datang ke masjid, lampu sempat mati. Ketika hendak melaksanakan Salat Subuh, pelaku sudah berada di dalam masjid,” ungkapnya.

Perasaan aneh mulai muncul ketika pelaku mendesaknya untuk segera mengumandangkan azan, padahal waktu salat Subuh belum tiba. Setelah azan dikumandangkan, keduanya sempat melaksanakan salat sunnah dua rakaat. Namun, setelah itu, pelaku meminta Farhani untuk meninggalkan masjid dan pulang ke rumah.

“Setelah selesai salat, dia menyuruh saya pulang dan mengosongkan masjid,” kata Farhani.

Merasa khawatir dengan situasi yang janggal tersebut, Farhani memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan pulang, ia sempat memperingatkan beberapa warga yang hendak menuju masjid untuk kembali ke rumah demi keselamatan mereka.

Perubahan Perilaku Pelaku yang Tak Terduga

Farhani juga mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari menjelang kejadian, terduga pelaku menunjukkan peningkatan aktivitasnya dalam mengikuti salat berjamaah di masjid dibandingkan biasanya.

“Selama ini dia jarang terlihat salat berjamaah. Namun dalam tiga hari terakhir sebelum kejadian, dia terlihat rajin datang ke masjid,” ujarnya.

Perubahan perilaku ini sempat menarik perhatian sebagian warga. Namun, tidak ada yang menduga bahwa beberapa hari kemudian, perubahan tersebut akan berujung pada sebuah tragedi yang merenggut nyawa seorang jemaah.

Penemuan Korban dan Reaksi Cepat Aparat

Tidak lama setelah Farhani meninggalkan masjid atas permintaan pelaku, korban CA diduga tiba di masjid untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah. Tak berselang lama, kabar mengenai adanya penyerangan di dalam masjid mulai menyebar. Warga yang sebelumnya memilih bertahan di rumah karena rasa takut, baru berani mendatangi lokasi setelah mengetahui pelaku telah meninggalkan tempat kejadian.

Setibanya di lokasi, warga mendapati korban CA tergeletak dengan luka parah akibat serangan senjata tajam.

“Kami melihat korban sudah tergeletak dan senjata tajam masih menancap di bagian dada korban,” kata Farhani, menggambarkan pemandangan mengerikan yang ia saksikan.

Peristiwa ini sontak menarik perhatian luas masyarakat dan segera ditindaklanjuti oleh aparat kepolisian. Penyelidikan intensif segera dilancarkan untuk mengungkap motif di balik aksi keji tersebut dan merekonstruksi kronologi kejadian secara pasti.

Misteri Motif Pembunuhan

Hingga saat ini, berbagai informasi dan spekulasi mengenai peristiwa tragis tersebut beredar di tengah masyarakat. Namun, warga mengaku belum mengetahui secara pasti apa yang menjadi motif di balik dugaan pembunuhan ini.

“Ada berbagai versi cerita yang beredar. Namun kami tidak mengetahui secara pasti bagaimana kronologi sebenarnya karena tidak berada langsung di lokasi saat kejadian,” ujar Anida.

Ia menegaskan kembali bahwa peristiwa ini merupakan kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya di lingkungan mereka, dan hal ini benar-benar mengguncang rasa aman masyarakat.

“Yang pasti saya sangat terkejut dan sedih. Selama saya tinggal di sini, belum pernah ada kejadian seperti ini. Peristiwa ini benar-benar membuat warga kaget dan tidak percaya,” pungkasnya, mencerminkan kepedihan dan kebingungan yang dirasakan oleh seluruh komunitas.