Patrolmedia – Peringatan Hari Lansia Nasional yang jatuh pada hari ini, Jumat (29/5/2026), menjadi momentum penting untuk memahami dinamika kesehatan kelompok lanjut usia.
Seiring bertambahnya usia, fenomena seperti penurunan daya ingat (pikun) dan gerak tubuh yang melambat sering kali dianggap sebagai hal biasa.
Tapi, apakah sebenarnya penjelasan medis di balik kondisi ini?
Dokter spesialis neurologi (saraf), Dr. dr. H. Andi Sofyan Hasdam, Sp.N, membeber fenomena kemunduran fisik tersebut terjadi akibat proses biologis yang berlangsung di tingkat seluler tubuh manusia.
Secara ilmiah, tubuh manusia mengalami kematian sel setiap harinya.
Pada usia muda atau produktif, sel-sel yang mati iti bakal langsung digantikan oleh sel-sel baru yang sehat lewat proses regenerasi yang cepat.
Namun, siklus alami ini mengalami penurunan drastis saat seseoran sudah masuk usia senja.
“Pada lansia, kemampuan mengganti sel ini sudah semakin menurun. Makanya kita melihat pada lansia sudah mulai terjadi penurunan daya ingat, pikun, kemudian gerak lambat, otot-otot sudah mulai mengecil karena memang kemampuan pergantian selnya menurun,” kata dr. Andi Sofyan, dalam unggahan video singkatnya, dikutip Jumat.
Menurut dr. Andi, melambatnya regenerasi sel saraf dan penyusutan massa otot ini kian diperberat dengan munculnya berbagai penyakit degeneratif kronis.
Beberapa di antaranya yang kerap mengintai kelompok pra-lansia dan lansia adalah tekanan darah tinggi, penyakit jantung, gangguan ginjal, hingga kencing manis (diabetes).
Kendati penurunan fungsi sel tak dapat disetop sepenuhnya, dr. Andi mengatakan dampaknya bisa diperlambat agar lansia tetap mandiri dan punya kualitas hidup yang baik.






















