SMPN 3 Depok: Belajar Lesehan Tanpa Meja Kursi

Kondisi memprihatinkan dialami oleh ratusan siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Depok. Sebanyak 17 dari 33 ruang kelas yang ada di sekolah tersebut kekurangan fasilitas meja dan kursi. Akibatnya, sebagian besar siswa terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan lesehan di lantai.

Menurut keterangan dari pihak sekolah, jumlah siswa yang terdampak dan harus belajar dengan kondisi lesehan ini diperkirakan mencapai lebih dari 600 orang. Dengan rata-rata 36 siswa per kelas, kondisi ini tentu sangat mempengaruhi kenyamanan dan efektivitas proses belajar mengajar.

Nur, bagian Humas SMPN 3 Depok, menjelaskan bahwa siswa kelas VII dan VIII menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari kekurangan fasilitas ini. “Untuk sementara, prioritas diberikan kepada siswa kelas IX karena mereka akan segera menghadapi ujian,” ujarnya saat ditemui di sekolah pada Jumat (23/1/2026).

Sebagai solusi sementara, pihak sekolah mengarahkan para siswa yang belajar lesehan untuk membawa meja lipat pribadi dari rumah. Hal ini dilakukan berdasarkan kesediaan wali murid yang dinyatakan dalam surat pernyataan tertulis.

  • Siswa membawa meja lipat sendiri
  • Siswa membawa alas duduk sendiri jika diperlukan

Mengapa Siswa Harus Belajar Lesehan?

Kondisi belajar lesehan ini mulai terjadi setelah SMPN 3 Depok meresmikan gedung sekolah barunya pada Kamis (8/1/2026). Sebelumnya, kegiatan belajar mengajar SMPN 3 Depok digabungkan dengan SMPN 33 Depok dalam satu gedung yang sama.

Setelah memiliki gedung baru, ternyata kebutuhan akan meja dan kursi untuk seluruh 33 kelas belum terpenuhi. “Sebagian meja dan kursi yang ada sebelumnya berasal dari SMPN 33, sehingga dibawa kembali ke gedung mereka setelah kami berpisah,” jelas Nur. Hal inilah yang menyebabkan 17 ruang kelas di SMPN 3 Depok menjadi kosong tanpa meja dan kursi.

Ide Meja Lipat Muncul dari Siswa

Pihak sekolah sempat mempertimbangkan opsi untuk membagi jam masuk sekolah menjadi sesi pagi dan siang. Namun, para siswa menolak opsi ini dan lebih memilih untuk membawa meja lipat sendiri agar tetap bisa masuk sekolah pada pukul 06.30 WIB.

“Awalnya ide ini muncul dari anak-anak, kemudian kami tanyakan juga kepada orang tua melalui surat pernyataan. Jadi, semua berawal dari situ,” kata Nur. Ia menambahkan bahwa jika hanya mengandalkan 16 kelas yang memiliki meja dan kursi, pembagian menjadi dua sesi pun tidak akan cukup menampung seluruh siswa.

Oleh karena itu, ide membawa meja lipat menjadi alternatif utama. Pihak sekolah kemudian berinisiatif untuk membuat surat pernyataan tertulis yang harus ditandatangani oleh wali murid sebagai bentuk persetujuan. “Keputusan membawa meja lipat ini merupakan hasil kesepakatan antara kami dengan orang tua, yang dituangkan dalam surat pernyataan,” terang Nur.

Dinas Pendidikan Akui Perencanaan Gedung Baru Tidak Optimal

Menanggapi permasalahan ini, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Depok, Wahid Suryono, menjelaskan bahwa kondisi belajar lesehan ini disebabkan oleh faktor tidak optimalnya perencanaan pembangunan gedung baru dan pengadaan mebel.

Proses pembangunan gedung yang menggunakan program ruang kelas baru (RKB) dengan anggaran sebesar Rp 28 miliar, ternyata dieksekusi secara terpisah dari anggaran pengadaan mebel. Dinas Perumahan dan Permukiman (Disrumkim) bertanggung jawab atas pembangunan gedung baru, sementara Disdik mengurusi kebutuhan meja dan kursi.

Ketidaksinkronan dalam perencanaan ini menyebabkan bangunan selesai dibangun tanpa disertai dengan meja dan kursi yang memadai. “Harus diakui bahwa ada ketidaksinkronan dalam perencanaan ini. Tidak 100 persen pas,” ujar Wahid pada hari Jumat.

Saat ini, Disdik Depok sedang melakukan pendataan ulang mengenai kebutuhan meja dan kursi yang diperlukan. Data tersebut akan ditindaklanjuti dalam rapat tingkat kota untuk memperhitungkan kebutuhan anggaran dan target ketersediaan barang.

“Kami targetkan selambat-lambatnya akhir April semuanya sudah selesai. Karena ini sudah akhir Januari, kami khawatir tidak terkejar. Mudah-mudahan April semuanya sudah selesai,” jelas Wahid. Dengan demikian, diharapkan pada bulan April mendatang, seluruh siswa SMPN 3 Depok dapat belajar dengan fasilitas yang memadai dan nyaman.