Pahlawan Mamasa yang Gugur di Benteng Salubanga

Panbil Mall

Perjuangan Demmatande, Tokoh Pejuang dari Mamasa yang Kembali Diperbincangkan

Demmatande kini kembali menjadi perhatian masyarakat setelah masuk dalam daftar 40 usulan calon Pahlawan Nasional tahun 2025. Nama tokoh asal Mamasa, Sulawesi Barat ini kembali diperbincangkan karena perannya sebagai simbol keberanian masyarakat Pitu Ulunna Salu (PUS) dalam melawan penindasan kolonial Belanda di awal abad ke-20.

Demmatande, yang memiliki nama asli Daeng Matande, lahir pada tahun 1869 di Kampung Paladan, Distrik Orobua, Mamasa. Sejak muda, ia dikenal sebagai pemimpin berjiwa keras yang menolak ketidakadilan. Sikapnya tegas menentang kebijakan kolonial Belanda yang memberlakukan kerja paksa dan pungutan pajak terhadap rakyat di wilayahnya.

Perlawanan Demmatande mencapai puncaknya di Benteng Salubanga, tempat ia bersama rakyat Mamasa mengorganisir pertahanan untuk menolak penjajahan. Pertempuran besar pun tak terelakkan. Dalam perlawanan yang heroik itu, Demmatande dan istrinya gugur pada 20 Oktober 1914, meninggalkan jejak perjuangan yang hingga kini masih dikenang sebagai lambang keberanian dan pengorbanan tanpa pamrih.

Kisah perjuangan Demmatande bukan hanya tentang peperangan, tetapi juga tentang semangat menjaga martabat dan kedaulatan rakyat. Ia menolak tunduk pada kekuasaan kolonial dan memilih berjuang hingga titik darah penghabisan. Kini, perjuangannya mendapatkan perhatian nasional. Pemerintah tengah memproses pengesahan Demmatande sebagai Pahlawan Nasional, sebuah pengakuan atas jasa besar yang ia berikan untuk bangsa Indonesia, khususnya bagi masyarakat Sulawesi Barat.

Warga Mamasa menyambut hangat kabar ini. Banyak yang berharap, pengakuan tersebut akan segera diberikan agar nama Demmatande tercatat sejajar dengan para pahlawan besar lain yang telah mengorbankan nyawa demi kemerdekaan Indonesia.

“Demmatande adalah kebanggaan kami. Ia bukan hanya milik Mamasa, tapi milik Indonesia,” ujar salah satu tokoh adat setempat.

Dengan perjuangan dan ketulusannya, Demmatande akan selalu dikenang sebagai pejuang sejati dari Tanah Mamasa. Ia adalah sosok yang berani melawan penjajahan dan gugur bersama cintanya pada tanah kelahirannya.

Peran Demmatande dalam Sejarah Mamasa

Berikut beberapa fakta penting tentang peran Demmatande dalam sejarah Mamasa:

  • Latar Belakang

    Demmatande lahir pada tahun 1869 di Kampung Paladan, Distrik Orobua, Mamasa. Ia dikenal sebagai tokoh yang memiliki jiwa kepemimpinan sejak muda.

  • Perlawanan terhadap Kolonial

    Ia menolak kebijakan kolonial Belanda yang memberlakukan kerja paksa dan pungutan pajak. Sikapnya tegas dan tidak pernah menyerah.

  • Pertempuran di Benteng Salubanga

    Perlawanan Demmatande mencapai puncaknya di Benteng Salubanga. Di sana, ia bersama rakyat Mamasa mengorganisir pertahanan untuk menolak penjajahan.

  • Gugurnya Demmatande

    Dalam perlawanan yang heroik itu, Demmatande dan istrinya gugur pada 20 Oktober 1914. Jejak perjuangannya hingga kini masih dikenang sebagai simbol keberanian dan pengorbanan tanpa pamrih.

  • Pengakuan Nasional

    Kini, perjuangan Demmatande mendapatkan perhatian nasional. Pemerintah sedang memproses pengesahan sebagai Pahlawan Nasional.



Gambar ilustrasi benteng Salubanga, tempat perlawanan Demmatande berlangsung.



Foto tokoh adat Mamasa yang menyampaikan pernyataan tentang kebanggaan terhadap Demmatande.