Sinyal Stabilisasi Sektor Manufaktur Indonesia: Tantangan dan Harapan di Tengah Tekanan Biaya
Indikator Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Mei 2026 mencatat angka 50,0, naik tipis dari 49,1 pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini, menurut para pelaku usaha, memberikan sinyal awal stabilisasi setelah periode kontraksi. Namun, angka yang berada tepat di garis batas antara kontraksi dan ekspansi ini masih memerlukan pencermatan lebih lanjut untuk memastikan pemulihan yang berkelanjutan dan solid.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, menjelaskan bahwa posisi PMI di angka 50 masih menunjukkan kondisi yang belum sepenuhnya pulih. “Kami memandang kondisi saat ini lebih mencerminkan proses stabilisasi dibandingkan fase ekspansi yang sudah solid,” ujarnya.
Komponen PMI yang Masih Menunjukkan Tekanan
Meskipun ada perbaikan, beberapa komponen dalam survei PMI masih menunjukkan adanya tekanan yang signifikan. Output manufaktur tercatat mengalami penurunan selama tiga bulan berturut-turut. Hal ini diikuti oleh penurunan dalam pembelian bahan baku, berkurangnya inventori bahan baku, penurunan jumlah tenaga kerja, serta kontraksi ekspor yang merupakan yang terdalam sejak Agustus 2021.
- Penurunan Output Manufaktur: Produksi industri masih belum pulih sepenuhnya, menandakan adanya hambatan dalam proses produksi.
- Pembelian Bahan Baku Menurun: Perusahaan mengurangi pembelian bahan baku, kemungkinan karena ketidakpastian permintaan atau keterbatasan pasokan.
- Inventori Input Berkurang: Ketersediaan bahan baku di tingkat perusahaan juga mengalami penurunan.
- Tenaga Kerja Berkurang: Indikasi perlambatan aktivitas yang berujung pada pengurangan tenaga kerja.
- Kontraksi Ekspor Dalam: Sektor ekspor menghadapi tantangan berat, mencatat penurunan terparah sejak pertengahan 2021.
INFOGRAFIK: Badan Ekspor di Tengah Gejolak Harga Sawit
Penyangga Utama Pemulihan: Permintaan Domestik
Perbaikan PMI pada bulan Mei ini sebagian besar ditopang oleh peningkatan permintaan domestik dan pertumbuhan pesanan baru yang telah terjadi selama dua bulan berturut-turut. Ini menunjukkan bahwa pasar domestik masih menjadi tulang punggung yang kuat bagi aktivitas manufaktur nasional.
Namun, perbaikan ini belum merata karena permintaan dari pasar eksternal masih menghadapi tekanan yang cukup besar. Ketidakpastian global, gejolak geopolitik, dan perlambatan ekonomi di berbagai negara tujuan ekspor terus membebani kinerja ekspor sektor manufaktur Indonesia.
Tekanan Biaya Produksi Meningkat Tajam
Di sisi lain, dunia usaha juga dibebani oleh peningkatan biaya produksi yang semakin besar. Berdasarkan hasil survei PMI, inflasi biaya input pada Mei 2026 tercatat sebagai yang tertinggi sejak tahun 2013. Kenaikan biaya ini dipicu oleh beberapa faktor, antara lain:
- Kenaikan Harga Bahan Baku: Harga bahan baku mengalami lonjakan signifikan.
- Keterbatasan Pasokan: Pasokan bahan baku produksi menjadi terbatas.
- Gangguan Rantai Pasok Global: Rantai pasok global yang masih terganggu turut memperparah kondisi.
Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Biaya Impor
Tekanan biaya ini diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Apindo mencatat bahwa sekitar 70% kebutuhan bahan baku dan barang antara (intermediate goods) industri nasional masih bergantung pada impor. Oleh karena itu, fluktuasi nilai tukar memiliki dampak langsung dan signifikan terhadap struktur biaya produksi perusahaan.
Hingga awal Juni 2026, rupiah masih menunjukkan tren pelemahan dan bergerak di atas level Rp17.850 per dolar AS. Stabilitas nilai tukar menjadi salah satu faktor krusial yang akan menentukan keberlanjutan pemulihan sektor manufaktur di masa mendatang.
Sektor yang Berpotensi Menjadi Motor Pertumbuhan
Apindo memperkirakan sektor-sektor yang ditopang oleh konsumsi domestik memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi, asalkan PMI Manufaktur RI dapat bergerak secara konsisten ke zona ekspansi dalam beberapa bulan ke depan.
- Industri Makanan dan Minuman: Sektor ini memiliki permintaan domestik yang stabil dan cenderung meningkat.
- Sektor Terkait Konsumsi Rumah Tangga: Produk-produk yang dibutuhkan sehari-hari oleh rumah tangga diperkirakan akan tetap kuat.
- Investasi Domestik: Peningkatan investasi di dalam negeri juga akan mendorong aktivitas sektor manufaktur terkait.
Selain itu, sektor-sektor yang memiliki tingkat kandungan lokal (domestic content) yang lebih tinggi dinilai akan lebih resilien atau mampu bertahan terhadap tekanan nilai tukar dan ketidakpastian global.
Analisis Lebih Dalam dari S&P Global
Sebelumnya, data dari S&P Global menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur Indonesia mengalami stabilisasi pada Mei 2026 setelah sebelumnya berada dalam fase kontraksi. PMI Manufaktur Indonesia naik dari 49,1 pada April menjadi 50,0 pada Mei. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa kondisi operasional industri mulai stabil meskipun dihadapkan pada tekanan biaya produksi yang meningkat tajam dan gangguan pasokan bahan baku yang masih berlanjut.
Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence, menyatakan bahwa ekonomi manufaktur Indonesia masih berada di bawah tekanan pada bulan Mei. “Produksi tertahan oleh kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan ketersediaan input,” jelasnya.
Data S&P Global juga mengonfirmasi bahwa tekanan biaya pada industri manufaktur Indonesia meningkat sangat tajam di bulan Mei. Inflasi biaya input tercatat sebagai kenaikan tertajam kedua sejak survei ini dimulai pada April 2011, hanya sedikit di bawah rekor yang tercatat pada September 2013.
Lonjakan biaya ini utamanya disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan pasokan input produksi. Kondisi ini secara signifikan meningkatkan beban operasional perusahaan dan sekaligus menekan kemampuan produksi di berbagai sektor manufaktur.
Meskipun perusahaan melaporkan kenaikan penjualan yang lebih kuat, Bhatti menambahkan bahwa hal ini lebih banyak mencerminkan upaya pelanggan untuk menambah stok di tengah gangguan harga dan pasokan. Perusahaan-perusahaan juga menghadapi kesulitan dalam mendapatkan bahan baku, yang berujung pada penurunan aktivitas pembelian dan pemanfaatan stok yang sudah ada.
Aturan Baru Pajak UMKM: Dokter hingga Selebgram Tak Lagi Nikmati PPh Final 0,5%
Dalam hal produksi, output manufaktur Indonesia kembali mengalami penurunan pada bulan Mei, meskipun laju kontraksinya lebih moderat dibandingkan bulan sebelumnya. Ini menandai bulan ketiga berturut-turut produksi mengalami penurunan, yang terutama dipengaruhi oleh tingginya biaya bahan baku dan keterbatasan pasokan yang menghambat proses produksi. Dalam situasi seperti ini, perusahaan terpaksa mengandalkan persediaan barang jadi untuk memenuhi pesanan yang masuk.
Trump Teken Aturan Baru, Pemerintah AS Bisa Cek AI Canggih Sebelum Dirilis






















