Krisis Minyak Jadi Peluang Emas untuk China, Ekspor Mobil Listrik Melonjak 140 Persen

Krisis Minyak Jadi Peluang Bagi China, Ekspor Mobil Listrik Melonjak 140 Persen

Di tengah kenaikan harga minyak dunia yang signifikan, mobil listrik asal Tiongkok mengalami lonjakan ekspor yang luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa tren peralihan ke kendaraan ramah lingkungan semakin kuat, terlebih di tengah situasi krisis energi global.

Ekspor Mobil Listrik dan Hybrid Meningkat Drastis

Berdasarkan data yang dirilis oleh Asosiasi Mobil Penumpang Tiongkok, pada Maret 2025, ekspor mobil listrik dan hybrid dari Tiongkok mencapai 349.000 unit. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, dengan peningkatan hingga lebih dari 700.000 unit dalam periode yang sama.

Produsen mobil listrik terbesar, BYD Co, berkontribusi sekitar sepertiga dari total ekspor tersebut. Sementara itu, Geely Automobile Holdings Ltd. dan Chery Automobile Co. juga menjadi salah satu penyumbang utama dalam peningkatan ekspor ini.

Dampak Pada Pasar Saham

Lonjakan ekspor ini juga memberikan dampak positif terhadap pasar saham. Saham BYD di Hong Kong naik hingga 3,1 persen pada Jumat (10/4/2026). Begitu pula dengan saham Geely dan Chery yang ikut mengalami penguatan.

Peran Konflik Global dalam Perubahan Pola Konsumsi

Sekretaris Jenderal PCA, Cui Dongshu, menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak akibat konflik antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran memicu masyarakat untuk beralih kembali ke mobil listrik dan hybrid. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah pengunjung showroom di berbagai wilayah Asia dalam beberapa waktu terakhir.

Konsumen ingin menghindari dampak kenaikan harga BBM yang dipicu oleh konflik tersebut. Cui menambahkan bahwa produsen otomotif Tiongkok memiliki peluang besar memperluas pasar global di tengah situasi krisis, termasuk saat gangguan di Selat Hormuz.

Kesamaan dengan Krisis Minyak 1970-an

Kondisi ini mengingatkan pada krisis minyak pada 1970-an, ketika masyarakat beralih ke kendaraan yang lebih hemat energi. Meskipun ekspor meningkat, pasar domestik otomotif Tiongkok justru mengalami penurunan.

Penurunan Penjualan di Pasar Dalam Negeri

Penjualan Tesla di Shanghai, misalnya, turun 24 persen secara bulanan, meskipun secara tahunan masih tumbuh 9 persen. Sementara itu, penjualan BYD di dalam negeri merosot lebih dari 40 persen.

Secara keseluruhan, penjualan kendaraan listrik dan hybrid di pasar domestik Tiongkok turun 14 persen menjadi 848.000 unit pada Maret. Data ini mencerminkan kondisi setelah pemerintah mengurangi subsidi program tukar tambah kendaraan, yang berdampak pada turunnya penjualan sedan dan hatchback hingga 25 persen.

Faktor Penyebab Penurunan Permintaan

Cui menilai, penurunan daya beli masyarakat serta meningkatnya biaya turut menekan permintaan. Meski begitu, kendaraan energi baru masih menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan mobil berbahan bakar konvensional.

Latar Belakang Kenaikan Harga Minyak

Lonjakan harga minyak dunia terjadi setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Konflik tersebut berlangsung sekitar satu bulan dan sempat menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak global.

Akibatnya, harga minyak mentah WTI melonjak hingga menembus 100 dolar AS per barel, bahkan mencapai 113,07 dolar AS per barel pada 6 April.