Bisnis  

Kenaikan Harga LPG 12 kg Tembus Rp245 Ribu di Pontianak

Kenaikan Harga LPG Non-Subsidi di Pontianak Mengkhawatirkan Pemilik Pangkalan

Di tengah situasi ekonomi yang semakin memprihatinkan, kenaikan harga LPG non-subsidi mulai dirasakan oleh masyarakat di Kota Pontianak. Hal ini terlihat dari hasil pantauan di lapangan, khususnya di Pangkalan LPG 3 Kg “Djie Fab Jung” yang berada di Jalan Putri Dara Hitam.

Pemilik pangkalan, Koko, mengungkapkan bahwa harga LPG dengan ukuran 12 kilogram dan 5,5 kilogram mengalami kenaikan cukup signifikan. Ia menjelaskan bahwa harga LPG 12 kg saat ini mencapai Rp245 ribu, sedangkan sebelumnya hanya Rp210 ribu. Sementara itu, harga LPG 5,5 kg naik menjadi Rp120 ribu dari sebelumnya Rp100 ribu.

“Terjadi kenaikan harga gas ukuran 12 kg dengan 5,5 kg. Yang 12 kg harga Rp245 ribu harga baru, sebelumnya Rp210 ribu, sedangkan 5,5 kg Rp120 ribu harga sekarang, sebelumnya Rp100 ribu. Bervariasi kalau mereka pembeli yang dapat langsung dari agen pink mungkin beda Rp5.000, beda-beda dikit untuk harganya,” ujarnya saat di konfirmasi.

Ia juga menambahkan bahwa harga di tingkat pengecer atau warung bisa lebih tinggi dibandingkan di pangkalan. “Kalau di warung mungkin bisa lebih naik lagi harganya, untuk harga naik ini berbarengan dengan BBM naiknya kemarin,” tambahnya.

Koko mengkhawatirkan bahwa kenaikan harga LPG non-subsidi, khususnya ukuran 12 kilogram, akan mendorong konsumen beralih ke LPG subsidi 3 kilogram. “Dengan kenaikan gas berukuran 12 kg yang non-subsidi ini, apabila masih mengalami kenaikan, saya mengkhawatirkan para konsumen beralih menggunakan gas LPG ukuran 3 kg,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut bisa berdampak pada distribusi LPG subsidi jika permintaan meningkat. “Yang mana harga 12 kg tinggi dan kalau subsidi dicabut harganya bisa setara dengan Rp245 ribu,” jelasnya.

Di sisi lain, kenaikan harga juga berdampak pada penjualan. Koko menyebut hingga saat ini minat beli masyarakat cenderung menurun. “Harga tidak naik aja susah jual, apalagi harga naik, satu hari ini saja belum ada yang beli,” katanya.

Meski demikian, ia memastikan ketersediaan LPG di pangkalannya masih aman untuk semua jenis. “Kalau di sini jatah gas masih cukup, mau pink, mau melon semua ada,” tuturnya.

Ia juga menilai sebagian konsumen tidak terlalu mempermasalahkan kenaikan harga LPG non-subsidi karena masih adanya alternatif LPG subsidi. “Mereka juga tidak protes kalau gas pink naik, karena berpikir masih ada gas yang 3 kg,” tambahnya.

Koko menegaskan bahwa stok LPG di tempatnya selalu tersedia dan tidak pernah mengalami kekosongan. “Gas saya ada, tidak pernah kosong,” tegasnya.

Ia berharap pasokan LPG tetap terjaga agar tidak terjadi kelangkaan di tengah situasi saat ini. “Semoga dengan situasi begini gas harus ada terus sehingga tidak terjadi kelangkaan dan semoga perang ini cepat selesai,” pungkasnya.