Paes di Ajax: Sentuhan Magis Pelatih Baru

Klub raksasa Belanda, Ajax Amsterdam, telah mengumumkan penunjukan pelatih baru mereka untuk mengarungi kompetisi mendatang, sebuah langkah krusial setelah musim 2025-2026 yang penuh gejolak. Musim lalu, Ajax, yang merupakan kampiun Eredivisie sebanyak 36 kali, justru tenggelam dalam performa yang jauh dari ekspektasi. Tim yang identik dengan julukan “The Amsterdammers” ini tidak pernah sekalipun mampu menembus dua besar klasemen Liga Belanda, sebuah fakta yang menyakitkan bagi para penggemarnya.

Perjalanan Musim yang Penuh Ketidakpastian

Situasi di bangku kepelatihan Ajax selama musim 2025-2026 bagaikan bongkar pasang. Tiga sosok berbeda silih berganti memegang kemudi tim. John Heitinga menjadi pelatih awal hingga November 2025, diikuti oleh Fred Grim yang mengambil alih sebagai pelatih sementara (caretaker) pada Maret 2026. Oscar Garcia kemudian ditunjuk untuk menyelesaikan sisa musim, namun kiprahnya juga belum mampu mengangkat performa tim secara signifikan. Puncaknya, Ajax harus puas mengakhiri musim di peringkat kelima klasemen, sebuah posisi yang sangat mengecewakan bagi klub sebesar mereka.

Kedatangan Maarten Paes di Tengah Kekacauan

Di tengah badai ketidakpastian tersebut, kiper Timnas Indonesia, Maarten Paes, bergabung dengan Ajax pada bursa transfer paruh kedua musim. Kedatangannya menjadi angin segar sekaligus keharusan bagi tim. Paes langsung dipercaya mengisi posisi kiper utama, menggantikan Vitezslav Jaros yang harus menepi lebih awal karena cedera lutut parah pada Februari lalu, memaksanya absen hingga akhir musim.

Meskipun demikian, perjalanan Paes di Ajax tidak serta merta mulus. Performanya beberapa kali menuai kritik dari para pengamat Liga Belanda. Namun, di akhir musim, Paes berhasil menunjukkan kontribusinya yang signifikan. Ia berperan penting dalam mengantarkan Ajax lolos ke babak kualifikasi II UEFA Conference League 2026-2027. Puncak performanya terlihat jelas dalam laga play-off melawan mantan klubnya, Utrecht, pada 24 Mei lalu. Dalam drama adu penalti yang menegangkan, Paes berhasil mematahkan dua eksekusi penendang lawan, memastikan kemenangan bagi timnya.

Maarten Paes sendiri telah dikontrak oleh Ajax selama tiga setengah tahun, dengan durasi hingga 30 Juni 2029. Jika ia tetap menjadi pilihan utama di bawah mistar gawang, Paes dipastikan akan menjalani musim 2026-2027 dengan dinamika baru bersama pelatih anyar.

Era Baru Bersama Michel: Arsitek Keajaiban Girona

Ajax secara resmi mengumumkan pelatih baru mereka yang akan memimpin tim selama dua tahun ke depan pada Selasa (2/6/2026). Sosok yang dipercaya melanjutkan estafet kepelatihan dari Oscar Garcia ini adalah seorang arsitek tim yang telah menorehkan jejak gemilang di Spanyol, yaitu Miguel Angel Sanchez Munoz, atau yang lebih akrab disapa Michel.

Nama Michel meroket dan bersinar terang pada musim 2023-2024. Saat itu, ia berhasil menciptakan sebuah keajaiban bersama Girona. Klub yang sebelumnya hanya tiga kali tampil di Divisi Utama Liga Spanyol sepanjang sejarahnya, di bawah tangan dingin Michel berhasil menembus kompetisi kasta tertinggi Eropa, Liga Champions!

Prestasi Gemilang di Girona

Pada paruh pertama musim 2023-2024, performa Girona di bawah Michel sungguh luar biasa. Mereka mampu mengoleksi 48 poin, menyamai raihan tim sekaliber Real Madrid. Catatan impresif lainnya adalah keberhasilan Girona dua kali menumbangkan Barcelona dengan skor telak 4-2, yang akhirnya mengantarkan mereka finis di peringkat ketiga klasemen akhir La Liga.

Dedikasi dan kepiawaian Michel dalam meracik strategi terbukti dengan penghargaan yang ia raih. Ia dinobatkan sebagai Manager of the Month sebanyak tiga kali. Lebih prestisius lagi, mantan gelandang Rayo Vallecano ini juga dianugerahi gelar Pelatih Terbaik La Liga 2023-2024.

Tantangan Baru dan Pendekatan Unik

Namun, perjalanan gemilang Michel bersama Girona tidak berlanjut mulus dalam dua musim berikutnya. Setelah masa keemasan tersebut, Girona harus menghadapi kenyataan yang berbeda. Mereka finis di peringkat ke-16 pada musim 2024-2025 dan sayangnya terdegradasi di akhir musim lalu setelah menyelesaikan liga di posisi ke-19. Pasca degradasi tersebut, Michel memutuskan untuk hengkang dari Girona dan kini menjejakkan kaki di Amsterdam untuk membesut Ajax.

Yang menarik dari rekam jejak Michel adalah pendekatan uniknya terhadap posisi penjaga gawang, terutama saat ia menangani Girona. Ia kerap mengadopsi formasi tiga bek, yaitu 3-3-1-3. Dalam sistem ini, Michel memiliki prinsip bahwa kiper tidak hanya bertugas menjaga gawang, tetapi juga harus mampu berperan layaknya seorang bek tengah.

Hal ini menuntut para penjaga gawang untuk memiliki kemampuan membaca permainan yang tajam, serta cakap dalam menginisiasi serangan dari lini pertahanan. Dengan filosofi permainan seperti ini, jika Maarten Paes tetap dipercaya sebagai kiper utama Ajax di musim mendatang, ia tampaknya akan dihadapkan pada pembelajaran banyak hal baru dan pengembangan diri yang signifikan di bawah arahan pelatih anyar yang penuh inovasi ini.