Daerah  

Tiga Berita Terhangat Sumbar: Gantung Diri, Marapi Meletus, Inflasi Mei 3,91%

Jasad Pria Ditemukan Tergantung di Limapuluh Kota, Polisi Pastikan Tak Ada Tanda Kekerasan

Seorang pria berinisial AP (33), warga Jakarta Utara, ditemukan tewas dalam kondisi tergantung di dahan pohon durian di kawasan Suayan Randah, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Limapuluh Kota, pada Selasa pagi (2/6/2026). Pihak kepolisian memastikan tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada jasad korban. Hasil pemeriksaan medis awal menunjukkan bahwa korban diduga kuat mengakhiri hidupnya sendiri. Dugaan ini diperkuat oleh keterangan saksi yang menyebutkan bahwa korban sempat mengeluhkan tangannya bengkak akibat sengatan tawon sebelum ditemukan tewas.

AKP Satria Rudi, Kasi Humas Polres Payakumbuh, menjelaskan kronologi penemuan mayat yang berawal dari keterangan saksi bernama Sapar (51), seorang buruh tani. Sapar mengaku bertemu dengan korban pada Senin pagi (1/6/2026) saat hendak menuju kebun kopinya. Saat itu, korban mengeluhkan tangannya yang bentol-bentol akibat disengat tawon. Sapar kemudian memberikan tembakau untuk dioleskan pada bagian yang bengkak, dan menyarankan korban untuk berobat.

Keesokan harinya, Selasa (2/6/2026) sekitar pukul 09.00 WIB, Sapar kembali menuju kebunnya dan melihat sepasang sepatu menggantung di atas pohon. Karena curiga, ia menelusuri lokasi tersebut dan menemukan korban sudah tidak bernyawa, tergantung menggunakan tali di dahan pohon durian. Saksi segera melaporkan kejadian ini kepada warga lain dan pihak berwenang.

Petugas dari Polsek Payakumbuh, Unit Inafis Satreskrim Polres Payakumbuh, dan petugas Puskesmas Batu Hampar segera mendatangi lokasi kejadian. Pemeriksaan luar oleh dr. Tia dari Puskesmas Batu Hampar tidak menemukan tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban. Petugas hanya menemukan bekas memar di leher akibat jeratan tali dan adanya bekas keluar air mani pada alat kelamin korban. Berdasarkan temuan tersebut, disimpulkan bahwa korban diduga kuat melakukan bunuh diri.

Pihak keluarga korban telah menyatakan menerima kepergian korban dan tidak menuntut secara hukum. Surat pernyataan dari keluarga akan segera menyusul untuk keperluan administrasi. Proses penyelenggaraan jenazah, mulai dari memandikan hingga mengkafani, dilakukan oleh pihak keluarga sesuai permintaan mereka. Tindakan kepolisian yang telah dilakukan meliputi mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP), memasang garis polisi, mencatat identitas korban dan saksi, serta melakukan visum luar.

Warga sekitar sempat digegerkan dengan penemuan mayat tersebut. Wali Nagari Suayan, Irwanul Fuad, mengonfirmasi identitas korban berinisial AP (33), kelahiran 1993. Jasad korban dievakuasi oleh warga ke dalam ambulans untuk dibawa ke rumah duka. Namun, jenazah belum dapat disemayamkan karena masih menunggu tujuh orang keluarga korban yang berada di perantauan untuk pulang. Camat Akabiluru, Yalbaku Javino, juga membenarkan kejadian tersebut, menambahkan bahwa korban adalah warga setempat meskipun KTP-nya masih terdata di Jakarta.

Gunung Marapi Kembali Erupsi, Kolom Abu Tak Teramati Akibat Kabut

Gunung Marapi di Sumatera Barat kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan mengalami erupsi pada Selasa malam (2/6/2026) sekitar pukul 19.56 WIB. Erupsi ini terekam di seismogram dengan durasi sekitar 2 menit 40 detik. Namun, ketinggian kolom abu dari erupsi kali ini tidak dapat teramati karena puncak gunung diselimuti kabut tebal.

Ketua Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Bukittinggi, Ahmad Rifandi, mengonfirmasi terjadinya erupsi tersebut. “Telah terjadi erupsi Gunung Marapi, Sumatera Barat pada pukul 19.56 WIB,” ungkapnya dalam keterangan tertulis. Ia menambahkan bahwa erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 4.1 mm.

Saat ini, Gunung Marapi berstatus Level II (Waspada). Masyarakat yang berada di sekitar gunung, termasuk pendaki dan pengunjung, diimbau untuk tidak memasuki wilayah radius 3 kilometer dari pusat aktivitas kawah (Kawah Verbeek). Masyarakat yang bermukim di sekitar lembah atau bantaran sungai yang berhulu di puncak Marapi juga diminta mewaspadai potensi bahaya lahar atau banjir lahar, terutama saat musim hujan.

