Bisnis  

Fokus BBCA: Kinerja Membaik, Dividen Menarik?

Sektor perbankan diperkirakan menghadapi tantangan signifikan pada tahun 2025. Beberapa faktor diperkirakan akan memengaruhi kinerja industri ini, termasuk daya beli masyarakat yang melemah.

Tantangan Sektor Perbankan di Tahun 2025

Daya beli yang lemah diprediksi akan berdampak pada penurunan kualitas aset, khususnya di segmen usaha kecil dan menengah (UKM) serta segmen konsumer. Secara keseluruhan, pertumbuhan pinjaman yang lambat, kompresi net interest margin (NIM), dan biaya penyisihan yang lebih tinggi akan menekan laba per saham (earnings per share atau EPS) sektor perbankan.

Pemulihan Likuiditas dan Prospek Laba

Meskipun demikian, data Oktober dan November 2025 menunjukkan adanya perbaikan kondisi likuiditas pada bank-bank besar. Kondisi ini diharapkan dapat memicu pemulihan laba per saham (EPS) dalam beberapa kuartal mendatang, meskipun tantangan terkait imbal hasil aset dan kualitas aset masih ada.

Kinerja Bank Central Asia (BBCA)

Di tengah tantangan tersebut, Bank Central Asia (BBCA) menunjukkan kinerja yang positif. Berdasarkan laporan keuangan bulanan, BBCA mencatatkan pertumbuhan laba bersih tahunan terbesar pada sepuluh bulan pertama tahun 2025, yaitu sebesar 4,4%. Sementara itu, bank-bank besar lainnya mengalami kontraksi.

Pengaruh Kebijakan Makroekonomi dan Pergerakan Saham BBCA

Kebijakan makroekonomi menjadi katalis penting yang memengaruhi lanskap perbankan di tahun 2026. Di awal tahun tersebut, saham BBCA kembali menjadi sorotan setelah pergerakannya sempat menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir.

Meskipun demikian, analis menilai bahwa tekanan jual terhadap saham BBCA mulai berkurang menjelang laporan keuangan full year 2025. Pada perdagangan Jumat (23/1/2026), harga saham BBCA sempat menyentuh Rp7.550, level terendah sejak 17 Oktober 2025, sebelum ditutup pada level Rp7.650. Volume perdagangan mencapai 2,03 juta lot dengan nilai transaksi Rp1,55 triliun.

Analisis Potensi Rebound Saham BBCA

Analis Trimegah Sekuritas, Jonathan Gunawan, menilai bahwa pelemahan harga saham BBCA sejalan dengan pelemahan yang terjadi secara sektoral. Menurutnya, secara historis, harga saham BBCA sudah relatif murah dan berpeluang untuk rebound.

“Potensi penurunan saham ini sudah lebih kecil dibandingkan potensi kenaikannya, karena valuasi yang sudah relatif diskon sedangkan fundamental perusahaan masih solid,” ujar Jonathan.

Ia melihat bahwa pelaku pasar saat ini sedang menantikan laporan keuangan full year 2025. Jika hasilnya sesuai ekspektasi, maka akan menjadi sentimen positif bagi pergerakan harga saham. “Hingga November 2025, BBCA menjadi satu-satunya bank KBMI 4 yang mencatatkan kenaikan laba bersih,” ujarnya.

Pada November 2024, laba BCA tercatat mencapai Rp 50,47 triliun. Pertumbuhan laba bank swasta ini terdorong oleh pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang tercatat 4,1% year-on-year menjadi Rp 73,03 triliun per November 2025.

Faktor Pendorong Kinerja BBCA di Tahun 2026

Jonathan mengatakan bahwa sentimen positif berikutnya adalah pertumbuhan kinerja BBCA pada 2026 yang diprediksi lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Faktor-faktor seperti menjaga pangsa pasar dana murah atau CASA, kontribusi pendapatan berbasis fee, serta efisiensi biaya operasional menjadi elemen penting yang akan mempengaruhi kinerja keuangan perseroan.

“BBCA melakukan konsolidasi dengan menjaga pertumbuhan kredit secara prudent pada 2025 serta memperbesar pencadangan untuk antisipasi risiko. Tahun 2026 bila produk domestik bruto meningkat, maka BBCA akan tumbuh lebih tinggi lagi,” ujarnya.

Dividen Sebagai Pertimbangan Investor

Terakhir, kata Jonathan, sentimen dividen tetap menjadi bagian dari pertimbangan investor, selain kinerja operasional. Selama ini, BBCA dikenal memiliki histori pembayaran dividen yang relatif stabil dan menarik. Dalam 3 tahun terakhir, dividend payout ratio minimal di 65%.

“Ekspektasi pasar terhadap pembagian dividen di 2026 menjadi salah satu faktor yang diperhatikan oleh pemegang saham jangka panjang,” ujarnya.

Rekomendasi Analis

Budi dari OCBC Sekuritas merekomendasikan buy saham BBCA dengan target harga Rp 11.000. David Kurniawan, Analis Indo Premier Sekuritas juga memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp 10.000.

Konsensus analis memberikan rekomendasi buy sebanyak 92%, dan hold 8%. Tidak ada analis yang memberikan rekomendasi sell. Rata-rata target harga saham BBCA untuk 12 bulan ke depan berada pada harga Rp10.800.

Kesimpulan

Meskipun sektor perbankan dihadapkan pada tantangan di tahun 2025, BBCA menunjukkan resiliensi dan potensi pertumbuhan. Kinerja yang solid, didukung oleh faktor-faktor seperti pertumbuhan laba, efisiensi operasional, dan potensi dividen yang menarik, menjadikan saham BBCA menarik bagi investor. Rekomendasi buy dari berbagai analis semakin menguatkan prospek positif saham ini.