Rupiah Tertekan di Awal Perdagangan, Dolar AS Unggul di Tengah Ketidakpastian Global
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuka perdagangan hari ini, Rabu (3/6/2026), dengan tren pelemahan. Data terkini menunjukkan bahwa mata uang Garuda diperdagangkan pada angka Rp17.887 per dolar AS, mencatat penurunan sebesar 0,39%. Performa rupiah ini berbanding terbalik dengan sejumlah mata uang negara-negara Asia lainnya yang justru menunjukkan penguatan.
Mata Uang Asia Menguat, Rupiah Terkoreksi
Di tengah pelemahan rupiah, beberapa mata uang regional Asia justru menunjukkan vitalitasnya. Dolar Taiwan dibuka menguat tipis sebesar 0,05%, diikuti oleh dolar Singapura yang naik 0,02%. Won Korea Selatan juga mencatat kenaikan 0,02%, sementara yen Jepang menguat 0,06%. Dolar Hong Kong pun tidak ketinggalan, dengan apresiasi 0,01%. Satu-satunya mata uang Asia yang bernasib serupa dengan rupiah adalah baht Thailand, yang tercatat mengalami penurunan sebesar 0,06%.
Faktor Geopolitik Global Membebani Rupiah
Menurut pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, sentimen pasar yang cenderung menekan nilai tukar rupiah saat ini dipicu oleh ketidakpastian yang menyelimuti perkembangan konflik geopolitik global. Pernyataan Presiden AS, Donald Trump, mengenai kelanjutan pembicaraan dengan Iran, yang disambut dengan pernyataan penangguhan negosiasi dari pihak Teheran, menciptakan kebingungan di pasar.
Ibrahim menjelaskan bahwa Trump sempat menyatakan tidak keberatan jika pembicaraan dengan Iran berakhir. Namun, tak lama kemudian, melalui unggahan di media sosial, ia mengindikasikan bahwa negosiasi dengan Iran masih berlanjut dan ada harapan tercapainya kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata serta membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat.
“Lebanon pada hari Senin mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel, yang akan menjadi de-eskalasi terbatas dari konflik yang telah memperparah perang yang lebih luas dengan Iran,” ujar Ibrahim, menyoroti dinamika regional yang turut memengaruhi sentimen pasar.
Data Ekonomi Domestik Berikan Sinyal Campuran
Selain sentimen global, pasar domestik juga mencermati sejumlah data ekonomi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). BPS melaporkan bahwa inflasi pada bulan Mei 2026 tercatat sebesar 3,08% secara tahunan (YoY). Sementara itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) menunjukkan sedikit kenaikan, dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026.
Dari sektor riil, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dilaporkan menunjukkan perbaikan. Indikator ini naik ke level 50,0 pada Mei 2026, setelah sebelumnya terkontraksi di angka 49,1 pada bulan April 2026. Angka 50,0 menandakan titik impas, di mana aktivitas manufaktur tidak lagi mengalami kontraksi.
“Kendati menunjukkan sinyal positif, sektor industri masih dibayangi tekanan biaya bahan baku yang melonjak dan gangguan pasokan yang menahan laju produksi,” kata Ibrahim, memberikan pandangan lebih dalam mengenai kondisi sektor manufaktur. Kenaikan biaya bahan baku dan hambatan pasokan menjadi tantangan tersendiri bagi industri untuk dapat berekspansi lebih jauh.
Proyeksi Rupiah: Fluktuatif dengan Kecenderungan Melemah
Menyikapi berbagai sentimen yang memengaruhi pasar, Ibrahim memproyeksikan bahwa rupiah kemungkinan akan terus berada di bawah tekanan dan ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Rabu (3/6/2026).
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.840 sampai Rp17.900,” tandasnya, memberikan panduan rentang pergerakan nilai tukar rupiah untuk esok hari. Ketidakpastian global dan tantangan di sektor riil menjadi faktor utama yang diperkirakan akan terus membayangi pergerakan rupiah dalam waktu dekat.






















