Aksa Mahmud Ajak Mahasiswa Kuasai Hidroponik untuk Kedaulatan Pangan dan Kolaborasi MBG

Kehadiran Aktivis Mahasiswa Era 1960-an di Kampus Unibos

Seorang aktivis mahasiswa era 1960-an, Aksa Mahmud, hadir di tengah puluhan pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Bosowa (Unibos), Jumat (12/6/2026). Dalam diskusi yang berlangsung santai di 23 Menara Bosowa, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, setelah Shalat Jumat, ia memberikan petuah penting bagi para pemimpin mahasiswa. Aksa menyampaikan bahwa semangat perjuangan harus tetap dipertahankan, meskipun cara dan metode mungkin berbeda dari masa lalu.

“Kalian harus kuasai itu hidroponik. Harus dipraktikkan selagi kuliah, supaya nanti kalau sudah tamat langsung bisa buka usaha hidroponik di daerah-daerah,” ujarnya.

Pengalaman panjang Aksa Mahmud sebagai aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) sejak 1962 dan keterlibatannya dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar pada masa pergolakan nasional membentuk pandangan hidupnya. Ia mengingatkan mahasiswa untuk tidak hanya fokus pada gelar, tetapi juga mempersiapkan diri untuk menjawab kebutuhan zaman.

Pendidikan yang Tidak Cukup di Ruang Kelas

Aksa menekankan bahwa pendidikan tidak cukup berhenti di ruang kuliah dan teori. Mahasiswa harus mengalami sendiri realitas profesinya. Ia menyarankan agar mereka turun ke lapangan, merasakan bekerja, dan berkarya. Bagi Aksa, kampus harus melahirkan generasi yang mampu menciptakan jalan dan peluang, bukan sekadar pencari kerja.

“Yang dari pertanian, bertanilah. Datang ke sawah. Ikut ke kebun. Dan, jangan hanya datang membesuk,” tegas Aksa.

Dia menegaskan bahwa mahasiswa pertanian tidak boleh berhenti pada teori tentang tanah, unsur hara, atau sistem budidaya. Mereka harus belajar secara serius minimal tiga bulan di lapangan, mengelola kebun, memahami pola tanam, serta mempelajari jeruk, lengkeng, durian, hingga teknologi hidroponik.

Hidroponik Sebagai Solusi Pangan dan Ekonomi

Di tengah percakapan tentang organisasi mahasiswa, Aksa Mahmud membawa diskusi ke sesuatu yang sangat konkret: pangan, masa depan, dan peluang ekonomi yang sedang mengetuk pintu generasi muda. Ia menekankan pentingnya hidroponik sebagai pintu masuk menuju pertanian modern berbasis sains, teknologi, dan pasar yang nyata.

“Kalian harus kuasai itu hidroponik. Harus dipraktikkan selagi kuliah, supaya nanti kalau sudah tamat langsung bisa buka usaha hidroponik di daerah-daerah,” jelas Aksa.

Dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG), hidroponik tidak lagi hanya menjadi proyek akademik, melainkan peluang ekonomi sekaligus gerakan sosial. Sayuran hidroponik, yang lebih terukur kebersihan dan kualitasnya, dapat menjadi bagian dari rantai pasok MBG. Artinya, mahasiswa tidak harus menunggu wisuda untuk mulai mandiri. Bahkan sejak kuliah, mereka bisa membangun kelompok usaha, mengelola greenhouse kecil, membentuk koperasi mahasiswa, hingga menjadi pemasok pangan sehat.

Filosofi Pendidikan yang Relevan

Filosofi yang sama juga berlaku bagi disiplin ilmu lain. Aksa menyampaikan bahwa mahasiswa pertambangan dan geologi idealnya tinggal di area tambang untuk memahami langsung dunia yang kelak mereka hadapi. Sementara itu, mahasiswa kedokteran didorong untuk memperbanyak bakti sosial dan praktik pengabdian masyarakat.

Aksa mengingatkan para aktivis mahasiswa agar pandai membaca zaman. Jika generasi 1960-an bertarung di ruang politik dan demonstrasi, generasi sekarang harus berani bertarung di ruang inovasi, pangan, dan kemandirian ekonomi. Perjuangan hari ini bukan hanya tentang mengkritik keadaan, tetapi juga menghadirkan solusi.

Pandangan yang Membentuk Pendidikan Masa Depan

Pandangan Aksa ini memperlihatkan satu pendekatan pendidikan yang semakin relevan di tengah kritik terhadap lulusan perguruan tinggi yang kuat di teori, tetapi minim pengalaman lapangan. Bagi Aksa, kampus bukan hanya tempat menghasilkan ijazah, melainkan tempat membentuk kesiapan hidup.

Singkatnya, jangan hanya datang melihat dunia kerja. Tinggallah sejenak di dalamnya.