Berita  

Puncak Komunikasi Publik 2026: Empat Pakar Kelola Isu

Sinergi Pengelolaan Isu dan Reputasi di Era Digital: Kunci Kepercayaan Publik di Kalimantan Selatan

Banjarmasin – Memasuki era digital yang serba cepat dan terhubung, pengelolaan isu serta reputasi menjadi garda terdepan dalam menjaga kepercayaan publik terhadap pemerintah. Kesadaran akan pentingnya hal ini mendorong digelarnya Public Communication Summit 2026 dengan tema “Sinergi Pengelolaan Isu dan Reputasi di Era Digital” di Mahligai Pancasila, Banjarmasin.

Acara ini dihadiri oleh para kepala daerah dan kepala dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) se-Kalimantan Selatan. Lebih dari sekadar forum diskusi, kegiatan ini juga menjadi ajang penandatanganan komitmen bersama. Komitmen ini bertujuan untuk mewujudkan komunikasi publik yang lebih konsisten dan selaras antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat melalui narasi yang dibangun secara efektif di media massa dan media sosial.

Empat Pilar Keahlian dalam Mengelola Isu dan Reputasi Digital

Untuk membekali para peserta dengan strategi terkini, Public Communication Summit 2026 menghadirkan empat narasumber ahli yang akan membagikan wawasan mendalam. Keempat pakar ini akan mengupas tuntas berbagai aspek dalam mengelola isu yang krusial untuk menjaga citra positif lembaga atau instansi di tengah dinamika era digital.

  • Membaca Common Sense Publik: Strategi Badan Komunikasi Pemerintah RI Mengelola Isu dan Reputasi Dalam Era Digital
    Narasumber pertama, Dudy Rudianto, Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, akan mewakili Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari. Beliau akan memaparkan strategi yang digunakan oleh Bakom dalam membaca pemahaman publik atau common sense. Pemahaman ini sangat penting untuk merancang pendekatan yang tepat dalam mengelola isu dan menjaga reputasi di ranah digital.
    Tugas dan fungsi Bakom sendiri adalah memberikan dukungan kepada Presiden dalam mengorkestrasi komunikasi dan informasi terkait kebijakan serta program strategis pemerintah kepada masyarakat.

  • Media, Gen Alpha, dan Kecerdasan Buatan (AI)
    Selanjutnya, Dahlan Dahi, CEO Tribunnews dan Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, akan menyajikan materi bertajuk “Media, Gen Alpha dan AI”. Sebagai pimpinan salah satu media online terbesar di Indonesia, Dahlan akan berbagi perspektif mengenai bagaimana media memilih dan membingkai isu agar menarik perhatian publik. Ia juga akan menyoroti pentingnya membangun hubungan yang kuat dan profesional antara pemerintah dengan media.

  • Realita Komunikasi Publik Hari Ini: Tiga Pergeseran Krusial
    Kepala Subdirektorat Humas Direktorat P2Humas (DJP), Ani Natalia Pinem, akan membawa audiens menyelami “Realita Komunikasi Publik Hari Ini”. Dalam paparannya, Ani akan mengupas tiga pergeseran fundamental yang secara signifikan mengubah cara isu bekerja dan menyebar di era digital:

    • Kecepatan Mengalahkan Verifikasi: Fenomena ini terjadi ketika tangkapan layar (screenshot) sebuah informasi dapat tersebar luas dalam hitungan menit, sementara klarifikasi resmi seringkali datang terlambat, setelah persepsi publik terlanjur terbentuk.
    • Fragmentasi Audiens: Di era digital, tidak ada lagi satu kanal tunggal yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Setiap platform media sosial atau online memiliki bahasa, ritme, dan komunitasnya sendiri, yang menuntut pendekatan komunikasi yang berbeda-beda.
    • Kepercayaan yang Harus Dibuktikan Ulang: Otoritas atau jabatan tidak lagi secara otomatis menjamin pesan pemerintah akan didengar. Setiap pesan harus diuji konsistensinya dengan pengalaman nyata yang dirasakan oleh masyarakat.

    Salah satu poin penting yang akan dibahas oleh Ani adalah Matriks ARAH dalam merespons isu. Matriks ini merujuk pada empat langkah strategis: Akui, Respons, Arahkan, dan Hadir.

  • Beyond Virality: Bercerita di Media Sosial, Membangun Makna di Ruang Publik
    Narasumber terakhir, Jojo S Nugroho, seorang konsultan komunikasi krisis dan strategic public relations untuk korporasi, kementerian, dan lembaga, sekaligus dosen Public Relations UI, akan membahas topik “Beyond Virality: Bercerita di Media Sosial, Membangun Makna di Ruang Publik”. Jojo akan menyoroti pentingnya mengenali audiens. Menurutnya, jika audiens cenderung visual dan emosional, maka cara bercerita pun harus disesuaikan agar menjadi visual dan emosional pula.

Membentuk Komunikasi Publik yang Adaptif dan Terintegrasi

Public Communication Summit 2026 di Mahligai Pancasila ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga menjadi katalisator untuk membentuk komunikasi publik yang adaptif dan terintegrasi di seluruh Kalimantan Selatan. Di tengah maraknya kehadiran media sosial dan platform online, kemampuan untuk merespons isu secara cepat, tepat, dan empatik menjadi kunci utama dalam menjaga sinergi antara pemerintah dan masyarakat, serta memperkuat fondasi kepercayaan publik yang berkelanjutan.

Selain para kepala daerah dan kepala dinas Kominfo, acara ini juga dihadiri oleh perwakilan dari berbagai elemen penting, termasuk kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemprov Kalsel, pimpinan media massa, serta perwakilan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM). Kehadiran beragam pemangku kepentingan ini menegaskan komitmen bersama untuk membangun ekosistem komunikasi publik yang lebih kuat dan responsif di era digital.