Patrolmedia, Washington DC – Nasib naas dialami Letnan Kolonel Arturo Lincón dan puluhan prajurit Amerika Serikat (AS). Ia lolos dari maut akibat ditembak drone Iran di Kuwait.
Mereka justru harus berjuang sendiri mendapatkan perawatan medis dari militernya.
Lincón terkena ledakan dari jarak dekat hingga serpihan peluru menembus rahang dan lehernya. Pria yang bertugas di Pelabuhan Shuaiba ini hampir terkena stroke dan mengalami kerusakan otak.
Namun, bukannya dirawat intensif di rumah sakit militer utama AS di Jerman, Lincón justru dikirim ke barak dan disuruh mendaftar rawat jalan sendiri.
“Saya merasa sendirian, setidaknya begitulah rasanya,” ujar veteran perang Irak dan Afghanistan tersebut, dikutip dari APNews, Selasa (6/10/2026).
Pengalaman pahit ini bukan cuma dialami Lincón. Sembilan prajurit aktif AS buka suara kepada Associated Press (AP) terkait bobroknya penanganan medis militer.
Beberapa masalah utama yang mereka hadapi antara lain:
Pemeriksaan Lambat: Mayor Stephen Ramsbottom harus menunggu lebih dari empat bulan hanya untuk melihat hasil rontgen otak (MRI).
Evakuasi Seadanya: Korban luka dievakuasi menggunakan pesawat kargo tanpa fasilitas memadai. Banyak prajurit terpaksa duduk di lantai berjam-jam dalam kondisi luka parah.
Kesalahan Birokrasi: Korban serangan tidak dicatat sebagai korban perang karena kesalahan kode data, sehingga hak perawatan rumah sakit mereka hangus.
Penutupan sejumlah fasilitas medis utama AS di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir membuat evakuasi darurat semakin kacau.
Saat serangan terjadi, para tentara bahkan harus menolong satu sama lain dan mengandalkan Google Maps untuk mencari rumah sakit terdekat milik pemerintah Kuwait.
Pihak Pentagon dan Angkatan Darat AS menolak berkomentar banyak terkait temuan ini.
Pentagon hanya mengklaim bahwa semua prajurit yang terluka sudah dievaluasi sesuai prosedur dan standar medis yang berlaku.
Kini, sebagian besar korban serangan tersebut masih berjuang pulih dari cedera otak dan fisik.
Mereka mengaku kecewa karena janji jaminan keselamatan dari militer AS seolah sirna begitu saja saat mereka membutuhkan bantuan.
(Kml)























