Tren Pariwisata Indonesia: Lonjakan Wisman, Penurunan Wisnas ke Luar Negeri
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan data terbaru mengenai pergerakan wisatawan yang menunjukkan tren yang kontras antara kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia dan perjalanan wisatawan nasional (wisnas) ke luar negeri. Pada April 2026, Indonesia berhasil mencatat peningkatan signifikan dalam jumlah kedatangan turis asing, sementara warga negara Indonesia justru menunjukkan penurunan dalam frekuensi perjalanan liburan ke luar negeri.

Kunjungan Wisman ke Indonesia Terus Bertumbuh
Pada bulan April 2026, Indonesia menyambut kedatangan sebanyak 1,25 juta wisatawan mancanegara. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan sebesar 7,22% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, April 2025, yang mencatat 1,16 juta kunjungan.
Lebih lanjut, jika kita melihat data kumulatif sejak Januari hingga April 2026, jumlah total kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 4,68 juta orang. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 8,24% dibandingkan dengan empat bulan pertama tahun 2025. Pertumbuhan yang stabil ini mengindikasikan bahwa Indonesia terus menjadi destinasi menarik di mata turis internasional.
Perjalanan Wisnas ke Luar Negeri Mengalami Kontraksi
Berbanding terbalik dengan tren kunjungan wisman, jumlah warga negara Indonesia yang memilih untuk berlibur ke luar negeri pada April 2026 mengalami penurunan. BPS mencatat bahwa perjalanan wisnas ke luar negeri pada bulan tersebut mencapai 582,08 ribu. Angka ini turun cukup drastis sebesar 30,54% dibandingkan dengan April 2025.
Penurunan ini juga berdampak pada capaian kumulatif selama empat bulan pertama tahun 2026. Dari Januari hingga April 2026, total perjalanan wisnas ke luar negeri tercatat sebanyak 2,64 juta perjalanan. Angka ini mengalami kontraksi sebesar 3,49% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Faktor Pemicu Penurunan Perjalanan Wisnas
Salah satu faktor utama yang diidentifikasi oleh BPS sebagai penyebab penurunan perjalanan wisnas ke luar negeri pada April 2026 adalah perbedaan waktu perayaan Hari Raya Idul Fitri.
- Perbedaan Jadwal Libur Lebaran: Pada tahun 2025, libur Lebaran jatuh pada bulan April. Sementara itu, pada tahun 2026, perayaan Lebaran bergeser ke bulan Maret. Pergeseran jadwal libur panjang ini secara alami mempengaruhi pola perjalanan masyarakat, termasuk rencana liburan ke luar negeri.

Dampak pada Tingkat Hunian Hotel
Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia turut memberikan dampak positif terhadap tingkat penghunian kamar (TPK) di hotel-hotel berbintang.
- Hotel Berbintang: Pada April 2026, TPK hotel berbintang secara nasional tercatat sebesar 48,83%. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 1,02 poin dibandingkan bulan sebelumnya, Maret 2026. Meskipun demikian, jika dibandingkan dengan April 2025, TPK hotel berbintang pada April 2026 sedikit mengalami penurunan tipis sebesar 0,05 poin.
- Provinsi dengan TPK Tertinggi: Bali kembali menunjukkan dominasinya sebagai destinasi wisata unggulan dengan TPK hotel berbintang mencapai 57,94%. Diikuti oleh Kalimantan Timur dengan 56,40%, dan DKI Jakarta dengan 55,53%.
- Hotel Nonbintang: Tren kenaikan juga terlihat pada hotel nonbintang. Pada April 2026, TPK hotel nonbintang mencapai 25,83%, yang merupakan kenaikan sebesar 1,31 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Secara keseluruhan, data BPS untuk April 2026 melukiskan gambaran yang menarik dalam industri pariwisata Indonesia. Di satu sisi, potensi pariwisata domestik masih terus dikembangkan dengan meningkatnya kedatangan turis asing. Di sisi lain, pergeseran pola liburan warga negara Indonesia ke luar negeri menunjukkan adanya dinamika tersendiri yang perlu dicermati lebih lanjut, termasuk faktor-faktor ekonomi dan preferensi perjalanan yang terus berkembang. Peningkatan tingkat hunian hotel, baik berbintang maupun nonbintang, menegaskan bahwa sektor akomodasi masih menjadi penerima manfaat langsung dari geliat aktivitas pariwisata di tanah air.






















