Bacaan Liturgi untuk Hari Biasa Pekan V Paskah
Pada hari biasa pekan V Paskah, umat Katolik dihimbau untuk memperhatikan bacaan-bacaan liturgi yang disiapkan. Warna liturgi yang digunakan pada hari ini adalah putih, yang menggambarkan kebersihan dan keindahan iman. Berikut adalah rangkuman bacaan-bacaan liturgi yang akan dibacakan dalam perayaan hari Sabtu, 9 Mei 2026.
Bacaan Hari Sabtu
- Kisah Para Rasul 16:1-10
- Mazmur 100:1-2, 3, 5
- Injil Yohanes 15:18-21
- Bacaan Khusus: Kisah Para Rasul 20:1-16
Bacaan pertama dari Kitab Kisah Para Rasul mengisahkan perjalanan Paulus dan Silas bersama dengan Timotius, seorang murid yang dikenal baik oleh jemaat di Listra dan Ikonium. Timotius dinyunat karena orang-orang Yahudi di daerah tersebut mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang Yunani. Dalam perjalanan mereka menyampaikan keputusan para rasul dan penatua di Yerusalem, sehingga jemaat-jemaat semakin kuat dalam iman dan jumlahnya bertambah.
Perjalanan Paulus dan Silas melintasi Frigia dan Galatia, tetapi Roh Kudus mencegah mereka memberitakan Injil di Asia. Mereka mencoba masuk ke Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan. Akhirnya mereka sampai di Troas, di mana Paulus melihat penglihatan dari seorang Makedonia yang meminta bantuan. Setelah melihat penglihatan itu, mereka memutuskan untuk pergi ke Makedonia, karena yakin bahwa Allah telah memanggil mereka untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.
Mazmur Tanggapan
- Mazmur 100:1-2, 3, 5
Mazmur ini merupakan lagu syukur bagi Tuhan, yang memanggil seluruh bumi untuk bersorak-sorai. Umat diajak untuk beribadah dengan sukacita dan datang ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai. Mazmur juga mengingatkan bahwa Tuhanlah Allah yang menjadikan kita dan memiliki kita, serta kasih setia-Nya yang abadi.
Injil Yohanes
Dalam Injil Yohanes, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya bahwa dunia akan membenci mereka karena mereka bukan dari dunia. Yesus berkata, “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” Murid-murid akan menghadapi penganiayaan karena iman mereka, tetapi mereka harus tetap setia dan percaya bahwa Tuhan akan mendampingi mereka.
Santo Sirilus dari Sasarea, Martir
Santo Sirilus lahir di Kapadokia, Asia Kecil pada abad ke-3 dari sebuah keluarga kafir. Meskipun lahir dalam lingkungan non-Kristen, ia mulai menjadi Kristen sejak usia muda. Ayahnya yang kafir terus-menerus menyiksanya agar ia kembali ke agama nenek moyangnya. Namun, Sirilus tetap teguh dalam imannya. Ia merasa sedih bukan karena perlakuan ayahnya, tetapi karena ayahnya tidak memahami keputusan kehendaknya. Kata-kata Kristus, “Barang siapa yang mengasihi ayah dan ibunya lebih dari Aku, tak layak ia bagiKu,” menjadi penguat hatinya.
Akibat keyakinannya, Sirilus diusir dari rumah oleh ayahnya dan dihadapkan ke pengadilan. Meski diancam oleh hakim, ia tidak takut. Karena usianya, ia dibebaskan dan diperbolehkan kembali ke rumah ayahnya untuk meminta maaf. Namun, ia menolak dengan tegas. Ia berkata, “Karena imanku, saya telah diusir dari rumah oleh ayahku. Saya meninggalkan rumah dengan gembira, sebab aku mempunyai tempat tinggal lain yang lebih mulia yang sedang menantikan aku.”
Hakim mencoba memengaruhi keputusannya, tetapi Sirilus tetap teguh. Ia diseret ke api unggun, namun ia tidak gentar. Bahkan, ia memprotes penundaan hukuman. Akhirnya, hakim marah dan menyuruh serdadu-serdadu memenggal kepalanya.




















