Berita  

Kepsek SMAN 1 Cimarga Diduga Tampar Siswa Perokok, DPRD Banten Minta Investigasi Objektif

Panbil Mall

Penonaktifan Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga dan Perdebatan di Masyarakat

Kasus dugaan penamparan terhadap siswa oleh kepala sekolah SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, telah memicu perdebatan yang berlangsung secara luas. Insiden ini terjadi setelah seorang siswa kedapatan merokok di lingkungan sekolah, yang kemudian memicu aksi mogok sekolah oleh ratusan siswa. Dalam konteks ini, anggota DPRD Provinsi Banten, Dede Rohana Putra, menyampaikan pandangan yang menekankan pentingnya proses investigasi yang transparan dan adil.

Pandangan Politisi Partai Amanat Nasional (PAN)

Dede Rohana Putra, yang juga dikenal sebagai Dewan Viral, mengatakan bahwa kekerasan fisik tidak dapat dibenarkan dalam hukum kita. Namun, ia menekankan perlunya melihat akar masalah secara utuh. Menurutnya, perlu ada tim investigasi yang melakukan kroscek menyeluruh di lapangan untuk memastikan bahwa semua pihak mendapatkan keadilan.

“Jadi memang kekerasan fisik itu tidak pernah dibenarkan dalam hukum kita, akan tetapi ada asap pasti ada api, ada yang melatarbelakangi. Maka kita harus bentuk tim investigasi harus kroscek ke lapangan ini karena apa,” ujarnya.

Usulan Jalan Tengah yang Adil

Dede juga mengusulkan sebuah jalan tengah yang adil. Jika hasil investigasi membuktikan kedua belah pihak bersalah, maka sanksi harus diterapkan kepada keduanya, tidak hanya kepada kepala sekolah. Ia bahkan menyarankan sanksi tegas bagi siswa untuk menciptakan efek jera.

“Kalau kepsek diberikan sanksi ya siswa juga karena merokok di sekolah atau karena tidak disiplin. Apakah siswanya dikeluarkan jadi efek jera juga,” tegasnya.

Keputusan Gubernur Banten

Gubernur Banten, Andra Soni, memutuskan untuk menonaktifkan sementara kepala sekolah SMAN 1 Cimarga, Dini Fitria, dari jabatannya. Keputusan ini diambil setelah Dini diduga menampar salah seorang siswa yang kedapatan merokok. Penonaktifan tersebut dilakukan dalam rangka proses investigasi agar berjalan objektif.

Namun, Dede Rohana Putra mengingatkan agar tidak langsung mengambil keputusan final untuk memberhentikan kepala sekolah. “Harus terang benderang dulu ya sebelum mengambil keputusan, harusnya dalam rangka posisi investigasi, harus dinonjobkan dulu dan tugasnya sementara dihandle oleh wakasek, biar tim investigasi ini bisa berjalan,” katanya.

Perspektif Orang Tua Siswa

Orang tua ILP, Tri Indah Alesti, mengaku tidak terima saat mengetahui kejadian yang menimpa anaknya. Ia menyatakan siap menempuh jalur hukum dengan melaporkan kepala sekolah ke Polres Lebak. Ia juga mendesak Dinas Pendidikan turun tangan memberikan sanksi kepada Dini Fitria.

“Harapan saya, kepala sekolah itu diberhentikan. Kalau masih menjabat, anak saya bisa trauma dan takut masuk sekolah,” tandas dia.

Penjelasan Kepala Sekolah

Dini Fitria membantah bahwa dirinya menendang siswanya tersebut. Ia mengklaim hanya menepuk bagian punggung, itu pun karena emosi spontan. Ia juga mengakui telah menampar siswanya tersebut, akan tetapi tidak begitu keras. “Saya kecewa bukan karena dia merokok, tapi karena tidak jujur. Saya spontan menegur dengan keras, bahkan sempat memukul pelan karena menahan emosi. Tapi saya tegaskan, tidak ada pemukulan keras,” katanya.

Penonaktifan dan Proses Investigasi

Selama proses pemeriksaan berlangsung, Pemprov Banten telah menonaktifkan Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga untuk menjaga kondusivitas di sekolah dan mencegah aksi mogok siswa. “Sambil melakukan pendalaman, kita akan menonaktifkan sementara dulu guru yang bersangkutan supaya clear,” kata Deden Apriandhi.

Kronologi Kejadian

ILP dalam kesempatannya mengakui merokok, tapi tidak di sekolah. Ia menghisap rokok di warung dekat sekolah, pada Jumat (10/10/2025) pagi. “Saya kaget waktu ketemu kepsek. Rokok langsung saya buang, tapi disuruh nyari lagi sama kepala sekolah,” katanya.

Dini Fitria kemudian menyuruh ILP mencari rokok yang telah dihisapnya. Kala itu ibu kepsek dalam kondisi marah serta memaki-maki ILP. Tidak berhenti di situ, Dini Fitria juga diduga melayangkan pukulan ke arah tubuh ILP. “Beliau marah, nendang saya di bagian punggung, terus nampol saya di pipi kanan.”