Perang di Gaza Belum Berakhir, Netanyahu Tegaskan Kebijakan Militer Tetap Berjalan
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim bahwa perang di Gaza belum akan berakhir meskipun kesepakatan gencatan senjata telah dicapai dengan kelompok bersenjata Palestina. Dalam pernyataan video yang dirilis pada Minggu malam, ia menekankan bahwa langkah diplomatik saat ini tidak menandai akhir dari kampanye militer Israel.
Netanyahu menyampaikan pernyataannya dengan suara serak namun tegas, menegaskan bahwa ancaman terhadap keamanan Israel masih besar dan perang belum sepenuhnya selesai.
“Kampanye militer belum berakhir,” ujarnya. “Masih ada tantangan keamanan besar di depan kita. Beberapa musuh mencoba bangkit kembali untuk menyerang kita lagi.”
Pernyataan itu muncul menjelang pembebasan 48 sandera yang ditahan di Gaza, 20 di antaranya diyakini masih hidup, sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran dengan 250 tahanan keamanan Palestina dan 1.700 warga Gaza yang ditahan sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Meski momen tersebut disebut sebagai ‘sejarah dan penuh haru’, Netanyahu menegaskan bahwa pembebasan sandera tidak akan mengubah arah kebijakan militernya di Gaza.
“Ini adalah malam air mata dan malam kebahagiaan,” katanya. “Namun perjuangan kita belum selesai. Kita akan terus melawan sampai keamanan Israel benar-benar terjamin.”
Netanyahu juga menyebut kemenangan militer yang telah dicapai membuka ‘peluang baru’, namun memperingatkan bahwa Israel harus tetap bersatu menghadapi fase berikutnya.
“Dengan kekuatan bersama, kita telah mencapai kemenangan luar biasa yang mengejutkan dunia. Tetapi kita masih harus menghadapi banyak tantangan ke depan,” ujarnya.
Operasi Militer Akan Terus Berlanjut
Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir, memperkuat pesan tersebut dalam pernyataan terpisah. Ia menegaskan bahwa operasi militer terhadap Hamas dan kelompok bersenjata lain akan terus berlanjut, meskipun ada kesepakatan pembebasan sandera dan gencatan senjata sementara.
“Kami akan terus membentuk realitas keamanan baru agar tidak ada ancaman dari Jalur Gaza. Dengan kembalinya para sandera, kami telah memenuhi salah satu tujuan perang yang bersifat nasional, moral, dan Yahudi,” ujarnya.
Zamir menyebut Israel masih berada dalam ‘perang multifront’ dan tindakan IDF kini tengah “membentuk ulang strategi keamanan kawasan Timur Tengah untuk tahun-tahun mendatang.” Ia menegaskan bahwa tantangan besar masih menunggu dan IDF akan terus siaga demi keamanan dan kelangsungan hidup negara.
Perdebatan di Kabinet Netanyahu
Kesepakatan pembebasan sandera itu sendiri sempat menimbulkan perdebatan di kabinet Netanyahu. Dua menteri dari partai sayap kanan Religious Zionism, yakni Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Permukiman Orit Strock, menolak kesepakatan tersebut karena dinilai melemahkan posisi Israel.
Namun, kesepakatan tetap disahkan dalam rapat kabinet pada Jumat lalu sebagai bagian dari fase pertama rencana perdamaian Gaza yang didukung Presiden AS Donald Trump.
Di tengah sorotan global dan tekanan internasional untuk menghentikan perang, Netanyahu tampaknya tetap teguh pada posisinya: gencatan senjata bukan akhir, melainkan jeda untuk menghadapi babak baru konflik yang lebih besar.























