Kontroversi Drama Korea Perfect Crown
Drama Korea Perfect Crown, yang juga dikenal dengan judul The Great Military Wife of the 21st Century, kembali menjadi sorotan publik menjelang episode finalnya. Drama yang dibintangi oleh IU dan Byeon Woo Seok ini menuai kritik besar terkait dugaan distorsi sejarah kerajaan Korea.
Kontroversi memuncak setelah penayangan episode 11, di mana tata kerajaan yang digambarkan dalam drama dinilai tidak sesuai dengan sejarah. Banyak netizen Korea mengkritik detail-detail kecil yang dianggap sensitif, seperti penggunaan seruan “Cheonse” saat proses penobatan Raja Yi Ahn, yang diperankan oleh Byeon Woo Seok.
Seruan “Cheonse” dan Kritik Publik
Salah satu adegan yang paling menuai protes adalah ketika para pejabat kerajaan meneriakkan “Cheonse” saat penobatan berlangsung. Istilah tersebut dianggap sensitif karena dalam sejarah Asia Timur, “Cheonse” identik dengan kerajaan bawahan yang tunduk pada kekaisaran China. Dalam tradisi kekaisaran China kuno, istilah “Manse” digunakan khusus untuk kaisar yang dianggap penguasa tertinggi.
Karena itu, sebagian publik menilai penggunaan “Cheonse” dalam drama seolah menggambarkan Korea sebagai negara bawahan China. Isu ini dikaitkan dengan proyek sejarah China yang dikenal sebagai “Northeast Project”, yang selama bertahun-tahun dituduh mencoba memasukkan sejarah dan budaya Korea ke dalam sejarah China.
Detail Upacara Penobatan yang Disoroti
Selain seruan kerajaan, banyak netizen juga memperdebatkan bentuk mahkota yang digunakan Raja Yi Ahn dalam adegan penobatan. Mahkota tersebut disebut hanya memiliki sembilan untaian manik-manik, bukan 12 untaian yang secara historis identik dengan penguasa berdaulat penuh.
Adegan ratu janda berlutut di hadapan pangeran agung juga dianggap tidak sesuai dengan struktur hierarki kerajaan Joseon. Sejumlah sejarawan Korea bahkan memberikan kritik terhadap detail upacara hingga sistem kerajaan dalam drama tersebut.
Tradisi Minum Teh yang Dianggap Tidak Akurat
Kontroversi lain kembali muncul setelah penonton menyoroti adegan tata cara minum teh di dalam drama. Banyak netizen menilai adegan tersebut lebih menyerupai tradisi minum teh China dibanding budaya Korea. Penggunaan nampan teh khusus penampung air, tata letak peralatan teh, hingga adegan membuang sisa teh ke wadah tertentu dianggap identik dengan tradisi China.
Padahal, dalam budaya minum teh Korea, tata caranya disebut jauh lebih sederhana. Hal ini membuat banyak penonton merasa bahwa drama tersebut tidak akurat dalam menggambarkan budaya lokal.
Protes Besar di Media Sosial
Kritik terhadap drama tersebut akhirnya memicu gelombang protes besar di media sosial Korea Selatan. Sebagian penonton bahkan meminta seluruh episode drama dibatalkan, mirip dengan kasus drama Joseon Exorcist beberapa tahun lalu.
Drama Joseon Exorcist sendiri sempat dihentikan penayangannya akibat kontroversi distorsi sejarah dan budaya China. Saat itu, para pemainnya, termasuk Lee Yoo Bi, Park Sung Hoon, dan Jang Dong Yoon, turut mengunggah surat permintaan maaf pribadi.
Permintaan Maaf dari IU dan Byeon Woo Seok
Di tengah kontroversi yang semakin panas, IU akhirnya mengunggah surat permintaan maaf melalui Instagram pribadinya. Pelantun lagu “Love Wins All” itu mengaku menyesal tidak lebih teliti memahami konteks sejarah dalam naskah drama.
“Saya meminta maaf karena tidak memikirkan lebih dalam tentang isu bukti sejarah dalam drama yang Anda tunjukkan,” tulis IU dalam unggahan Instagramnya, Senin (19/5/2026).
IU juga mengaku malu karena tidak mempelajari naskah lebih hati-hati sebagai seorang aktris. Ia menyebut kritik publik menjadi pelajaran besar untuk dirinya agar lebih bertanggung jawab memilih karya di masa depan.
“Saya akan menjadi aktris yang lebih hati-hati dan teliti di masa depan,” lanjut IU.
Tanggapan dari Byeon Woo Seok
Tak lama setelah itu, Byeon Woo Seok juga mengunggah klarifikasi dan permintaan maaf melalui Instagram pribadinya. Aktor yang memerankan Raja Yi Ahn itu mengaku kurang memahami konteks sejarah saat proses syuting berlangsung.
“Selama proses syuting dan akting, saya kekurangan pemikiran dan refleksi untuk memahami konteks sejarah dan makna di balik pekerjaan,” tulis Byeon Woo Seok dalam unggahan Instagramnya, Senin (19/5/2026).
Aktor 34 tahun itu juga mengaku banyak belajar dari kritik penonton. Ia menyadari bahwa seorang aktor harus memahami pesan dan konteks sejarah dari sebuah karya, bukan hanya fokus pada akting.
“Saya menyadari bahwa sebagai aktor, saya perlu mengambil pendekatan yang lebih bertanggung jawab,” sambungnya.
Rating Tinggi Meski Ada Kontroversi
Meski diterpa kontroversi besar, drama Perfect Crown masih mencatat rating tinggi hingga menjelang episode terakhirnya. Drama tersebut bahkan dilaporkan tetap menduduki peringkat pertama popularitas di berbagai platform sejak awal tayang.
Serial ini juga disebut populer di platform streaming Disney+ di sejumlah wilayah seperti Amerika Utara, Eropa, Amerika Latin, hingga Asia. Popularitas tinggi itulah yang membuat kontroversi drama ini semakin ramai diperbincangkan publik global.






















