Alasan Drama Korea Perfect Crown Kontroversial Di Akhir Episode, Tim Minta Maaf

Drama Korea “Perfect Crown” Kembali Dihujat Karena Kesalahan Sejarah

Drama Korea populer Perfect Crown kembali menjadi sorotan setelah episode 11 yang tayang pada Jumat (15/5/2026) menimbulkan kontroversi. Episode tersebut dinilai tidak sesuai dengan sejarah Korea Selatan, terutama dalam adegan penobatan Pangeran Ian (Byeon Woo Seok). Hal ini memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk para sejarawan dan penggemar.

Dalam adegan tersebut, raja menggunakan ‘Guryu Myeollyugwan,’ yaitu mahkota upacara yang biasanya digunakan oleh negara-negara bawahan di era Joseon. Selain itu, para pengikutnya meneriakkan “Cheonse” alih-alih “Manse,” yang secara historis merujuk pada ungkapan yang digunakan oleh negara-negara bawahan terhadap seorang kaisar. Penggunaan istilah tersebut dianggap tidak pantas karena diterapkan dalam konteks monarki konstitusional abad ke-21.

Kontroversi ini memperkuat kekhawatiran bahwa drama yang diproduksi untuk platform OTT global dapat memberikan pemahaman sejarah yang salah kepada penonton internasional. Tim produksi akhirnya menyampaikan permintaan maaf atas kesalahan tersebut.

“Kami gagal meneliti dengan cermat bagaimana etiket era Joseon berubah sepanjang sejarah,” ujar mereka. Mereka juga berjanji untuk merevisi audio dan subtitle dalam siaran ulang, VOD, dan layanan OTT di masa mendatang.

Selain itu, ada kritik terhadap desain mahkota raja yang memiliki sembilan untaian manik-manik, bukan desain 12 untaian yang biasanya diasosiasikan dengan penguasa berdaulat. Adegan lain yang memicu perdebatan adalah saat ratu berlutut di hadapan pangeran agung dan meminta maaf, yang menurut sebagian penonton terasa tidak sesuai dengan hierarki kerajaan historis.

Meskipun drama ini berlatar di Korea versi monarki konstitusional abad ke-21 fiktif, kritik atas ketidakakuratan sejarah telah membayangi serial ini sejak awal penayangan. Beberapa sejarawan Korea sebelumnya telah memberikan pendapat mereka tentang kontroversi ini. Mereka berpendapat bahwa beberapa elemen, termasuk penggambaran perwalian kerajaan dan adegan yang melibatkan upacara ulang tahun raja, bertentangan dengan adat istiadat era Joseon.

Dengan pengawasan publik yang kini jauh lebih tajam, banyak yang mengatakan bahwa tameng genre “sejarah alternatif” tidak dapat memaafkan setiap kesalahan sejarah.

Rating Tinggi Meski Kontroversi

Terlepas dari reaksi negatif tersebut, popularitas Perfect Crown tak berkurang. Setelah memulai debutnya dengan rating 7,8 persen, drama ini terus meningkat sepanjang penayangannya. Pada Episode 4, ratingnya melampaui 11,1 persen, dan mencapai 13,3 persen pada Episode 10.

Nielsen Korea melaporkan bahwa episode 11, yang ditayangkan sehari sebelum episode akhir, mencapai rating penonton tertinggi sepanjang sejarah serial ini sebesar 13,5 persen. Drama ini juga menduduki peringkat ke-3 secara global dalam Top 10 TV Shows Disney+ dan peringkat ke-1 di antara judul-judul non-Inggris, mempertahankan posisi teratas sejak penayangan perdananya, menurut FlixPatrol.

Popularitas drama TV-OTT yang dirilis oleh FUNdex milik Good Data Corporation juga tetap berada di peringkat ke-1 sejak penayangan pertama. Meskipun ada kontroversi, Perfect Crown tetap menjadi salah satu drama yang paling diminati di kalangan penonton Indonesia dan dunia.