
Purwadi menyebutkan serangan Sadeng akhirnya dapat di redam oleh Adityawarman bersama pasukannya.
Pararaton juga mencatat, peperangan Sadeng dan Keta melawan Majapahit akhirnya dapat dipadamkan.
Dapat diartikan, Ra Kembar dalam cerita ini gagal memadamkan pemberontakan Sadeng
Usai peristiwa itu, Ratu Dyah Gitarja mengangkat Patih Gajah Mada menjadi Mahapatih Majapahit.
Sekedar tambahan, Sadeng, Keta dan Lamajang (Lumajang) merupakan wilayah taklukan Kerajaan Majapahit.
Ketiga wilayah itu merupakan daerah pelabuhan yang terhubung lewat jalur-jalur sungai. 3 daerah itu dijadikan sebagai bandar dagang dan pasokan stok pangan untuk Majapahit.
M. Nasruddin Anshoriy Ch & Dri Arbaningsih Soeleiman dalam Negara Maritim Nusantara: Jejak Sejarah yang Terhapus (2008) menyebut Sadeng terletak di selatan Probolinggo.
Ada pula yang meyakini bahwa Sadeng kini termasuk wilayah Jember bagian pesisir selatan.
2 pendapat itu saling terkait. Jember berada di sebelah selatan Probolinggo dan berbatasan dengan Lumajang yang sama-sama merupakan kawasan pantai selatan di Jawa Timur.
Sementara Keta, seperti yang disebutkan dalam Sejarah Birokrasi Pemerintahan Indonesia Dahulu dan Sekarang (1989) karya P.J. Suwarno, terletak di sekitar Besuki atau wilayah Situbondo di pesisir utara Jawa Timur. Situbondoberada di seberang selatan Pulau Madura.
Penulis: Erwin Syahril
Editor: Erwin Syahril





















