Lokal  

3 Berita Terkini Sumbar: Jalan Ambles di Padang Pariaman, Kecelakaan Maut Solok dan Pemicu Longsor Tambang Emas

Peristiwa Bencana dan Kecelakaan di Sumatera Barat

Banyak peristiwa penting terjadi dalam 24 jam terakhir di Sumatera Barat, yang mencakup berbagai bencana alam serta kecelakaan lalu lintas. Berikut ini adalah beberapa informasi terkini yang muncul dari wilayah tersebut.

Jalan Ambles Akibat Hujan Lebat

Hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Padang Pariaman memicu bencana infrastruktur. Salah satu jalan ambles sejauh 8 meter di Padang Pariaman, sehingga akses lalu lintas warga putus total. Peristiwa ini terjadi di wilayah Korong Lancang, Nagari III Koto Aur Malintang Selatan, Kecamatan IV Koto Aur Malintang pada Jumat (15/5/2026) sekitar pukul 16.30 WIB.

Menurut Syaiful, masyarakat setempat, hujan intensitas tinggi mengguyur daerahnya sejak Jumat kemarin pukul 11.00 WIB. “Hujan lebat ini menyebabkan jalan di ujung jembatan di Korong Lancang terban dan putus,” ucapnya. Alhasil, arus lalu lintas putus total sejak putus Jumat sore kemarin hingga Sabtu siang ini.

Pemerintah kabupaten dan nagari setempat sudah datang ke lokasi sejak Jumat malam untuk mengecek kondisi jalan. Masyarakat bergotong royong dengan menimbun jalan menggunakan kerikil dan semen yang diberikan oleh Dinas PUPR serta anggota DPRD Padang Pariaman. Upaya ini dilakukan secepat mungkin agar akses lalu lintas dapat dilalui kendaraan roda dua oleh masyarakat setempat. Target pengerjaan hari ini masih berlangsung karena 400 kartu keluarga lebih berada di ujung jalan yang putus, sehingga tidak dapat melintas.

Truk Masuk Jalur Lawan di Tikungan Gunung Talang

Sepeda motor Yamaha N-Max terlibat kecelakaan dengan mobil FAW Chassistruk di Jalan Solok–Padang, Jorong Aro, Nagari Talang, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Jumat (15/5/2026) sekira pukul 21.45 WIB. Kasat Lantas Polres Solok, Iptu Rido SH MH membenarkan terkait kecelakaan tersebut yang menewaskan pengendara sepeda motor beserta penumpang.

Kronologi kecelakaan bermula saat mobil FAW Chassistruk yang dikemudikan Supri Dedi datang dari arah Padang menuju Solok. Sesampainya di lokasi kejadian dengan kondisi jalan tikungan dan turunan, mobil FAW Chassistruk mendahului kendaraan yang ada di depannya. Mobil FAW Chassistruk kemudian melebar ke kanan dan masuk jalur lawan. Dari arah berlawanan datang sepeda motor Yamaha N-Max yang dikendarai Darma Surya Putra dengan memboncengi Viona Anggraini dan Keenan Alfarazki.

Akibat kecelakaan tersebut, pengendara sepeda motor Darma Surya Putra dan penumpang Viona Anggraini meninggal dunia. Sementara satu penumpang lainnya, Keenan Alfarazki mengalami luka berat dan patah kaki sebelah kiri. Korban kemudian dibawa ke RSUD Arosuka untuk mendapatkan perawatan. Kendaraan yang terlibat kecelakaan telah diamankan di Unit Gakkum Satlantas Polres Solok.

Tanah Regosol di Sijunjung Menyebabkan Longsoran

Guru Besar Universitas Gunadarma sekaligus Pemerhati Lingkungan Sumatera Barat (Sumbar), Prof. Isril Berd mengungkap karakteristik tanah regosol di Sijunjung menjadi penyebab utama longsor maut di lokasi tambang emas ilegal. Sebelumnya, sembilan orang dilaporkan meninggal dunia usai tertimbun material longsor di tambang emas di Sintuk, Jorong Koto Guguk, Nagari Guguk, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Kamis (14/5/2026) kemarin.

Tanah regosol adalah jenis tanah vulkanik yang masih muda, berkembang lemah, dan berasal dari pelapukan material padat seperti pasir, abu, dan lapili hasil letusan gunung berapi. “Tanahnya longgar, punya kemiringan, dan terbuka, jadi kalau hujan, jenis tanah ini mudah memicu landslide atau tanah longsor,” kata dia, Sabtu (16/5/2026).

Di sisi lain, lokasi tambang emas ilegal di Sintuk, Sijunjung berlokasi di DAS Kuantan, yang beraliran langsung ke Riau. “Jadi Batang Sinamar, Ombilin, Palangki yang membentuk DAS Batang Kuantan. Tanah di DAS Batang Kuantan memiliki unsur tanah yang rawan longsor, apalagi kalau hujan,” ujarnya.

Penambang Emas Tradisional Terkena Longsoran

Polisi mengantongi identitas pemilik tambang emas tradisional di Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, setelah longsor menewarkan sembilan pekerja tambang, Kamis (14/5/2026) siang. Satreskrim Polres Sijunjung bersama Unit Reskrim Polsek Koto VII kini masih menyelidiki aktivitas tambang emas tradisional tersebut, termasuk kepemilikan lokasi tambang dan penggunaan mesin dompeng di area bekas tambang yang longsor.

Longsor terjadi sekitar pukul 12.30 WIB saat para pekerja tengah melakukan aktivitas penambangan emas tradisional menggunakan mesin dompeng dan dulang di lubang bekas tambang yang sudah tidak beroperasi. Tiba-tiba tebing yang berada sekitar 30 meter dari titik aktivitas penambangan mengalami longsor besar dan langsung menimbun para pekerja. Tiga pekerja berhasil menyelamatkan diri dari material longsoran. Sementara sembilan pekerja lainnya tidak sempat menghindar sehingga tertimbun tanah dan bebatuan.