Iran Menganggap Selat Hormuz sebagai Aset Strategis yang Setara dengan Bom Atom
Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menjadi penghubung antara Teluk Persia dan Laut Arab, kini dianggap oleh Iran sebagai aset strategis yang setara dengan bom atom. Pernyataan ini muncul dalam konteks ketegangan yang meningkat antara Iran dan Amerika Serikat (AS), serta kebuntuan dalam negosiasi diplomatik yang sedang berlangsung.
Pemerintah Iran melalui pejabat tinggi, media pemerintah, hingga tokoh-tokoh dari lingkaran elite Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, semakin terang-terangan menyatakan bahwa Selat Hormuz adalah senjata geopolitik utama Tehran. Jalur laut yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia itu kini dianggap lebih penting dari sebelumnya, bahkan dibandingkan dengan program nuklir Iran yang selama puluhan tahun memicu sanksi internasional.
Salah satu pernyataan keras datang dari Mohamad Mokhber, penasihat senior Khamenei. Ia menyatakan bahwa kemampuan Iran mengendalikan Selat Hormuz memiliki kekuatan strategis setingkat bom atom. “Ketika Anda memiliki kemampuan yang bisa memengaruhi seluruh ekonomi dunia hanya dengan satu keputusan, itu adalah kemampuan yang sangat besar,” ujar Mokhber kepada kantor berita Mehr.
Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan melepaskan kendali atas selat tersebut dan bahkan berupaya untuk mengubah tata kelola Selat Hormuz melalui jalur internasional maupun undang-undang domestik yang didorong oleh parlemen garis keras Iran.
Ketegangan yang Terus Berlanjut
Ketegangan terbaru terjadi saat Washington masih menunggu respons Tehran terkait proposal kesepakatan yang dikirim melalui mediator. Namun, Iran memberi sinyal bahwa mereka tidak akan tunduk pada tekanan waktu dari Presiden AS Donald Trump.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa pemerintah masih mempelajari proposal Amerika Serikat. “Kami melakukan pekerjaan kami sendiri, kami tidak memperhatikan tenggat waktu atau penentuan waktu,” kata Baghaei. Pernyataan ini menunjukkan bahwa negosiasi belum menunjukkan titik terang, sementara Iran justru meningkatkan retorika strategis terkait Selat Hormuz.
Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, juga menyebut penguasaan Selat Hormuz akan menjadi alat utama Tehran menghadapi sanksi ekonomi Amerika Serikat, terutama embargo terhadap ekspor minyak Iran. Menurutnya, kebijakan terbaru Washington justru membuat posisi Iran terhadap selat tersebut semakin kuat. “Kami tidak akan lagi menghadapi sesuatu yang disebut sanksi,” ujar Aref.
Ia juga mengklaim bahwa Iran akan tetap menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut sambil memastikan negara-negara kawasan tetap dapat memanfaatkannya.
Peran Selat Hormuz dalam Perdagangan Global
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Gangguan kecil saja di kawasan ini dapat memicu lonjakan harga minyak global dan mengguncang pasar internasional. Dengan jumlah pasokan minyak yang melalui jalur ini mencapai sekitar 20% dari total pasokan dunia, keberadaan Selat Hormuz sangat krusial bagi stabilitas ekonomi global.
Dalam konteks ini, Iran terus memperkuat posisi mereka dengan menegaskan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengendalikan jalur ini. Hal ini bukan hanya tentang keamanan nasional, tetapi juga tentang kemampuan untuk memengaruhi dinamika ekonomi global secara signifikan.
Dengan situasi yang terus memanas, dunia terus mengawasi perkembangan terkini terkait Selat Hormuz dan hubungan antara Iran dan AS. Apakah negosiasi akan berbuah kesepakatan, atau apakah ketegangan akan terus meningkat, tetap menjadi pertanyaan besar yang belum memiliki jawaban pasti.






















