“Posyandu jangan sampai berhenti, kegiatan menjaga kesehatan ibu dan anak harus terus dilakukan, jika perlu pakai cara jemput bola dengan mengunjungi anak dan ibu kerumah masing-masing,” kata Nevi.
Pengurus Persatuan Dokter Keluarga Indonesia Sumatera Utara Dr.dr. Isti Ismiati Fujiati mengatakan, sebanyak 51 orang PDKI akan bekerja di puskesmas, klinik, dan layanan kesehatan lainnya.
Sebelum peserta turun ke lapangan, sudah terlebih dahulu diberikan pembekalan. Perannya akan menjadi pelengkap pusat layanan kesehatan di tengah Pandemi Covid-19.
“Perilaku PHBS dan Physical Distancing pada kelompok Komorbid (Diabetes dan Hipertensi) serta Tuberculosis, dan kelompok rentan (ibu hamil, ibu menyusui, anak dan lansia). Nantinya kita mengharapkan akan tersedianya data epidemiologis lokal yang dapat dimanfaatkan pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam menyusun kebijakan berbasis bukti terkait infeksi Covid-19 pada kelompok diatas,” kata Ismiati.
Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc mengatakan, PDKI harus memahami Covid-19 dari perspektif dokter keluarga.
Andani mengemukakan, secara psikologis pasien Covid-19 mengalami stres, depresi dan tertekan. Maka dibutuhkan orang-orang yang mampu mengeluarkan pasien dari tekanan tersebut.
“Dokter keluarga harus bisa menjadi konsultan medis bagi pasien. Kita berharap dokter keluarga tidak ada yang takut duluan dengan Covid-19, Dokter keluarga harus bisa memotivasi pasien,” tutup Dr.Andani.
Penulis: Niko Irawan
Editor: Erwin Syahril






















