Mei 2026: Inflasi Sumut Meroket 4,35%

Inflasi Sumatra Utara Melonjak Signifikan, Capai 4,35% di Mei 2026

MEDAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Utara (Sumut) mengumumkan bahwa tingkat inflasi di provinsi tersebut mengalami lonjakan tajam pada periode Mei 2026, mencapai 4,35% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini jauh melampaui posisi inflasi pada bulan April yang tercatat sebesar 2,92% (yoy), serta melampaui inflasi nasional yang berada di angka 3,08% (yoy).

Sejak awal tahun 2026, laju inflasi di Sumatra Utara secara konsisten berada di luar rentang sasaran yang ditetapkan sebesar 2,5% ± 1%. Bahkan, pada bulan Februari lalu, inflasi sempat menyentuh rekor tertinggi di angka 4,71% (yoy). Meskipun sempat mengalami penurunan pada bulan April, lonjakan inflasi kembali terjadi secara signifikan pada bulan Mei.

Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau Jadi Penyumbang Utama

Menurut Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, lonjakan inflasi tahunan di Sumatra Utara pada periode ini sebagian besar disumbang oleh kenaikan harga pada Kelompok Pengeluaran Makanan, Minuman, dan Tembakau. Kelompok ini tercatat mengalami inflasi sebesar 7,11% (YoY) pada bulan Mei, memberikan kontribusi terbesar terhadap laju inflasi bulanan di Sumut, yaitu sebesar 2,55%.

Beberapa komoditas pangan yang mengalami kenaikan harga dan mendorong inflasi di Sumut pada Mei 2026 antara lain:

  • Tomat: Memberikan andil sebesar 0,29%.
  • Beras: Memberikan andil sebesar 0,24%.
  • Cabai Merah: Memberikan andil sebesar 0,18%.
  • Ikan Dencis: Memberikan andil sebesar 0,16%.

Emas Perhiasan Picu Inflasi Tertinggi dalam Kelompok Lain

Meskipun demikian, komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi secara keseluruhan berasal dari Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya, yaitu emas perhiasan. Kenaikan harga emas perhiasan memberikan andil sebesar 0,57% terhadap inflasi tahunan Sumut. Kelompok ini sendiri tercatat mengalami inflasi sebesar 9,73% (yoy) pada bulan Mei, memberikan pengaruh sebesar 0,61% terhadap inflasi tahunan di provinsi tersebut.

Selain itu, kelompok pengeluaran lain yang juga tercatat memiliki andil cukup besar dalam mendorong laju inflasi di Sumut meliputi:

  • Kelompok Pengeluaran Transportasi: Memberikan andil sebesar 0,25%.
  • Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran: Memberikan andil sebesar 0,29%.

Inflasi Bulanan Juga Meningkat

Secara bulanan (month-to-month/mtm), Asim Saputra juga menyebutkan bahwa inflasi di Sumatra Utara pada periode Mei 2026 tercatat sebesar 0,89%, yang mana angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional yang berada di angka 0,28% (mtm).

Komoditas yang menjadi penyumbang inflasi terbesar secara bulanan di Sumut pada bulan Mei adalah:

  • Tomat: Memberikan andil sebesar 0,34%.
  • Cabai Merah: Memberikan andil sebesar 0,31%.
  • Bawang Merah: Memberikan andil sebesar 0,09%.
  • Cabai Rawit: Memberikan andil sebesar 0,08%.

Menariknya, emas perhiasan justru termasuk dalam kelompok yang menyumbang deflasi secara bulanan dengan andil sebesar -0,03%. Hal ini disebabkan oleh penurunan harga emas yang terjadi pada bulan Mei.

Adapun inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) di Sumatra Utara pada periode ini tercatat sebesar 0,67%. Angka ini menunjukkan bahwa secara akumulatif dari awal tahun hingga Mei, Sumut masih mengalami kenaikan harga barang dan jasa meskipun tidak sebesar laju inflasi tahunan. Lonjakan inflasi yang terus-menerus ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dalam upaya menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.