MAKASSAR — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan munculnya fenomena El Nino di Sulawesi Selatan pada Mei 2026. Fenomena ini diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun dan memiliki dampak signifikan terhadap kondisi cuaca dan iklim wilayah tersebut.
Ayi Sudrajat, Kepala Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, menjelaskan bahwa hingga April 2026, kondisi atmosfer masih berada dalam fase ENSO netral. ENSO netral mengacu pada situasi saat suhu permukaan laut di Samudera Pasifik tropis berada pada kisaran normal. Hal ini menyebabkan pola cuaca dan curah hujan cenderung stabil.
Namun, BMKG memperkirakan perubahan akan terjadi pada Mei 2026, ketika El Nino dengan intensitas lemah mulai muncul. Pada periode Juli–September 2026, intensitas fenomena ini diperkirakan meningkat menjadi moderat, sebelum kembali melemah menjelang akhir tahun.
Dampak dari El Nino yang terjadi adalah penurunan curah hujan yang mulai masuk kategori rendah atau di bawah normal sejak Mei 2026. Suhu udara juga diperkirakan meningkat, dengan puncak musim kemarau terjadi antara Agustus hingga September 2026.
“Angin brubu atau angin kencang yang bersifat panas dan kering biasanya muncul selama musim kemarau di Makassar dan sekitarnya,” ujar Ayi Sudrajat.
Berdasarkan pemetaan BMKG, sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan berpotensi mengalami kekeringan. Namun, beberapa daerah seperti Bulukumba, Bone, Palopo, Wajo, Toraja Utara, dan Luwu Timur, serta sebagian wilayah Sidrap, Soppeng, Tana Toraja, Luwu, dan Luwu Utara diperkirakan tidak terdampak secara signifikan.
Untuk mengantisipasi dampak dari fenomena alam ini, pemerintah melalui BMKG merilis beberapa rekomendasi strategis:
Rekomendasi Strategis untuk Menghadapi El Nino
Ketahanan Pangan dan Air
Pemerintah daerah dan petani diminta melakukan penyesuaian kalender tanam serta beralih ke varietas tanaman yang toleran terhadap kekeringan (umur genjah). Optimalisasi infrastruktur air seperti embung, waduk, dan sistem irigasi hemat air sangat penting untuk mencegah gagal panen.Pencegahan Karhutla
Sektor kehutanan diminta meningkatkan pemantauan hotspot melalui patroli terpadu guna menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Selain itu, menjaga kualitas udara dari polusi kabut asap juga menjadi prioritas.Ketahanan Energi dan Kesehatan
Operasional waduk untuk pembangkit listrik harus dikelola secara presisi guna menjaga suplai energi. Dari sisi kesehatan, masyarakat diimbau untuk menjaga hidrasi, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, mengingat tingginya paparan panas.
BMKG menegaskan bahwa langkah-langkah preventif dan adaptasi sangat penting untuk mengurangi risiko yang muncul akibat El Nino. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari instansi terkait.






















