Indonesia dan Uni Eropa Sepakat Kerjasama Politik Rampungkan Perdagangan Bebas

Indonesia dan Uni Eropa
Presiden RI Prabowo Subianto di Brussel, Belgia, Minggu (13/7/2025). (Dok. YouTube Setpres)
Indonesia dan Uni Eropa
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Dewan Eropa, António Costa, pada Minggu, 13 Juli 2025, di Gedung Europa, Brussel, Belgia. (Foto: Screenshot/Youtube Setpres)

Patrolmedia -:- Setelah negosiasi panjang hampir 10 tahun, Indonesia dan Uni Eropa bersepakat kerjasama politik untuk merampungkan perjanjian perdagangan bebas (FTA).

Pengumuman ini disampaikan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden RI Prabowo Subianto di Brussels, Belgia, Minggu (13/7/2025).

“Kita hidup di masa serba tak pasti, ekonomi goyah, geopolitik labil. Justru di saat seperti ini, kerja sama dengan mitra strategis seperti Indonesia jadi semakin krusial,” kata von der Leyen dalam konferensi pers, seperti dilansir Kompas.com.

Ia menyebut kesepakatan ini sebagai langkah besar menuju finalisasi FTA pada September 2025.

Dokumen lengkapnya akan dibereskan Kepala Perdagangan Uni Eropa Maros Sefcovic dan Menko Perekonomian Indonesia, Airlangga Hartarto.

“Potensi kerja sama kita masih jauh dari maksimal. Deal ini membuka pintu baru—mulai dari industri, jasa, pertanian, sampai otomotif. Waktunya pas, peluangnya besar,” ujar von der Leyen.

“Ada banyak potensi yang belum dimanfaatkan dalam hubungan perdagangan kita. Kesepakatan ini hadir di waktu yang tepat, membuka pasar-pasar baru, menciptakan lebih banyak peluang di industri utama, aktivitas bisnis, pertanian, otomotif, dan jasa,” ujar von der Leyen, dilasir AFP.

Untuk konteks, Indonesia dan Uni Eropa (27 negara) sudah duduk di meja runding sejak 2016. Tapi intensitas pembahasannya meningkat beberapa tahun terakhir karena tekanan global, termasuk retorika perang dagang dari Presiden AS Donald Trump.

Von der Leyen menegaskan, Eropa butuh pasar yang lebih terbuka dan progresif.

“Ini bukan cuma soal dagang, ini sinyal. Kami ingin tumbuh bersama mitra seperti Indonesia,” ujarnya.

Presiden Prabowo menyebut kesepakatan ini sebagai breakthrough setelah negosiasi panjang.

“Setelah 10 tahun, akhirnya kita sepakat menyusun Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif, atau sederhananya, FTA,” kata Prabowo.

Ia menegaskan posisi strategis Eropa bagi Indonesia.

“Kami ingin Eropa kuat. Tapi pada saat yang sama, kami juga melihat AS tetap berperan penting dalam peta global,” kata Prabowo.

Uni Eropa merupakan mitra dagang terbesar kelima Indonesia, dengan nilai perdagangan bilateral mencapai USD 30,1 miliar pada 2024.

Namun, relasi keduanya sempat memanas karena wacana larangan impor dari produk yang terkait deforestasi, seperti minyak sawit.

Isu sensitif itu sementara ini ditunda hingga akhir 2025.

 

(Ft/Ikh)