Ruang Kreatif yang Berbeda di Surabaya
Studio Damai tidak hanya sekadar kafe biasa. Di tengah maraknya bisnis kafe modern di Kota Surabaya, Jawa Timur, tempat ini menawarkan pengalaman yang berbeda. Pengunjung bisa membaca, berdiskusi, mengerjakan tugas, atau bahkan duduk lama untuk merenung. Tidak hanya sebagai tempat minum kopi, Studio Damai menjadi ruang yang menyediakan banyak hal bagi pengunjung.
Redo Nomadore, pemilik Studio Damai, bercerita bahwa awalnya ia tidak sengaja membangun tempat ini. “Saya bersama Azis membuat yayasan dan mencari kantor kecil di pusat kota. Alhamdulilah dapat, tapi terlalu besar. Kebetulan saya juga ingin punya kafe dan toko buku,” ujarnya. Dari situ, Redo membawa koleksi bukunya yang kemudian dijual di tempat tersebut. Buku-buku yang sebelumnya hanya tersedia secara daring kini memiliki pasar baru.
Konsep yang diusung oleh Redo adalah toko buku yang dilengkapi dengan kafe. Namun, ia menolak mengunci Studio Damai dalam satu identitas. Menurutnya, tempat ini lebih tepat disebut sebagai ruang. “Tempatnya bisa untuk apa saja. Mindset saya konsepnya space saja, jadi bisa dibuat apa saja. Waktu opening juga ada pameran seni, makanya namanya bukan kafe atau bookstore, tapi studio karena multifungsi,” katanya.
Buku-Buku yang Unik dan Langka
Buku-buku yang tersedia di Studio Damai terbilang unik karena sebagian besar merupakan buku tua dan langka. Bahkan ada buku yang terbit pada tahun 1819. “Spesialisasi kami adalah buku-buku tua dan langka, seperti first edition. Genre yang tersedia mulai dari sejarah, sosial politik, hingga buku-buku natural sains dan ilustrasi. Kami juga memiliki koleksi peta-peta tua dan poster-poster tua,” jelas Redo.
Pengunjung bebas membaca buku di tempat, tetapi tidak semua koleksi bisa disentuh sembarangan. “Jika perpustakaan bisa didefinisikan sebagai tempat membaca, maka di sini juga bisa. Namun, jika ingin membawa pulang harus dibeli. Selain itu, beberapa buku tidak bisa dibaca di tempat karena usia, kondisi, dan kelangkaannya,” tambahnya.
Komunitas yang Terbentuk
Seiring berjalannya waktu, Studio Damai membentuk komunitas. “Kebanyakan dari kalangan mahasiswa dan yang sudah bekerja tapi suka membaca. Akhir-akhir ini didominasi oleh mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas,” ujar Redo.
Pembeli buku di tempat ini memiliki karakteristik yang berbeda. Untuk koleksi langka, pasar Studio Damai justru lebih luas dari Surabaya sendiri. “Kalau untuk pembeli buku rata-rata adalah kolektor. Sementara teman-teman yang nongkrong di sini bukan pembeli, mereka lebih suka kafenya. Mungkin mereka hanya membeli buku-buku umum yang harganya terjangkau,” tambahnya.
Fasilitas dan Jam Operasional
Studio Damai buka setiap hari mulai pukul 13.00–24.00 WIB. Jam paling ramai terjadi menjelang malam. Meski ada kopi dan makanan, namun bagi Redo, hal tersebut hanya pelengkap. “Jika teman-teman datang, mereka merasa seperti di ruang tamu rumah saya,” katanya.






















