Di Balik Gencatan Senjata, Peran Mojtaba Khamenei Memegang Kunci Keputusan

Kesepakatan Gencatan Senjata Antara Iran dan Amerika Serikat

Di tengah situasi yang sangat tegang, Iran dan Amerika Serikat berhasil mencapai kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu. Kesepakatan ini tercapai di menit-menit akhir, dengan peran penting yang dimainkan oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

Negosiasi berlangsung intensif, dengan bantuan mediator internasional hingga akhirnya membuahkan hasil. Meskipun gencatan senjata disepakati, konflik di Lebanon tetap berlanjut karena tidak termasuk dalam perjanjian tersebut. Ini menunjukkan bahwa penyelesaian masalah regional masih memerlukan langkah-langkah tambahan.

Presiden AS Donald Trump memberikan batas waktu untuk negosiasi, dan pada jam-jam terakhir sebelum waktu tersebut, kedua pihak mencapai kesepakatan. Mojtaba Khamenei, putra dari mantan pemimpin tertinggi Ali Khamenei yang tewas dalam serangan udara awal perang, menjadi sosok kunci dalam mendorong para negosiator Iran menuju kesepakatan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz akan dijamin sebagai bagian dari kesepakatan. Jalur ini merupakan jalur vital bagi sepertiga minyak dan gas global. Araghchi juga menulis bahwa transit akan dilakukan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan mempertimbangkan keterbatasan teknis.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, memuji gencatan senjata tersebut dan menyebutnya sebagai kemenangan bagi Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa keberhasilan militer AS menciptakan pengaruh maksimal, memungkinkan Presiden Trump dan timnya terlibat dalam negosiasi sulit yang membuka peluang solusi diplomatik dan perdamaian jangka panjang.

Euforia tersebut berdampak positif pada pasar saham, dengan harapan bahwa krisis yang telah mengguncang ekonomi global selama lebih dari sebulan akan segera berakhir.

Di Balik Layar Negosiasi

Meski Trump secara terbuka mengancam akan melakukan penghancuran massal terhadap warga Iran, tanda-tanda momentum diplomatik sebenarnya muncul di balik layar. Pasukan AS di Timur Tengah dan pejabat Pentagon bersiap melancarkan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur Iran sambil menunggu arah keputusan Trump.

Sekutu di kawasan itu juga bersiap menghadapi potensi pembalasan Iran dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebelumnya, saat Trump menyampaikan pidato di Gedung Putih, utusan khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff disebut “sangat marah” dan sedang sibuk melakukan panggilan telepon.

Usulan balasan 10 poin dari Iran dinilai sebagai bencana oleh Witkoff kepada para mediator. Perubahan yang kacau terjadi sepanjang hari, menurut laporan Axios. Mediator dari Pakistan kemudian mengesahkan draf baru antara Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Sementara itu, menteri luar negeri Mesir dan Turki berupaya menjembatani perbedaan. Para mediator akhirnya memperoleh persetujuan AS atas proposal gencatan senjata dua minggu yang diperbarui pada Senin malam.

Keputusan akhir kemudian berada di tangan Khamenei, yang belum muncul di depan publik sejak diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi. Axios melaporkan bahwa Khamenei terlibat aktif dalam proses tersebut pada Senin dan Selasa. Menghadapi ancaman pembunuhan dari Israel, Khamenei lebih banyak berkomunikasi melalui pihak ketiga yang menyampaikan pesan tertulis.

Persetujuannya kepada para negosiator untuk mencapai kesepakatan menjadi terobosan penting, menurut laporan Axios yang mengutip dua sumber anonim. Araghchi juga memainkan peran kunci, baik dalam negosiasi maupun dalam meyakinkan para komandan Garda Revolusi untuk menerima kesepakatan.

Gencatan Senjata Tidak Mencakup Hizbullah/Lebanon

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendukung keputusan AS, tetapi menegaskan Lebanon tidak termasuk dalam gencatan senjata dua minggu tersebut. Militer Israel menyatakan telah menghentikan serangan terhadap Iran sesuai arahan politik, setelah AS mengumumkan gencatan senjata.

Namun, di Lebanon, militer Israel menyebut operasinya terhadap Hizbullah tetap berlanjut. Menurut Samir Puri, dosen tamu studi perang di King’s College London, posisi Israel kemungkinan telah dikoordinasikan dengan AS. Jika Israel mengatakan gencatan senjata tidak mencakup Lebanon, sementara Iran dalam negosiasi berikutnya menuntut sebaliknya, hal itu bisa menekan hubungan Iran dengan Hizbullah.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyambut baik gencatan senjata tersebut, namun memperingatkan bahwa situasi di Lebanon tetap kritis dan seharusnya turut dimasukkan dalam kesepakatan. Sementara itu, Hizbullah dilaporkan menerima gencatan senjata dua minggu meskipun Israel masih menyerang Lebanon, menurut Reuters. Kelompok tersebut menghentikan serangan ke Israel utara dan pasukan Israel di Lebanon pada dini hari Rabu.