Kisah horor yang sempat menggemparkan layar lebar, ‘Saranjana Kota Ghaib’, tampaknya akan mendapatkan penerusnya. Film yang berhasil menarik perhatian 1,2 juta penonton pada tahun 2023 itu akan diikuti oleh sebuah karya yang mengangkat mitos serupa, kali ini dengan judul ‘Kuyank’.
Johansyah Jumberan, sosok di balik kesuksesan ‘Saranjana Kota Ghaib’, kembali dipercaya untuk menyutradarai film ‘Kuyank’. Film ini dibintangi oleh aktor dan aktris ternama, Rio Dewanto dan Putri Intan Kasela.
Putri Intan Kasela mendapatkan peran sentral dalam film ini, memerankan karakter bernama Rusmiati, seorang wanita yang menjadi istri dari Badri, yang diperankan oleh Rio Dewanto.
Kisah dalam ‘Kuyank’ akan membawa penonton menyelami kehidupan Rusmiati, seorang istri yang kehidupannya hancur berantakan. Rumah tangganya dengan Badri diceritakan mengalami keruntuhan akibat kuatnya tekanan adat dan ramalan buruk mengenai keturunan.
Sebagai seorang yang lahir dan besar di Kalimantan Selatan, Putri Intan Kasela merasakan tanggung jawab moral untuk memberikan perspektif yang lebih akurat mengenai mitos Kuyang yang beredar di masyarakat. Selama ini, banyak orang percaya bahwa Kuyang adalah sosok hantu kepala terbang yang gemar memangsa bayi.
Namun, Putri Intan Kasela meluruskan pemahaman tersebut. Menurutnya, Kuyang sebenarnya adalah manusia yang memiliki ilmu hitam. “Kuyang bukan hantu,” tegas Putri Intan Kasela saat ditemui di Bioskop XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.
Ia menjelaskan bahwa Kuyang memiliki wujud fisik yang nyata, berbeda dengan arwah gentayangan. “(Kuyang) Masih bisa dipegang, atau digaplok,” ujarnya.
Putri Intan Kasela kemudian menjelaskan bagaimana karakter Rusmiati yang diperankannya mengalami perubahan wujud menjadi Kuyang dalam film tersebut. Menurutnya, kepala Kuyang akan terlepas dari tubuhnya untuk mencari mangsa. Namun, tubuh aslinya tidak menghilang, melainkan disembunyikan agar tidak dimusnahkan oleh warga.
“Di film ini saya berperan sebagai Rusmiati, yang jadi Kuyang,” ungkap Putri Intan Kasela. “Badannya bisa bersembunyi di belakang pintu atau gentong supaya enggak ditemukan manusia lainnya,” lanjutnya.
Proses produksi film ‘Kuyank’ ternyata menjadi tantangan tersendiri bagi sang sutradara, Johansyah Jumberan. Ia mengakui bahwa memproduksi film ini merupakan ujian mental yang berat.
Salah satu tantangan terbesar adalah membawa ratusan kru dan pemain ke pedalaman Kalimantan Selatan. Perjalanan darat yang harus ditempuh memakan waktu hampir lima jam.
Selain itu, mereka juga membawa peralatan syuting kelas dunia, termasuk kamera Alexa 35 yang harganya mencapai miliaran rupiah. Johansyah Jumberan juga menggunakan teknologi CGI yang dikerjakan oleh tim pemenang Festival Film Indonesia (FFI) untuk memberikan visual yang memukau.
Tantangan Produksi:
- Lokasi syuting di pedalaman Kalimantan Selatan.
- Perjalanan darat selama 5 jam.
- Penggunaan peralatan syuting canggih.
- Penggunaan teknologi CGI oleh tim pemenang FFI.
Film ‘Kuyank’ dijadwalkan akan tayang serentak di bioskop pada tanggal 29 Januari 2026. Para penggemar film horor dan cerita rakyat Indonesia tentu sudah tidak sabar untuk menyaksikan teror Kuyang di layar lebar. Film ini diharapkan dapat memberikan hiburan yang menegangkan sekaligus memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai mitos Kuyang yang selama ini beredar di masyarakat.






















