Gencatan Senjata Israel-Hamas Dimulai 19 Januari 2025, Sandera Akan Dibebaskan

Tak ada jeda bagi warga Palestina di Gaza walau kesepakatan gencatan senjata diumumkan pada Rabu (15/1) malam

Gencatan Senjata
Lebih dari 100 warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangan Israel sejak kesepakatan gencatan senjata diumumkan pada Rabu (15/1). (Foto: Reuter)
Gencatan Senjata
Einav Zangauker mendesak pemerintah Israel sepenuhnya menyepakati gencatan senjata untuk memastikan semua sandera dibawa pulang. (Foto: EPA)

Israel mengatakan 94 sandera masih ditahan Hamas, 34 di antaranya diduga tewas. Selain itu, ada 4 warga Israel yang diculik sebelum perang, 2 di antaranya tewas.

“Ini keputusan yang sulit, tapi kami memutuskan untuk mendukungnya karena penting bagi kami untuk melihat semua anak-anak, pria dan wanita, kembali ke rumah,” kata Menteri Kebudayaan Miki Zohar dari partai Likud yang dipimpin Netanyahu, jelang pemungutan suara pemerintah Israel atas kesepakatan tersebut.

“Kami berharap di masa mendatang kami dapat menyelesaikan pekerjaan di Gaza,” tambahnya.

Namun Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Itamar Ben-Gvir mengatakan dia ngeri dengan rincian perjanjian tersebut.

Sebab, teroris yang dijatuhi hukuman seumur hidup akan dibebaskan sebagai ganti sandera dan mendesak menteri lain bergabung dengannya dalam memberikan suara menentang perjanjian tersebut.

Pada Kamis (16/1), Ben-Gvir mengumumkan partainya Jewish Power akan meninggalkan koalisi pemerintahan jika kesepakatan itu disetujui.

Namun, ia mengatakan tidak akan menjatuhkan pemerintah di parlemen dan akan kembali jika perang melawan Hamas berlanjut dengan kekuatan penuh.

Penentang lain, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, politisi sayap kanan menyebut partai Zionisme Religiusnya akan berhenti jika perang tidak dilanjutkan setelah fase pertama berakhir.

Struktur 3 fase tersebut juga menimbulkan perpecahan dan kecemasan di antara beberapa keluarga sandera.

Mereka khawatir kerabat mereka akan ditelantarkan di Gaza setelah fase pertama selesai dan mendesak pemerintah untuk memastikan fase kedua dan ketiga juga dilaksanakan.

“Selama 469 hari orang-orang yang kami cintai ditelantarkan dalam tahanan dan sekarang akhirnya, ada harapan,” kata Einav Zangauker yang putranya yang berusia 25 tahun, Matan, diculik dari Kibbutz Nir Oz.

“Perjanjian ini harus dipatuhi sampai akhir, untuk membawa semua orang pulang dan mengakhiri perang memulangkan semua orang dan kembali ke keadaan normal adalah demi kepentingan Israel,” katanya.

Pemungutan suara pemerintah diharapkan dilakukan Kamis, tetapi pertemuan tersebut ditunda setelah Netanyahu menuduh Hamas mengingkari beberapa bagian kesepakatan. Tuduhan itu dibantah Hamas.

Pada dini hari Jumat (17/1), kantor perdana menteri mengumumkan bahwa tim negosiasi Israel di Doha telah menyelesaikan perjanjian tersebut.

Hamas juga mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa rintangan yang muncul terkait dengan ketentuan kesepakatan telah diselesaikan pada dini hari.