Serangan Brutal Israel: Tiga Jurnalis Tewas di Lebanon Selatan, Dunia Mengecam
Insiden mengerikan kembali terjadi di Lebanon selatan pada hari Sabtu, ketika tiga jurnalis terbunuh secara keji akibat serangan rudal presisi Israel saat mereka sedang dalam perjalanan dengan mobil. Peristiwa tragis ini memicu gelombang kecaman internasional, dengan pemerintah Lebanon secara tegas menyebutnya sebagai “kejahatan perang yang terang-terangan.”
Jurnalis yang syahid dalam serangan tersebut adalah Ali Shoeib dari stasiun televisi al-Manar, serta Fatima Ftouni dan saudara laki-lakinya yang juga juru kamera, Mohammed Ftouni, dari Almayadeen. Ketiganya menjadi korban ketika kendaraan yang mereka tumpangi menjadi sasaran di distrik Jezzine, Lebanon selatan, sebuah wilayah yang relatif jauh dari garis depan pertempuran. Rekaman video dari lokasi kejadian menunjukkan setidaknya empat rudal menghantam mobil para jurnalis.

Video yang beredar memperlihatkan momen mengerikan ketika sebuah rudal diluncurkan, mengarah ke mobil yang ditumpangi para wartawan. Bahkan, terlihat upaya seseorang yang mencoba mendekat untuk memberikan pertolongan juga menjadi sasaran. Rekaman pasca-serangan menampilkan puing-puing kendaraan yang hangus, jaket, dan helm yang rusak, serta peralatan jurnalistik seperti tripod dan mikrofon yang berserakan.
Profil Para Jurnalis yang Gugur:
Ali Shoeib (Al-Manar TV): Dikenal oleh rekan-rekannya sebagai Hajj Ali Shoeib, ia adalah sosok veteran yang telah mendedikasikan lebih dari tiga dekade hidupnya untuk meliput konflik antara Lebanon dan Israel sejak tahun 1992. Beliau menyaksikan dan mendokumentasikan hampir setiap konfrontasi penting, termasuk agresi tahun 1993, Operasi Grapes of Wrath pada 1996, dan momen bersejarah pembebasan wilayah selatan pada tahun 2000.
Selama perang Juli 2006, Shoeib berada di garis depan sektor timur, meliput pertempuran paling sengit. Ia dilaporkan menjadi salah satu jurnalis pertama yang memasuki Maroun al-Ras setelah gencatan senjata diumumkan, bahkan sebelum pasukan Israel meninggalkan posisi mereka. Meskipun berulang kali menerima ancaman dan mengalami luka, Shoeib tidak pernah gentar. Ia dianggap sebagai salah satu koresponden perang paling terkemuka dan berani di Lebanon, yang tidak hanya meliput perlawanan, tetapi juga hidup berdampingan dengannya selama tiga puluh tahun.Fatima Ftouni dan Mohammed Ftouni (Almayadeen): Jaringan Almayadeen mengonfirmasi syahidnya koresponden mereka di Lebanon Selatan, Fatima Ftouni. Dalam pernyataannya, Almayadeen menulis bahwa Fatima telah dengan gigih berada di lapangan untuk meliput agresi Israel yang sedang berlangsung di Lebanon, menjalankan tugas jurnalistik yang ia cintai dan dikenal luas. Ia berdedikasi untuk menyampaikan realitas perlawanan rakyatnya kepada audiens global.
Menurut koresponden Almayadeen, Jamal Ghourabi, kendaraan Fatima ditargetkan dengan empat rudal presisi. Insiden yang lebih mengerikan terjadi ketika ambulans yang tiba di lokasi kejadian untuk memberikan pertolongan juga diserang, yang mengakibatkan kematian salah satu paramedis. Hal ini memperkuat dugaan adanya upaya sistematis untuk membunuh awak media dan personel medis yang berusaha membantu.
Dugaan Motif dan Kecaman Internasional:
Militer Israel mengklaim bahwa serangan terhadap Ali Shoeib ditujukan padanya karena ia diduga sebagai anggota pasukan Radwan Hizbullah, unit elit yang berspesialisasi dalam serangan lintas batas. Israel menyatakan bahwa kontak Shoeib dengan petinggi Hizbullah dan pekerjaannya mendokumentasikan lokasi pasukan Israel menjadi bukti keterlibatannya dalam militer kelompok tersebut.
Namun, hukum internasional secara tegas menyatakan bahwa jurnalis, terlepas dari afiliasi politiknya, dianggap sebagai warga sipil dan menargetkan mereka merupakan kejahatan perang. Sejak 13 Oktober 2023, sembilan jurnalis di Lebanon telah menjadi korban serangan Israel.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengecam keras serangan tersebut, menyebut para jurnalis sebagai “warga sipil yang melakukan tugas profesional mereka.” Melalui platform X, beliau menyatakan, “Ini adalah kejahatan yang melanggar semua perjanjian dan norma yang membuat jurnalis mendapat perlindungan internasional dalam perang.”
Militer Israel juga telah melontarkan tuduhan serupa terhadap beberapa jurnalis yang terbunuh di Gaza, mengklaim mereka juga bekerja sebagai agen Hamas, termasuk Anas al-Sharif, koresponden Aljazeera. Laporan dari Reporters Without Borders menyebutkan bahwa Israel telah membunuh lebih dari 220 jurnalis sejak tahun 2023.
Menteri Penerangan Lebanon, Paul Morcos, menegaskan bahwa pembunuhan ketiga jurnalis pada hari Sabtu adalah “kejahatan perang yang disengaja dan terang-terangan terhadap media dan misi jurnalisme.” Pemerintah Lebanon sedang dalam proses menyusun daftar serangan Israel terhadap petugas kesehatan dan personel media untuk diserahkan kepada PBB dan Uni Eropa.
Konflik di Lebanon utara meningkat setelah Hizbullah melancarkan serangan rudal ke Israel pada tanggal 2 Maret, sebagai respons terhadap serangan Amerika Serikat-Israel di Iran. Sejak saat itu, Israel melancarkan kampanye udara dan invasi. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan Israel telah menewaskan 1.189 orang dan melukai 3.427 orang di Lebanon, termasuk 48 petugas kesehatan. Di sisi lain, tiga tentara Israel di Lebanon Selatan dan satu orang di Israel utara dilaporkan tewas akibat tembakan Hizbullah.























