Pernah Obesitas, Dokter Gia Berbagi Tips Makan Sehat

Masalah Obesitas yang Mengancam Kesehatan Dunia

Obesitas menjadi salah satu masalah kesehatan global yang memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia. Diperkirakan ada sekitar 1 miliar jiwa yang mengalami obesitas, sehingga hampir satu dari tiga orang dewasa tergolong dalam kategori ini. Tidak hanya menimpa masyarakat umum, bahkan para tenaga medis pun bisa saja mengalami kondisi serupa, meskipun mereka lebih paham tentang kesehatan tubuh ideal.

Salah satu tokoh yang membuka cerita tentang pengalamannya dengan obesitas adalah dr. Gia Pratama, seorang influencer kesehatan yang sedang naik daun. Ia pernah mengalami obesitas dengan berat badan mencapai 100 kilogram. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari betapa berbahayanya kondisi ini.

Pengalaman Pribadi yang Memicu Perubahan

Dr. Gia mengungkapkan bahwa ia baru menyadari bahaya obesitas setelah menangani pasien yang mengalami serangan jantung di IGD. Saat itu, ia melihat seorang pasien dengan usia dan tanggal lahir yang sama dengannya, namun sudah mengalami serangan jantung. Kejadian ini menjadi momen penting yang memicu keinginannya untuk melakukan diet dan mengubah gaya hidup.

“Yang memacu saya untuk turun berat badan itu saat di IGD menerima pasien terkena serangan jantung di hadapan saya langsung. Saya lihat kok umurnya sama, tanggal ulang tahun sama, tapi sudah terkena serangan jantung depan mata saya langsung, alhamdulillah masih bisa diselamatkan dengan pacu jantung,” ujar dr. Gia saat talkshow memperingati Hari Obesitas Sedunia di Kemenkes.

Penyebab Obesitas yang Harus Dikenali

Dalam talkshow tersebut, dr. Gia menjelaskan beberapa faktor penyebab obesitas. Pertama adalah kerja keras dua organ utama, yaitu jantung dan lambung, dalam memenuhi nafsu makan. Selain itu, cara makan yang tidak tepat juga berperan besar dalam proses terjadinya obesitas.

“Banyak yang tidak sadar, memberikan banyak asupan ke dalam mulut yang jantung tidak butuhkan, malah memperberat kinerja jantung. Begitupun dengan lambung, karena sensor kenyang kita ada di bagian kubahnya, jadi kalau dipaksa terus diisi makanan, lambung kita bisa turun memanjang ke bawah terus hingga akhirnya menjauh dari sensor kenyang yang menyebabkan akhirnya kita lapar terus,” jelasnya.

Cara Makan yang Benar

Cara makan yang benar sangat penting untuk mencegah obesitas. Dr. Gia menekankan pentingnya mengunyah makanan secara perlahan agar organ pencernaan tidak bekerja terlalu keras.

“Cara makan yang tidak sadar, makan harus pelan-pelan, jangan tidak dikunyah langsung telan, karena organ paling keras di diri kita hanya gigi jadi usahakan makan dikunyah dulu, biar lambung gak kerja terlalu keras, dengan ngunyah pelan-pelan, dinikmati jadi rasa kenyang bisa muncul,” katanya.

Peran Hormon dalam Obesitas

Selain itu, hormon juga berpengaruh besar dalam menentukan apakah seseorang mengalami obesitas atau tidak. Jika hormon tiroid normal atau berlebih, maka akan terhindar dari obesitas. Namun, jika hormon tiroid rendah, risiko obesitas meningkat.

“Hormon tiroid yang kebanyakan, umpamanya apinya kebesaran, jadi jantung berdebar, keringetan, gak bisa gemuk, akan terus kurus. Makan apapun terbakar oleh hormon ini,” jelasnya.

“Sebaliknya hipotiroid, umpamanya apinya kekecilan, jadi makan apapun tidak terbakar oleh tubuh, langsung lemah, jadinya mudah gemuk padahal gak makan sama sekali. Oleh karenanya perlu kita periksa apakah kadar hormon tiroid kita normal, biar kita tahu ada masalah hormonal atau tidak,” tambahnya.

Pengalaman Dokter Gia dalam Menurunkan Berat Badan

Dr. Gia mengaku bahwa ia tidak melakukan jenis diet spesifik, tetapi fokus pada defisit kalori. Ia menjelaskan bahwa menurunkan berat badan tidak bisa dilakukan secara instan.

“Aku yakin kalau menggemuk itu tidak dalam sehari, berarti untuk turun berat badan juga tidak dalam sehari, jadi butuh proses,” ujarnya.

“Tidak ada jenis spesifik diet yang aku lakukan, cuma defisit kalori, aku tidak puasa nutrisi, tapi puasa kalori, jadi menghindari makanan yang tinggi kalori tapi nggak ada nutrisinya, nggak ada vitamin dan mineralnya. Contohnya apa? Maaf gorengan, seblak, ada nggak vitamin dan mineral? Tetapi tetap kita konsumsi, ini yang saya kurangi, bukan nutrisi tapi kalorinya saja,” katanya.