Apabila terjadi hujan abu, masyarakat diimbau untuk menggunakan masker guna menghindari gangguan pernapasan. Pemerintah daerah di Kota Bukittinggi, Kota Padang Panjang, Kabupaten Tanah Datar, dan Kabupaten Agam diminta untuk terus berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) atau Pos Pengamatan Gunung Marapi untuk mendapatkan informasi terkini. Masyarakat juga dapat memantau perkembangan aktivitas gunung melalui situs web resmi Badan Geologi dan PVMBG, serta aplikasi Magma Indonesia.

Sepanjang Mei 2026, Pos PGA Bukittinggi mencatat sebanyak 6 kali letusan Gunung Marapi. Secara kumulatif sepanjang tahun 2026, tercatat 47 kali letusan. Erupsi tertinggi di bulan Mei terjadi pada Sabtu (30/5/2026) pagi, dengan ketinggian kolom abu mencapai 2.000 meter di atas puncak. Letusan ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan durasi sekitar 1 menit 25 detik. Gunung Marapi, yang terletak di Kabupaten Agam dan Tanah Datar, memiliki ketinggian 2.891 meter di atas permukaan laut.

Inflasi Sumatra Barat Meningkat Tajam di Mei 2026, Harga Cabai Merah dan Emas Melonjak

Provinsi Sumatra Barat mencatat peningkatan inflasi yang signifikan pada pertengahan kuartal kedua tahun 2026. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Barat pada Selasa (2/6/2026), inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,90 persen. Lonjakan ini dipicu oleh kenaikan harga pada kelompok pangan bergejolak dan komoditas logam mulia.

Kepala BPS Provinsi Sumatra Barat, Nurul Hasanudin, menjelaskan bahwa inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) hingga Mei 2026 mencapai 0,47 persen. Namun, yang menjadi perhatian adalah inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) Mei 2026 terhadap Mei 2025 yang menembus angka 3,91 persen. Angka ini berada di batas atas target inflasi nasional, menunjukkan peningkatan beban pengeluaran rumah tangga di Sumatra Barat dalam setahun terakhir.

Secara bulanan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi, dengan kenaikan 1,73 persen dan andil sebesar 0,58 persen. Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga berkontribusi dengan inflasi 1,57 persen dan andil 0,17 persen.

Komoditas utama yang mendorong inflasi bulanan adalah cabai merah, yang mengalami lonjakan harga sebesar 26,03 persen dan memberikan andil inflasi 0,40 persen. Komoditas lain yang mengalami kenaikan harga antara lain bawang merah (naik 6,93 persen), nasi dengan lauk (naik 1,86 persen), minyak goreng (naik 2,49 persen), dan tarif angkutan udara (naik 5,37 persen).

Di sisi lain, deflasi terjadi pada beberapa komoditas pangan. Daging ayam ras mengalami penurunan harga 8,86 persen, jengkol turun 12,27 persen, telur ayam ras minus 3,10 persen, dan kentang minus 5,95 persen. Komoditas emas perhiasan juga mengalami koreksi teknis bulanan sebesar 2,65 persen.

Meskipun mengalami deflasi bulanan, emas perhiasan justru menjadi pemicu utama inflasi tahunan di Sumatra Barat. Dalam setahun terakhir, harga emas perhiasan melonjak drastis sebesar 37,81 persen, memberikan andil inflasi tahunan terbesar, yaitu 0,51 persen. Tingginya ketidakpastian ekonomi global diduga menjadi penyebab kenaikan nilai komoditas safe haven ini.

Komoditas strategis lain yang berkontribusi signifikan terhadap inflasi tahunan adalah beras (naik 5,75 persen, andil 0,28 persen), cabai merah (naik 12,99 persen, andil 0,23 persen), sigaret kretek mesin (naik 5,17 persen, andil 0,14 persen), dan minyak goreng (naik 9,46 persen, andil 0,04 persen).

Analisis spasial menunjukkan adanya ketimpangan dalam pembentukan harga antar-kabupaten dan kota. Kabupaten Pasaman Barat tercatat mengalami inflasi bulanan tertinggi (1,03 persen), sementara Kota Bukittinggi memiliki inflasi bulanan terendah (0,44 persen). Dalam indikator tahun kalender, Kabupaten Dharmasraya mencatat inflasi tertinggi (1,95 persen), sedangkan Kabupaten Pasaman Barat justru mengalami deflasi kumulatif sebesar 1,03 persen.

Namun, pada indikator inflasi tahunan, Kabupaten Dharmasraya kembali menempati posisi teratas dengan inflasi 5,31 persen. Kota Padang mencatat inflasi tahunan terendah sebesar 3,52 persen. Tingginya inflasi di Dharmasraya diduga akibat pola distribusi logistik yang panjang dan ketergantungan pasokan dari luar daerah.

Secara keseluruhan, kelompok pengeluaran inti, terutama makanan, minuman, dan tembakau, memberikan andil tahunan sebesar 2,06 persen dari total inflasi 3,91 persen. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat Sumatra Barat sangat sensitif terhadap perubahan harga di sektor pangan. Pemerintah daerah dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumatra Barat dihadapkan pada tantangan untuk memperkuat rantai pasokan pangan intra-wilayah.