Air, elemen esensial bagi kehidupan, menyimpan paradoks mendalam. Ia dapat menjadi sumber kemakmuran dan keberlanjutan, namun dalam sekejap mata, berubah menjadi kekuatan destruktif yang merenggut nyawa melalui banjir dan tanah longsor. Novel “There Are Rivers in the Sky” karya Elif Shafak mengeksplorasi dualitas ini, menggunakan air sebagai benang merah yang menghubungkan kisah-kisah lintas abad dan benua.
Shafak, seorang penulis berdarah Turki dengan gelar Ph.D. dalam ilmu politik, dikenal dengan karyanya yang telah diterjemahkan ke lebih dari lima puluh bahasa. Dalam novel ini, ia menghadirkan metafora yang kuat melalui molekul air (H2O), dengan satu atom oksigen (Arthur) terikat pada dua atom hidrogen (Zaleekhah dan Narin). Ketiga karakter ini, meskipun memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda, saling membutuhkan dan terhubung melalui aliran air yang konstan.
Kisah yang Terjalin Melalui Air
Novel ini membawa pembaca dalam perjalanan melintasi waktu dan ruang, dimulai dengan:
Mesopotamia Kuno: Kita bertemu dengan setetes air hujan yang jatuh ke rambut Raja Ashurbanipal, seorang penguasa zalim namun terpelajar yang menghabiskan waktunya di perpustakaan pribadinya. Di sana, ia membaca Epos Gilgamesh, karya sastra tertua di dunia yang mengisahkan perjalanan seorang pangeran dari tirani menjadi raja yang bijaksana. Shafak menyertakan ilustrasi artefak kuno, seperti Lamassu (makhluk hibrida mistis setengah manusia), untuk membantu pembaca memvisualisasikan peradaban kuno ini.
London, 1840: Kisah berlanjut ke tepi Sungai Thames, di mana tetesan air hujan berubah menjadi kepingan salju yang jatuh ke lidah Arthur Smyth yang baru lahir. Arthur, yang lahir dari keluarga miskin, dijuluki “Raja Arthur dari Selokan dan Daerah Kumuh.” Ia memiliki ingatan yang luar biasa, yang kelak membawanya menjadi tokoh penting dalam penerjemahan Epos Gilgamesh. Karakter Arthur terinspirasi oleh Assyriologist Inggris, George Smith (1840-1876). Pada era Victoria, Sungai Thames mengalami polusi parah yang menyebabkan wabah kolera yang merenggut ribuan nyawa. Peristiwa ini menjadi dasar penelitian tentang penyakit yang ditularkan melalui air (waterborne disease), menggambarkan sungai sebagai sumber kehidupan dan kematian.
Irak, 2014: Pembaca diperkenalkan kepada Narin, seorang gadis etnis Yazidi berusia sembilan tahun yang dibaptis di tepi Sungai Tigris. Novel ini menyoroti diskriminasi dan penganiayaan yang dialami oleh komunitas Yazidi di bawah rezim Saddam Husein, yang dianggap sebagai penyembah setan. Desa tempat Narin tinggal terancam tenggelam akibat pembangunan bendungan.
London, 2018: Zaleekhah Clarke, seorang ahli hidrologi yang terobsesi dengan penelitian tentang “Memory of Water,” pindah ke rumah perahu di Sungai Thames setelah bercerai. Melalui Zaleekhah, Shafak memberikan gambaran tentang kondisi air dari masa ke masa. Sungai Tigris dan Eufrat, yang dulunya merupakan pusat peradaban, kini menjadi wilayah yang paling kekurangan air di dunia. Mesopotamia, yang pernah menjadi pusat kota-kota maju, mengalami kemunduran akibat penyalahgunaan sumber daya alam dan peperangan, yang menyebabkan kelaparan, banjir, dan kekeringan.
Sungai Tersembunyi dan Harapan Revitalisasi
Novel ini juga menyoroti keberadaan “sungai tersembunyi” di berbagai kota di dunia, yaitu sungai-sungai yang telah ditutupi beton atau tercemar parah.
- Paris: Sungai Bievre, yang dulunya merupakan jalur air penting, kini terkubur di bawah infrastruktur kota.
- Tokyo: Kota ini dulunya memiliki jaringan sungai dan kanal yang luas, namun kini hampir tidak ada jejaknya.
- Athena: Tiga sungai yang dulunya mengalir melalui kota ini sekarang tersembunyi di bawah beton.
- London: Sungai Fleet, sungai bawah tanah terbesar di kota ini, telah terkubur selama lebih dari 250 tahun.
Namun, ada harapan untuk mengembalikan sungai-sungai tersembunyi ini. Pemerintah Seoul telah melakukan program “Daylighting Seoul,” sebuah proyek revitalisasi Sungai Cheonggyecheon yang sukses. Proyek ini, yang selesai pada tahun 2005, bahkan membongkar jalan layang yang ada untuk mengembalikan aliran sungai. Revitalisasi ini menciptakan ruang terbuka hijau di tengah kota yang padat dan meningkatkan kualitas hidup warga.
Pesan tentang Penjagaan Air
“There Are Rivers in the Sky” menyampaikan pesan penting tentang penjagaan air. Setetes air dapat hadir berkali-kali selama bertahun-tahun, mendaur ulang dirinya sendiri, dan memengaruhi orang yang berbeda di berbagai periode. Novel ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga sumber daya air kita untuk generasi mendatang.
Detail Buku
- Judul: There Are Rivers in The Sky
- Penulis: Elif Shafak
- Penerbit: Penguin Random House UK
- Tahun terbit: 2024
- Tebal: 482 halaman
- ISBN: 978-0-241-98874-9






















