Berita  

Inflasi Gaya Hidup

Panbil Mall



Banyak hal baru yang bisa dibeli. Seperti baju, sepatu, ransel, dan juga handphone dengan fitur khusus. Setiap barang baru yang diperlukan, terasa begitu mudah untuk didapatkan. Bisa saja membeli secara tunai atau bahkan cicil. Bahkan untuk laptop khusus game yang memiliki logo mewah harganya mencapai jutaan rupiah, bisa dibayar dalam dua kali setahun.

Selain itu, ada juga motor baru dengan tipe yang sedang tren, harga mencapai puluhan juta rupiah. Ada pula alat-alat kecil seperti kulkas mini, kompor portabel, lemari minimanis, printer yang bisa fotokopi, ranjang kasur single, bantal dan seprai, AC, rice cooker, hingga sewa kamar setahun yang mencapai sepuluh juta rupiah. Semua ini adalah bagian dari kebutuhan sehari-hari, tetapi seringkali dianggap sebagai gaya hidup yang mahal.

Tidak hanya itu, biaya kuliah juga menjadi beban besar. UKT yang harus dibayarkan sebesar lima belas juta rupiah karena kuliah di Pendidikan Dokter. Dan itulah fenomena yang sering dialami oleh mahasiswa baru. Mereka tiba-tiba merasa perlu memiliki segala sesuatu yang baru, dan ketika uang habis, orang tua kembali mengirim dana. Proses ini berulang terus-menerus.

Orang tua berpikir bahwa anaknya kesulitan di rantau, sementara anak tersebut justru berpikir bahwa orang tuanya kaya. Gaya hidup yang tidak sehat ini akan terus berjalan jika tidak dikendalikan. Misalnya, melihat teman satu kosan membeli handphone baru, maka kita juga ingin menggantinya. Atau melihat teman kampus nongkrong di warung kopi, maka kita juga ingin ikut.

Mahasiswa yang tidak pandai mengelola keuangan cenderung lebih fokus pada gaya hidup mewah daripada pada pendidikan. Mereka mungkin mendapatkan beasiswa seperti KIP Kuliah, tetapi malah menggunakan uang tersebut untuk membeli barang-barang mahal. Padahal, beasiswa ini seharusnya digunakan untuk investasi jangka panjang.

Beberapa siswa saya yang menerima KIP Kuliah, disarankan untuk menabung atau berinvestasi. Saya memberikan contoh:

Klaster 1 – Rp800 ribu/bulan

Klaster 2 – Rp950 ribu/bulan

Klaster 3 – Rp1,1 juta/bulan

Klaster 4 – Rp1,25 juta/bulan

* Klaster 5 – Rp1,4 juta/bulan

Jumlah siswa yang menerima KIP Kuliah sangat banyak, tetapi tidak semua dari mereka mengubah gaya hidup mereka. Banyak dari mereka terlena dengan hidup mewah yang tiba-tiba. Akibatnya, di akhir masa perkuliahan, mereka justru merana karena kehabisan dana.

Saya selalu menyarankan kepada siswa-siswa saya:

“Kalian harus berinvestasi dengan uang KIP. Contohnya, beli emas. Nanti bisa dijual saat diperlukan atau di akhir kuliah. Di semester terakhir, kalian pasti membutuhkan banyak biaya. Dengan investasi sekarang, kalian bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar.”

Beberapa siswa saya benar-benar mengikuti saran ini. Misalnya, ada yang berkata, “Pak, saya beli emas dari uang KIP. Sekarang sudah untung setengahnya!” Namun, ada juga yang masih terjebak dalam gaya hidup yang tidak sehat. Mereka sibuk menggunakan handphone mahal dengan tiga kamera.

Anda yang masih menjadi mahasiswa, baik itu menerima KIP Kuliah dari pemerintah maupun bantuan dari orang tua, jangan terlena. Cobalah mengubah arah hidup Anda. Jangan hanya menghabiskan waktu di bangku kuliah untuk teori dan gelar. Lebih baik gunakan waktu ini untuk belajar mengelola keuangan dan berinvestasi.

Apakah Anda ingin menjadi mahasiswa yang hanya menghabiskan waktu untuk teori, atau ingin menjadi pribadi yang mandiri dan bijak dalam mengelola keuangan?