
Sementara itu, Komisaris Independen bright PLN Batam Rizal Calvary mengatakan bukan hanya bantuan bibit dan keramba jaring apung saja yang diberikan oleh bright PLN Batam. “Pada bulan Oktober bright PLN Batam kembali memberikan bantuan untuk penyewaan gudang agar mempunyai tempat penampungan yang layak dan hasil rumput laut yang optimal sesuai dengan permintaan pasar. Terhitung hingga bulan Oktober kemarin, total rumput laut sargassum yang sudah di hasilkan oleh masyarakat adalah sebanyak 25.270kg/ bulannya,” beber Rizal.
“Komunitas nelayan rumput laut ini menjadi pilot project bright PLN Batam dan di harapkan dalam 3 tahun mendatang menjadi komunitas yang mandiri untuk meningkatkan kesejahteraan anggota dan menjadi role model pengelolaan rumput laut di Provinsi Kepulauan Riau bahkan Nasional. “Semoga bisa menjadi sumber ekonomi alternatif bagi rakyat untuk bertahan di tengah gejolak pandemi Covid-19, semoga rumput laut ini bisa membuat ekonomi rakyat terus bergerak tidak lagi bergantung tapi berpijak,” tutup Rizal.
Pak Dadang salah satu warga anggota nelayan rumput laut POSPERA binaan bright PLN Batam mengatakan pada masa pendemi Covid-19 ini pekerjaannya sebagai ojek laut sangat sepi. “Dengan adanya kegiatan pengumpulan rumput laut berasal dari sumber daya yang tersedia disekitar kita. Alhamdulillah program ini sangat membantu dan dapat menambah pendapatan kami di pulau Amat Belanda,” ucap Dadang.
Pada saat cuaca baik dan cerah, Pak Dadang dapat mengumpulkan lebih kurang 200 kg setiap minggunya, sehingga dalam satu bulan bisa mendapatkan tambahan pendapatan senilai Rp. 1.040.000.-
Pada kesempatan yang sama Direktur Utama bright PLN Batam, Budi Pangestu menjelaskan bahwa budi daya rumput laut tergolong aktivitas yang ramah lingkungan, karena tidak perlu menggunakan pakan atau pupuk kimia yang dapat menyebabkan pencemaran bahan organik ke perairan.
“Rumput laut sargassum merupakan kekayaan alam yang melimpah di perairan Kepulauan Riau dan belum di manfaatkan secara optimal oleh nelayan. Kelebihan Rumput laut sargassum diantaranya tidak perlu keranjang jaring apung dan perawatan khusus. Karena banyak tumbuh di perairan sekitar Pulau Amat Belanda dan Belakang Padang, kelompok nelayan dalam komunitas dapat mengambil sargassum kapan saja. Selama tetap mengikuti tata cara pemangkasan yang benar agar sargassum dapat tumbuh lagi, dipanen kembali, tanpa merusak habitat lingkungan bawah laut rumput sargassum tesebut,” pungkas Budi.
Sejalan dengan Budi, Corporate Secretary bright PLN Batam mengungkapkan program ini merupakan komitmen CSR bright PLN untuk ikut membantu masyarakat meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan di wilayah usaha bright PLN Batam. Bersama DPD POSPERA Kota Batam terus memberikan pendampingan dan pelatihan kepada nelayan rumput laut tentu akan mendorong peningkatan nilai tambah dan jual produk.
“Selain membuka lapangan kerja di wilayah kepulauan, bright PLN Batam juga berkeinginan untuk terus mengoptimalkan lahan tambak yang tak produktif melalui budi daya polikultur rumput laut. Sehingga membangun di kepulauan berbasis rumput laut menuju masyarakat yang maju dan mandiri,” tutup Tanto. (Erwin)




















