Prancis Tuduh Elon Musk Ikut Memanas-manasi Politik Eropa Menjelang Pemilu

Panbil Mall

Paris menuding Elon Musk menggunakan platform X untuk menyebarkan kebencian terhadap para pemimpin Eropa dan ikut mengganggu stabilitas politik menjelang pemilu. Kritik itu disampaikan Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot, yang menilai aksi sang CEO SpaceX dan Tesla bukan sekadar komentar politik, melainkan bagian dari upaya memperkeruh suasana publik di Eropa.

Barrot mengatakan kampanye semacam itu berbahaya karena dapat mendorong polarisasi dan merusak ruang demokrasi yang sangat bergantung pada arus informasi. Ia menyebut Prancis tidak akan membiarkan campur tangan dari luar dibiarkan begitu saja, terutama ketika menyangkut proses politik di dalam negeri.

Dalam penjelasannya, Barrot juga mengaitkan serangan narasi di ruang digital dengan sejumlah isu sensitif yang belakangan kerap dipakai untuk memecah belah masyarakat Prancis. Ia menyebut migrasi, sekularisme, serta konflik Israel-Palestina sebagai tema yang kerap dieksploitasi oleh pihak-pihak tertentu untuk memperlebar perbedaan pandangan di dalam negeri.

Prancis bahkan menyoroti adanya akun-akun yang menyebarkan narasi negatif dan, setelah ditelusuri, dikaitkan dengan asal-usul dari Rusia, China, dan Iran. Selain itu, Paris juga melihat adanya kampanye yang datang dari komunitas MAGA di Amerika Serikat. Pemerintah Prancis menegaskan semua bentuk intervensi asing itu akan dilawan, karena dianggap berpotensi memengaruhi pemilihan presiden di negara tersebut.

Sikap Paris terhadap Musk bukan muncul tiba-tiba. Pada Juli, Musk secara terbuka menyatakan dukungan kepada politikus sayap kanan Marine Le Pen untuk pilpres Prancis 2027. Ia menyebut Le Pen sebagai harapan terakhir bagi Prancis untuk mengubah arah negaranya. Sebelumnya, pada April 2025, Musk juga sudah menyuarakan dukungannya ketika Le Pen terseret persoalan hukum terkait dugaan penggelapan dana publik.

Jejak campur tangan Musk dalam politik Eropa tidak hanya terlihat di Prancis. Pada Desember 2024, ia pernah menyebut partai konservatif Jerman, Alternative fuer Deutschland (AfD), sebagai satu-satunya kekuatan yang bisa menyelamatkan Jerman. Di waktu lain, ia juga ikut berkomentar mengenai situasi politik di Rumania dan Inggris, memperkuat kesan bahwa ia kerap memanfaatkan pengaruhnya untuk masuk ke perdebatan politik di benua itu.