Berita  

Windah Basudara Bantah Tuduhan Buzzer Setelah Suarakan Karhutla

Panbil Mall

Brando Franco Windah, kreator konten yang lebih dikenal dengan nama Windah Basudara, menjadi perhatian warganet setelah ia mengangkat isu kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Bukan dukungan yang dominan ia terima, melainkan tudingan bahwa dirinya bertindak sebagai buzzer dan mendapat bayaran dari pihak tertentu. Windah menolak tuduhan itu dan menegaskan ia tidak menerima uang dari siapa pun, termasuk dari pihak yang dikaitkan dengan politikus Anies Baswedan.

Perdebatan ini mencuat di media sosial setelah sejumlah komentar menyerang sikap Windah saat membicarakan karhutla. Salah satu tanggapan yang paling menonjol datang dari akun Instagram @vanhrsf, yang mempertanyakan motif Windah dan menuduhnya dibayar untuk menjalankan agenda tertentu. Komentar itu memancing reaksi karena menyentuh isu sensitif yang kerap muncul dalam percakapan publik di internet, yakni soal buzzer dan kepentingan politik.

Windah kemudian merespons lewat akun Instagram @windahbasudara. Dalam balasannya, ia menyinggung pola komentar yang menurutnya serupa satu sama lain dan terlihat tidak alami. Ia juga menyoroti klaim dari sebagian akun yang menyebut diri sebagai penonton lama, namun dinilainya tidak benar-benar mengikuti kontennya. Reaksi itu menunjukkan bahwa Windah memilih menjawab tudingan tersebut secara terbuka, alih-alih membiarkannya berkembang tanpa klarifikasi.

Dalam unggahannya, Windah menulis, “Tapi gwe akui buzzer ini lumayan research, mereka tau gw ga buka saweria, dan banyak komen template yang ngaku penonton lama padahal mah gak nonton,”. Pernyataan itu sekaligus menjadi bantahan atas anggapan bahwa ia menerima dukungan finansial dari pihak-pihak yang disebut para penuduh. Ia menegaskan bahwa tuduhan semacam itu tidak sesuai dengan kenyataan yang ia alami.

Nama Windah Basudara sendiri sudah lama dikenal luas di kalangan pengguna internet Indonesia. Ia membangun popularitas melalui konten permainan dan interaksi dengan pengikutnya di berbagai platform digital. Karena memiliki jangkauan besar, setiap sikap atau pernyataannya kerap memantik perhatian, terutama ketika berkaitan dengan isu sosial yang sedang ramai dibahas publik seperti karhutla.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana suara figur publik di ruang digital bisa dengan cepat bergeser menjadi polemik. Ketika seseorang menyampaikan keprihatinan terhadap persoalan lingkungan, respons yang muncul tidak selalu berupa dukungan, tetapi juga kecurigaan terhadap motif di balik pernyataannya. Dalam situasi Windah, bantahan yang ia sampaikan menjadi upaya untuk meluruskan tudingan sekaligus menegaskan posisinya di tengah ramainya percakapan di media sosial.