Potensi Keramik Klampok sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Klampok tidak hanya menyimpan potensi sejarah dengan kota lamanya yang memiliki bekas kawasan pabrik gula, namun juga potensi wisata edukasi berupa kerajinan keramik. Untuk lebih memperkuat potensi tersebut, Pemkab melalui Dinparbud Banjarnegara sedang berusaha mengajukan keramik Klampok menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Karenanya, Selasa (14/10/2025) digelar diskusi terpumpun mengenai keramik Klampok di Aula Dinparbud Banjarnegara dengan dihadiri para pemangku kepentingan. Diskusi ini bertujuan untuk membahas langkah-langkah strategis dalam menjadikan keramik Klampok sebagai bagian dari warisan budaya tak benda.
Sekretaris Dinparbud Banjarnegara Arif Subagyo mengungkapkan pihaknya berharap dengan ditetapkan keramik Klampok menjadi WBTB akan menjadikan Klampok semakin terangkat sebagai kawasan wisata. Ia menilai potensi Klampok luar biasa karena di masa lalu juga menjadi pusat ekonomi sampai sekarang. Bahkan mungkin sama besar dengan Banjarnegara.
“Kita berusaha agar seluruh aspek penunjangnya kita angkat. Dari sisi produk, wisata sejarah dan lainnya,” ujar Arif.
Sejarah Perkembangan Kerajinan Keramik Klampok
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara Heni Purwono menyampaikan bahwa selain ada tokoh Kandar Atmomiharjo yang memulai bisnis keramik dan pada puncaknya mendirikan Meandalai sebagai perusahaan keramik yang cukup besar di tahun 1970an, ternyata ada peran tokoh besar Soemitro Kolopaking Poerbonegoro sebagai perintis industri kerajinan keramik di Klampok.
“Jadi karena Soemitro Kolopaking Poerbonegoro pernah bekerja di Bandung, ia membawa sampel tanah dari Banjarnegara yang cocok dibuat keramik ke Balai Pusat Keramik di Bandung. Ketika itu ternyata didapati kualitas keramiknya sangat baik dan harganya lebih murah 20 persen dari keramik produksi Jepang,” jelas Heni.
Ia juga menemukan bahwa keramik Klampok lebih indah dan mengkilap dengan mencampur bubuk batu baterai untuk campuran zat penghalus keramik. Hal ini sumbernya dari tulisan Van Goudoever di harian De Locomotief Semarang tahun 1939 dan buku karya J Van Baal yang judulnya Mensen in Verandering Onstaan en Groei van een Nieuwe Cultuur in Ontwikkelingslanden yang terbit 1967 pada halaman 128-131.
Inovasi dan Keunikan Keramik Klampok
Inovasi yang dilakukan oleh Soemitro Kolopaking Poerbonegoro memberikan nilai tambah pada keramik Klampok. Penggunaan bubuk batu baterai sebagai bahan campuran membuat keramik Klampok memiliki tekstur yang lebih halus dan mengkilap. Hal ini menjadikannya unik dan berbeda dari keramik lainnya.
Penggunaan bahan alami seperti tanah yang sesuai dengan kondisi lokal juga menjadi salah satu faktor utama dalam keberhasilan industri keramik di Klampok. Tanah yang digunakan memiliki kualitas yang tinggi dan cocok untuk pembuatan keramik yang tahan lama serta estetik.
Langkah Menuju Warisan Budaya Tak Benda
Dalam upaya menjadikan keramik Klampok sebagai WBTB, Dinparbud Banjarnegara dan TACB melakukan berbagai langkah strategis. Salah satunya adalah mengumpulkan data historis, teknik pembuatan, dan penggunaan keramik dalam masyarakat setempat.
Selain itu, mereka juga berupaya memperkuat aspek sosial dan ekonomi dari industri keramik. Dengan adanya pengakuan sebagai WBTB, diharapkan dapat meningkatkan daya tarik wisatawan dan memberikan peluang usaha bagi para pengrajin lokal.
Keuntungan Mengajukan Keramik Klampok sebagai WBTB
Mengajukan keramik Klampok sebagai WBTB memiliki beberapa keuntungan. Pertama, akan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya warisan budaya. Kedua, akan memperluas pasar keramik Klampok baik secara lokal maupun internasional.
Selain itu, pengakuan sebagai WBTB juga akan memberikan perlindungan hukum terhadap keramik Klampok dari tindakan plagiarisme atau modifikasi yang tidak sesuai dengan tradisi.























