Di balik gemerlap layar lebar, kehidupan para aktor sering kali diwarnai oleh jadwal syuting yang padat dan menuntut, tak jarang melampaui batas waktu normal. Kondisi ini tak jarang berdampak pada kesehatan fisik dan mental mereka. Belum lama ini, aktris Rachel Amanda secara terbuka membagikan pengalamannya mengenai dampak buruk yang dialaminya akibat jam kerja lembur yang ekstrem di lokasi syuting.
Pengalaman Rachel Amanda bukan sekadar rasa lelah biasa. Ia mengaku pernah berada pada titik kritis di mana tubuhnya memberikan reaksi yang sangat signifikan akibat jadwal kerja yang dianggapnya tidak manusiawi.
Reaksi Fisik yang Mengkhawatirkan
Meskipun secara mental ia merasa mampu bertahan, namun fisiknya tak bisa berbohong. Bekerja di luar batas waktu yang ditetapkan kerap membuatnya jatuh sakit tak lama setelah proses produksi selesai atau saat jeda syuting.
“Kalau mental sih tidak terlalu terpengaruh, tapi fisik iya. Setelah itu (syuting lembur), badan rasanya jadi agak panas dingin,” ungkap Rachel Amanda.
Lebih lanjut, dampak buruk tersebut tidak hanya berhenti pada demam ringan. Kualitas suaranya pun turut terpengaruh. Bagi seorang aktor yang mengandalkan kemampuan vokal untuk menyampaikan dialog, kehilangan suara adalah sebuah mimpi buruk.
“Suaranya sampai hilang, iya,” tambahnya.
Lutesha, seorang rekan sesama aktor yang turut hadir, membenarkan fenomena ini. Menurutnya, kelelahan yang ekstrem sering kali menyebabkan suara seorang aktor menjadi tidak prima.
“Suaranya jadi agak sengau-sengau,” timpal Lutesha.
Pengalaman Syuting Tanpa Henti Selama 25 Jam
Penyebab utama dari penurunan kondisi kesehatan ini tak lain adalah durasi kerja yang sangat panjang. Rachel mengenang masa lalu ketika sistem industri film belum secanggih dan serapi saat ini. Ia bahkan pernah menghabiskan waktu di lokasi syuting selama lebih dari satu hari penuh.
“Kalau dulu sih pernah, sampai 25 jam gitu bahkan jatuhnya,” cerita bintang film yang pernah membintangi “Monster Pabrik Rambut” tersebut.
Durasi tersebut jauh melampaui standar jam kerja normal delapan jam yang lazim diterapkan di berbagai sektor pekerjaan. Hal ini membuat Rachel semakin menyadari bahwa tubuhnya memiliki batasan yang perlu dihormati. Ia mengakui bahwa dirinya bukanlah tipe orang yang bisa dipaksa bekerja tanpa istirahat yang cukup. Ketika jam tidurnya berkurang, performa aktingnya di depan kamera akan langsung menurun drastis.
“Aku tipe orang yang kalau tidurnya nggak cukup, jadi nggak berfungsi. Nggak bisa fokus,” tegas Rachel.
Terlebih lagi, ia mengaku sebagai ‘anak pagi’ yang terbiasa memiliki jadwal tidur yang teratur ketika tidak ada jadwal syuting.
Pembelajaran dan Aturan Baru dalam Industri
Belajar dari pengalaman pahit tersebut, Rachel Amanda dan Lutesha kini secara kompak menerapkan aturan yang lebih ketat dalam setiap kontrak kerja yang mereka terima. Salah satu syarat mutlak yang mereka ajukan adalah jaminan waktu istirahat yang memadai.
“Salah satunya sih jam tidur harus minimal 7 jam,” ujar Lutesha.
Namun, komitmen mereka tidak hanya berhenti pada negosiasi kontrak. Mereka juga melakukan riset mandiri terhadap calon rumah produksi (PH) yang akan mempekerjakan mereka. Lutesha membocorkan bahwa para aktor kini sering kali saling berbagi informasi mengenai lingkungan kerja di sebuah proyek.
“Kita saling bertanya satu sama lain seperti, ‘Eh, kamu sudah pernah kerja sama PH ini belum? Apakah cara kerjanya baik? Jam tidurnya oke atau tidak?’ Jadi, kita melakukan riset dulu sebelum mengambil peran,” tambahnya.
Industri Perfilman yang Mulai Berbenah
Meskipun pernah merasakan pahitnya bekerja hingga 25 jam tanpa henti, Rachel bersyukur karena ekosistem perfilman Indonesia saat ini menunjukkan tanda-tanda perbaikan dan menjadi lebih manusiawi. Kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental para kru serta aktor mulai menjadi prioritas utama.
Beruntung, pengalaman buruk di masa lalu tidak membuatnya kapok untuk terus berkarya di dunia seni peran. Baginya, menyadari adanya eksploitasi di masa lalu adalah bagian dari proses pendewasaan diri.
“Mungkin kesadaran akan eksploitasi itu muncul sekarang ya, saat kondisi sudah lebih baik. Kalau kapok, ya sudah pasti berhenti syuting. Buktinya sekarang masih syuting,” tutup Rachel Amanda.




















