Kegiatan Nobar Film Dokumenter Pesta Babi di Hulu Sungai Selatan
Di tengah suasana yang serius, para pemuda dan mahasiswa di Hulu Sungai Selatan (HSS) mengikuti kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi yang belakangan menjadi perbincangan hangat di media sosial. Kegiatan ini digelar oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kandangan bersama Pengurus Cabang Pemuda Muslimin Indonesia (PMI) HSS di Sekretariat HMI Cabang Kandangan pada Rabu (20/5/2026) malam.
Selama acara berlangsung, suasana terlihat kondusif dan penuh antusiasme. Setelah menonton film tersebut, peserta juga mengikuti diskusi bersama. Dalam flyer nobar yang bertema “Kolonialisme di Zaman Kita”, juga dilaksanakan open donasi bagi masyarakat Papua dan Palestina.
Ketua HMI Cabang Kandangan, Ridha, menjelaskan bahwa nobar ini dihadiri oleh kader-kader HMI, pengurus cabang, serta sekretariat. Acara ini diinisiasi oleh PC PMI Kandangan. Setelah menonton film dokumenter Pesta Babi, Ridha memberikan tanggapan mengenai pentingnya kegiatan seperti ini sebagai wadah untuk memperluas perspektif.
“Kita harus kritis dalam menanggapi isu sosial dan lingkungan yang berkembang saat ini. Saya berharap mahasiswa di HSS lebih melek dan mampu menanggapi isu-isu dengan cerdas. Mereka perlu memilah mana yang baik dan mana yang buruk,” ujarnya.
Ridha berharap setelah nobar, para mahasiswa memiliki pandangan baru yang tidak terpaku pada satu narasi saja. Ia menekankan pentingnya pendidikan kritis agar mahasiswa dapat mengevaluasi informasi secara mandiri.
Di waktu yang sama, Ketua PC PMI HSS, Al Ikhwan Humaidi, menyampaikan pandangan pribadinya. Menurutnya, nobar ini membuka ruang untuk melihat data, fakta, dan opini dari berbagai sudut pandang. Ia menilai bahwa acara ini hanya merupakan salah satu perspektif, tetapi penting untuk terus berdiskusi dan melihat sudut pandang yang lebih luas.
“Kita ingin mengetahui bagaimana kemauan pemerintah dalam merusak atau menciptakan lapangan pekerjaan serta pemerataan pembangunan,” ujarnya.
Dari sisi budaya, ia melihat bahwa di Papua, masyarakat terkesan lambat dan jauh dari perhatian pemerintah. Namun, dari sudut pandang lain, pemerintah mungkin ingin merubah hal tersebut agar lebih maju seperti di Pulau Jawa. Meski begitu, ia menegaskan bahwa tidak boleh mengabaikan adanya tindakan negatif seperti pembabatan hutan yang perlu dikaji lebih lanjut.
“Mungkin hal-hal tersebut tidak tersampaikan dalam film tadi. Oleh karena itu, setelah nobar, teman-teman mahasiswa bisa mengkaji fakta dan data lainnya,” tambahnya.
Pihaknya berharap ada diskusi lanjutan dari nobar ini di kesempatan lainnya. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi awal dari upaya untuk meningkatkan kesadaran dan kritisitas para pemuda terhadap isu-isu sosial dan politik yang sedang berkembang.






















