cuaca  

Prakiraan Cuaca Jawa Tengah, Siaga Hujan Petir di 20 Wilayah Besok

Prakiraan Cuaca Jawa Tengah untuk Hari Selasa 14 April 2026

Jawa Tengah akan menghadapi kondisi cuaca yang cukup ekstrem pada hari Selasa, 14 April 2026. Dari seluruh wilayah Jateng yang terdiri atas 35 kabupaten dan kota, sebagian besar akan dilanda hujan. Hujan disertai petir diprediksi akan terjadi di 20 wilayah, sementara sisanya akan mengalami hujan lebat.

Berikut daftar wilayah yang diprediksi akan mengalami hujan disertai petir:

  • Banjarnegara
  • Banyumas
  • Batang
  • Boyolali
  • Brebes
  • Jepara
  • Karanganyar
  • Klaten
  • Kendal
  • Kudus
  • Magelang
  • Pati
  • Pemalang
  • Pekalongan
  • Purbalingga
  • Semarang
  • Tegal
  • Temanggung
  • Wonogiri
  • Wonosobo

Sementara itu, wilayah yang diprediksi akan mengalami hujan lebat antara lain:

  • Blora
  • Cilacap
  • Demak
  • Grobogan
  • Kebumen
  • Kota Magelang
  • Kota Pekalongan
  • Kota Salatiga
  • Kota Semarang
  • Kota Surakarta
  • Kota Tegal
  • Purworejo
  • Rembang
  • Sragen
  • Sukoharjo

Suhu udara rata-rata di Jawa Tengah diperkirakan berkisar antara 17 derajat celcius hingga 32 derajat celcius. Kecepatan angin rata-rata antara 3 km per jam hingga 11 km per jam.

Musim Kemarau Diprediksi Lebih Awal

Musim kemarau tahun ini diprediksi akan datang lebih awal dibandingkan biasanya. Puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus 2026. Namun, kondisi ini berbeda-beda di setiap wilayah karena dipengaruhi oleh fenomena iklim global.

Fenomena La Nina Lemah yang telah berlangsung sejak Oktober 2025 telah berakhir pada Februari 2026. Saat ini, indeks ENSO (El Niño Southern Oscillation) berada pada fase Netral dengan nilai minus 0,28. BMKG memperkirakan bahwa indeks ini akan bertahan hingga Juni 2026. Namun, mulai pertengahan tahun, ada peluang munculnya El Niño kategori Lemah-Moderat sebesar 50-60 persen.

Selain itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun. Hal ini memengaruhi distribusi curah hujan di Indonesia.

Prediksi Awal dan Puncak Musim Kemarau

Berdasarkan data dari BMKG, sebagian besar wilayah di Indonesia diprediksi akan memasuki musim kemarau lebih awal. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa 184 ZOM (26,3 persen) akan masuk musim kemarau pada Mei 2026, sedangkan 163 ZOM (23,3 persen) akan masuk pada Juni 2026.

Puncak musim kemarau 2026 diprediksi terjadi pada bulan Agustus. Wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau pada Agustus mencakup 429 ZOM atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia. Wilayah lain akan mengalami puncak kemarau pada Juli (12,6 persen) dan September (14,3 persen).

Wilayah yang diprediksi memasuki puncak musim kemarau pada Juli meliputi:

  • Sebagian wilayah Sumatera
  • Kalimantan bagian tengah dan utara
  • Sebagian kecil Jawa
  • Sebagian kecil Nusa Tenggara
  • Sebagian Sulawesi
  • Sebagian Maluku hingga wilayah barat Pulau Papua

Pada bulan Agustus, cakupan wilayah yang mengalami puncak kemarau semakin luas, termasuk:

  • Sumatera bagian tengah dan selatan
  • Jawa Tengah
  • Jawa Timur
  • Sebagian besar Kalimantan
  • Sebagian besar Sulawesi
  • Seluruh wilayah Bali
  • Nusa Tenggara
  • Sebagian Maluku dan Pulau Papua

Sementara itu, wilayah yang diprediksi akan mengalami puncak kemarau pada September meliputi:

  • Sebagian Lampung
  • Sebagian kecil Jawa
  • Sebagian besar NTT
  • Wilayah Sulawesi bagian utara dan timur
  • Sebagian besar Maluku Utara
  • Sebagian Maluku
  • Sebagian kecil Pulau Papua

Sifat Musim Kemarau 2026

BMKG memproyeksikan bahwa sifat musim kemarau 2026 secara umum akan bersifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya di 451 ZOM (64,5 persen). Hanya 3 ZOM (0,4 persen) di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami kemarau Atas Normal atau lebih basah.

Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di 57,2 persen wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya.

Langkah Antisipasi

Untuk menghadapi risiko yang mungkin terjadi sepanjang musim kemarau 2026, BMKG menekankan pentingnya langkah antisipasi bagi kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga seluruh lapisan masyarakat.

Di sektor pangan, para petani perlu segera menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas yang lebih hemat air, tahan kekeringan, serta memiliki siklus panen yang lebih singkat. Selain itu, penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi sangat penting untuk menjamin ketersediaan air bersih.

Kewaspadaan terhadap dampak lingkungan juga menjadi prioritas utama. Pemerintah daerah perlu menyiapkan mekanisme respons cepat untuk menghadapi penurunan kualitas udara dan meningkatkan kesiapsiagaan di sektor kehutanan guna mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia.