Anggaran Latsarmil calon manajer Kopdes Rp30 juta per orang total 35.476 peserta, inikah efisiensi?

TRIBUN-SULBAR.COM – Biaya yang dikeluarkan negara untuk Latihan dasar militer (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih mencapai Rp 30 juta per orang.

Hal ini diungkapkan Anggota Komisi I DPR Fraksi PDI-P Mayjen TNI (Purn) Tubagus Hasanuddin.

Sementara jumlah peserta calon Manajer Kopdes 35.476 orang.

Menurut TB Hasanuddin – sapaan akrabnya, latsarmil patut dipertanyakan relevansinya dengan pekerjaan mengurus koperasi, dan bahkan sudah mencatatkan kematian 5 peserta.

Kelimanya meninggal saat mengikuti Latsarmil yang dilaksanakan TNI, dikemas dalam program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).

Mereka meninggal di antaranya Yonanda Muhammad Taufik, Anisa Muyassaroh, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, Novia Rahmadhani dan Nola Dya Sari.

“Sekitar Rp 30 juta digunakan untuk pelaksanaan latihan militer, sedangkan Rp 15 juta untuk pembelajaran substansi koperasi,” ujar TB Hasanuddin dalam siaran pers, Senin (29/6/2026). 

TB Hasanuddin berada di Komisi I DPR, membidangi isu pertahanan hingga intelijen, serta bermitra dengan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI yang mengurusi latsarmil untuk calon manajer kopdes.  

Ia menuturkan, berdasarkan skema pelatihan selama 45 hari yang terdiri atas 30 hari latihan militer dan 15 hari pembelajaran substansi koperasi, porsi terbesar anggaran justru terserap untuk kegiatan kemiliteran.

Justru tidak berkaitan langsung dengan tugas pengelolaan koperasi. 

Maka dari itu, TB Hasanuddin menegaskan bahwa, akan jauh lebih efisien apabila komponen latihan militer dihapus, dan difokuskan sepenuhnya pada peningkatan kompetensi manajerial. 

“Berdasarkan kriteria pelatihan untuk tujuh hari itu menghabiskan Rp 5 juta per peserta, maka total kebutuhan anggaran selama 45 hari mencapai sekitar Rp 45 juta per orang. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 30 juta digunakan untuk pelaksanaan latihan militer, sedangkan Rp 15 juta untuk pembelajaran substansi koperasi,” ujar Hasanuddin dikutip dari Kompas.com. 

“Artinya, apabila latihan militer dihilangkan, negara dapat menghemat sekitar Rp 30 juta atau sekitar dua pertiga dari total biaya pelatihan setiap peserta,” sambungnya. 

Sehingga apabila skema tersebut diterapkan kepada seluruh peserta secara nasional yang mencapai 35.476 peserta, potensi penghematan anggaran dapat mencapai triliuan rupiah. 

Kementerian Pertahanan kemudian mengubah istilah Latsarmil menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial untuk calon manajer Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP). 

Perubahan istilah tersebut dilakukan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) setelah evaluasi terhadap latsarmil sebelumnya. 

“Sebagai tindak lanjut evaluasi bersama, Kemhan melakukan penyesuaian pendekatan kegiatan. Terminologi dan pelaksanaan kegiatan saat ini diarahkan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial, bukan Latsarmil lagi,” kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait kepada Kompas.com, Senin (29/6/2026). 

Lebih Baik Dihentikan

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), Dr. Wahyu Maulid Adha menyayangkan insiden wafatnya lima calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Kelimanya meninggal saat mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil) yang dilaksanakan TNI, yang dikemas dalam program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).

Mereka meninggal di antaranya Yonanda Muhammad Taufik, Anisa Muyassaroh, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, Novia Rahmadhani dan Nola Dya Sari.

Mereka meninggal usai mendapat gemblengan fisik Latsarmil.

TNI beralasan Latsarmil ini untuk membentuk kedisiplinan dan karakter para calon manajer kopdes.

Wahyu menilai, manajer kopdes tidak penting dilatih militer walau dengan dalih melatih kedisiplinan dan loyalitas.

“Harusnya tidak diarahkan ke latihan fisik,” kata Wahyu, Minggu (28/6/2026).

Jauh lebih penting kata dia, para calon manajer kopdes diberikan pemahaman relevan dengan ilmu kompetensi bisnis dan ilmu manajerial yang terukur.

“Seperti Manajemen Operasional & Strategi pemasaran, ​Transformasi digital dalam pelayanan koperasi agar lebih efisien, ​manajemen Risiko dan

​Community Development,” ujarnya.

Dia menyesalkan kejadian ini, padahal mereka yang mendaftar banyak anak-anak muda yang yang sedang mencari pekerjaan.

Ditambah kondisi fisik tiap individu berbeda-beda.

“Kenapa harus dipaksakan sekali Latsarmil ini, seakan-akan kalau tidak dilatih militer mereka tidak kompeten menjadi manajer kopdes,” sesalnya. (*)

Sebagian Berita ini telah tayang di Kompas.com