Aktual  

Aminah Tewas Usai Makan Sate: Menantu Bantah Racun, Akui Jampi-Jampi

Misteri Kematian Aminah: Pembongkaran Makam dan Pengakuan Mengejutkan

Boyolali, Jawa Tengah – Sebuah kasus yang menyelimuti misteri kematian seorang warga di Boyolali, Jawa Tengah, akhirnya memasuki babak baru. Polres Boyolali, bekerja sama dengan Biddokkes Polda Jawa Tengah, melakukan pembongkaran makam Aminah (57), warga Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali. Tindakan ini, yang dikenal sebagai ekshumasi, dilakukan untuk pemeriksaan lebih lanjut terhadap jenazah, menyusul kecurigaan keluarga yang merasa kematian Aminah tidak wajar.

Ekshumasi merupakan proses krusial dalam investigasi hukum dan medis, di mana jenazah digali kembali dari makamnya untuk menjalani pemeriksaan forensik. Keputusan untuk melakukan ekshumasi ini diambil setelah keluarga Aminah merasa ada kejanggalan yang patut diusut tuntas.

Kecurigaan Berawal dari Pesanan Sate

Awal mula kecurigaan keluarga terhadap kematian Aminah mencuat sejak peristiwa yang terjadi pada hari Senin, 18 Mei 2026. Kakak korban, Widodo (61), menceritakan bahwa menantu Aminah, yang berinisial P, memesan sate ayam melalui aplikasi ojek daring. Kejanggalan pertama muncul ketika P meminta agar pengemudi ojek daring tersebut tidak mengungkapkan identitasnya sebagai pemesan makanan tersebut.

Widodo menambahkan, pengemudi ojek daring sempat menyampaikan bahwa kiriman makanan tersebut berasal dari anggota keluarga yang berada di Solo. Namun, keluarga Aminah menegaskan bahwa mereka tidak memiliki kerabat yang tinggal di Solo. “Si P itu pinjam akun untuk memesan Gojek, tukang ojek. Si P itu bilang terhadap tukang ojek itu ‘tolong mas ini antar ke ibu Aminah, tapi jangan bilang kalau dari saya. Saya anaknya’. Tukang ojek itu terus berangkat,” ungkap Widodo.

Sesampainya di kediaman Aminah, pesanan sate tersebut diterima oleh almarhumah. Ketika Aminah menanyakan asal kiriman makanan tersebut, pengemudi ojek daring menjawab bahwa itu berasal dari “mbak’e Solo” atau seorang perempuan yang tinggal di Solo. Pernyataan ini semakin memperkuat kecurigaan keluarga, mengingat tidak adanya sanak saudara mereka yang berdomisili di kota tersebut.

Selanjutnya, Aminah menghubungi putrinya, Luri, untuk menanyakan perihal kiriman sate dari orang yang tidak dikenalnya. Luri pun segera meminta ibunya untuk tidak mengonsumsi makanan tersebut. Namun, tak lama kemudian, P mendatangi rumah Aminah dengan membawa roti bakar. Pada saat itu, Widodo menduga bahwa Aminah kemungkinan besar sudah terlanjur mengonsumsi sate yang diterimanya.

Penemuan Jasad dalam Kondisi Mengenaskan

Keesokan harinya, Luri datang ke rumah ibunya dengan tujuan menitipkan anaknya. Namun, ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres ketika melihat lampu rumah Aminah masih menyala padahal hari sudah pagi. Merasa khawatir, Luri akhirnya meminta bantuan warga sekitar untuk mendobrak pintu rumah Aminah.

“Kok sudah jam 06.30 WIB, kok lampu belum dimatikan. Terus tetangga-tetangga diceluk (dipanggil) ‘tolong iki (ini) mas ibuku kok ngene iki (jam segini) biasanya wes tangi (sudah bangun tidur) ada apa’,” ujar Widodo menirukan ucapan Luri.

Pintu rumah Aminah akhirnya didobrak oleh tetangga yang bernama Mutharom dan Mas Anton, disaksikan oleh Luri. Ketiga saksi inilah yang pertama kali menemukan Aminah dalam kondisi meninggal dunia dengan mulut mengeluarkan busa.

Awalnya, pihak keluarga belum terpikir bahwa kematian Aminah disebabkan oleh hal yang tidak wajar. Namun, desakan dari masyarakat sekitar untuk melaporkan kejadian ini ke kepolisian semakin menguat. Hal ini dipicu oleh kecurigaan warga yang melihat warna biru pada mulut dan telinga Aminah sebelum jenazah dimakamkan.

Peristiwa ini membuat keluarga teringat kembali akan kiriman sate yang diterima Aminah beberapa hari sebelumnya. Luri akhirnya melaporkan kematian ibunya ke Polsek Ngemplak setelah beberapa hari mempertimbangkan kejadian tersebut.

Pengakuan Mengejutkan dari Menantu

Anggota dari Polsek Ngemplak segera menindaklanjuti laporan tersebut dengan mendatangi kediaman P untuk melakukan pemeriksaan. Di hadapan petugas, P mengakui bahwa dirinya memang memesan sate untuk Aminah. Namun, ia membantah keras tuduhan bahwa dirinya meracuni mertuanya.

P memberikan pengakuan yang mengejutkan. Ia mengklaim tidak memberikan racun pada sate tersebut, melainkan hanya memberikan “jampi-jampi” atau mantra. Tujuannya adalah agar Aminah lebih mudah memberikan uang kepadanya ketika ia meminta. “Di sana, (P mengaku) ‘ora tak kei racun (nggak saya kasih racun) tapi tak kei jampi-jampi supoyo mbokku kui tak jaluki duit ben gampang (saya kasih mantra agar mertua saya kalau dimintai uang mudah memberi),” ungkap Widodo.

Setelah mendengar pengakuan tersebut, pihak keluarga Aminah memutuskan untuk menyewa pengacara. Keputusan ini berujung pada permintaan resmi untuk dilakukannya ekshumasi terhadap jenazah Aminah demi mengungkap tabir di balik kematiannya. Hingga kini, kasus kematian Aminah ini masih dalam proses penyelidikan intensif oleh pihak kepolisian untuk menemukan kebenaran yang sesungguhnya.