
Padahal, fasilitas kesehatan di seluruh Gaza berada di bawah tekanan karena kurangnya pasokan obat-obatan dan peralatan di rumah sakit tersebut.
WHO dalam postingannya di akun X menyebut rumah sakit di Gaza sangat membutuhkan, namun akses kemanusiaan yang semakin terbatas menghalangi mereka memasok kembali (obat obatan).
Israel mencegah pasien untuk mendapat perawatan menyelamatkan nyawa mereka.
PBB menyebut, sekitar 400 ribu orang dipaksa Israel pindah selama 3 minggu terakhir, dengan rumah sakit sering yang sering digunakan sebagai tempat berlindung selama konflik.
Terkait pengeboman RS Al Baptis Al-Ahli, lagi lagi Pasukan Pertahanan Israel (IDF) beralasan, penyerangan itu mereka gencarkan karena diduga rumah sakit dijadikan sebagai “pusat komando dan kontrol Hamas”.
Namun, pasukan Zionis tak mampu memberikan bukti atas alasan tersebut.
IDF menyebut langkah-langkah telah diambil sebelum serangan itu untuk mengurangi kerugian bagi warga sipil.
Militer Israel juga memperluas operasi daratnya jauh ke Gaza, menciptakan zona penyangga yang besar antara Jalur Gaza dan wilayah Israel.
Israel menekan ratusan ribu warga sipil ke wilayah yang semakin sempit di pantai Mediterania.
Di selatan, militer Israel mengumumkan telah merebut koridor Morag, memutus Rafah dari wilayah Gaza lainnya.
Israel mengatakan pihaknya memperluas operasinya di Gaza sebagai bagian dari upaya untuk memaksa Hamas membebaskan sandera yang tersisa yang ditawannya.
Sebelumnya, sandera kewarganegaraan Amerika-Israel Edan Alexander (21) mengajukan banding ke Presiden Donald Trump.
Pengajuan banding itu diungkapkan Alexander dalam sebuah video yang dirilis Hamas pada Sabtu, (12/4/25).
Dalam video berdurasi 3 menit, Alexander mengatakan dirinya yakin Trump akan berhasil membawanya keluar dari Gaza.
Alexander juga menyebut telah berada di Gaza selama 551 hari.
Rekaman video itu sepertinya direkam baru-baru ini. Sebab, video dirilis malam menjelang hari raya Paskah Yahudi.
Forum Keluarga yang Disandera dan Hilang meminta keluarga-keluarga Yahudi untuk menyediakan tempat kosong bagi para sandera untuk menandai waktu mereka di penangkaran.
Keluarga Alexander meminta media untuk tidak menyebarkan video tersebut. Sebagai gantinya, media meminta izin agar tangkapan layar Alexander dalam video dipublikasikan.
Editor: Fatmi Rahim






















