
Seperti dicatat Pararaton, terjadi persaingan antara Gajah Mada dan Ra Kembar dalam memperebutkan posisi panglima penumpasan pemberontakan Sadeng.
Ra Kembar beralasan, Sadeng dan Keta wajib dimusnahkan karena ingin melepaskan diri dari taklukan Majapahit.
Dirinya menganggap, Sadeng dan Keta bersiap melancarkan penyerangan dengan merekrut besar-besaran penduduk sipil menjadi prajurit militer.
Mulyono Atmosiswartoputra dalam Perempuan-Perempuan Pengukir Sejarah (2020) menyebutkan, agar pertikaian antara Ra Kembar kontra Gajah Mada itu tidak berujung gawat, maka Tribhuwana Tunggadewi memimpin langsung pasukan Majapahit untuk meredakan pergolakan di Sadeng dan Keta.
Pada versi lain, disebutkan Ratu Dyah Gitarja berangkat memimpin penyerangan Sadeng di didampingi sepupunya, Adityawarman dari kerajaan Melayu Dharmasraya di Sumatera.
Gitarja didampingi Gajah Mada, dan Adityawarman berhasil meredam pemberontakan Sadeng.
Dr Purwadi dalam buku Sejarah Raja-Raja Jawa menulis, adapun yang berhasil menumpas pemberontakan Sadeng adalah Adityawarman.
Adityawarman merupakan sahabat Gajah Mada dari tanah Melayu yang waktu itu berkunjung ke kerajaan Majapahit di Jawa.
Adityawarman mengambil peranan menyelamatkan muka Gajah Mada di hadapan Ratu Dyah Gitarja dan Arya Tadah.
Dalam perang, diceritakan tiba-tiba Adityawarman dan pasukannya lebih dahulu tiba di Sadeng dan bergerak menuju basis pemberontak.
Kedatangan Adityawarman dan pasukannya itu membuat pasukan Sadeng belum siap
menghadapi serangan kedatangan mendadak.
Pasukan Sadeng menyangka Gajah Mada yang bakal turun ke medan perang, tapi justru Adityawarman dan pasukannya.
Jayanegara, Raja ke 2 Majapahit Dibunuh Tabibnya, Gajah Mada dan Gayatri Terlibat?





















