Patrolmedia, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total rumah rusak di Sumbar (Sumatera Barat) akibat bencana banjir mencapai 12.451 unit.
Data ini hasil pendataan lapangan terbaru per 16 Desember 2025 yang dilakukan tim BNPB di sejumlah wilayah terdampak.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan secara nasional kerusakan rumah paling banyak terjadi di Provinsi Aceh dengan jumlah sekitar 100 ribu unit.
Sementara itu, Sumatera Utara 29 ribu unit dan rumah rusak di Sumbar Sumatera sebanyak 12.451 unit.
“Untuk Sumatera Barat, rincian kerusakan terdiri atas 6.933 unit rumah rusak ringan, 2.959 unit rusak sedang, dan 2.559 unit rusak berat,” ujar Abdul Muhari, dalam konfernsi pers, dilihat dari kanal Youtube BNPB, Selasa (16/12/2025).
Ia menjelaskan, pola kerusakan bangunan di Sumut dan Sumbar relatif serupa. Hal itu disebabkan tingkat dampak bencana di kedua provinsi tak sebesar yang terjadi di Aceh, sehingga jumlah kerusakan bangunan lebih sedikit.
BNPB mencatat, sejumlah kabupaten dan kota di Sumut dan Sumbar saat ini memasuki fase early recovery atau pemulihan awal.
Tahapan itu mencakup penetapan lokasi hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak.
Khusus di Sumbar, kata Abdul, proses pembangunan huntara sudah mulai berjalan di satu titik.
“Pembukaan dan pematangan lahan juga telah dilakukan di dua titik di Kota Padang sebagai persiapan pembangunan huntara serta hunian tetap (huntap),” katanya.
BNPB juga terus memperbarui data jumlah pengungsi. Pemutakhiran ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran sebaran pengungsi secara akurat, termasuk data terpilah berdasarkan kelompok usia dan kondisi khusus.
Untuk Provinsi Aceh, dari total sekitar 250 ribu pengungsi, BNPB telah berhasil mengumpulkan data terpilah sebanyak hampir 120 ribu jiwa atau mendekati 50% dari total pengungsi.
Data tersebut dinilai sudah cukup merepresentasikan kondisi pengungsi di lapangan.
“Dari data ini kita bisa memetakan kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, hingga penyandang disabilitas, sekaligus kebutuhan khusus mereka selama berada di pengungsian,” jelas Abdul.
BNPB berencana memaparkan secara rinci hasil pengumpulan data terpilah tersebut dalam waktu dekat.
Paparan ini diharapkan dapat menjadi dasar penyaluran bantuan yang lebih tepat sasaran sesuai kebutuhan pengungsi.
Sementara itu, penyaluran logistik di Sumatera Barat terus dilakukan. Hingga hari ini, total bantuan logistik yang telah disalurkan mencapai 11,2 ton, dengan 6 sorti pengiriman menggunakan helikopter dan 2 sorti melalui jalur darat.
Di sektor infrastruktur, pemulihan akses transportasi darat juga menunjukkan progres. Jalan nasional penghubung Bukittinggi-Padang kini mulai dibuka untuk kendaraan roda empat jenis minibus.
BNPB menargetkan akses tersebut dapat kembali difungsikan secara penuh pada 16 Desember 2025.
(Ipl/Ft)






















