Praka Farizal Gugur di Lebanon: Keluarga Syok Serangan Israel

Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian di Lebanon, Tinggalkan Duka Mendalam

Seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI), Praka Farizal Romadhon, anggota Satuan Tugas Kontingen Garuda (Konga) TNI yang tengah menjalankan misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon, gugur dalam sebuah insiden serangan pada Minggu, 29 Maret 2026. Peristiwa tragis ini terjadi di tengah situasi ketegangan yang meningkat di Lebanon Selatan, di mana terjadi saling serang artileri antara pihak-pihak yang bertikai.

Praka Farizal Romadhon, yang baru berusia 28 tahun, meninggalkan seorang istri tercinta dan seorang putri kecil berusia dua tahun. Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, serta rekan-rekan sesama prajurit yang mengenalnya.

Kronologi dan Situasi Insiden

Menurut informasi yang dihimpun, insiden tersebut melibatkan serangan yang mengenai posisi kontingen Indonesia. Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen Aulia Dwi Nasrullah, menjelaskan bahwa keempat prajurit TNI yang terlibat dalam insiden tersebut merupakan anggota Kompi C United Nations Position (UNP) 7-1 dari Satuan Tugas (Satgas) Batalyon Mekanis (Yonmek) XXIII-S UNIFIL.

Selain Praka Farizal Romadhon yang dinyatakan gugur, tiga prajurit TNI lainnya juga menjadi korban dalam serangan tersebut. Praka Rico Pramudia dilaporkan mengalami luka berat, sementara Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan mengalami luka ringan dan telah mendapatkan penanganan medis yang memadai.

Pihak Kementerian Pertahanan RI, melalui Karo Infohan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengonfirmasi bahwa kejadian tersebut terjadi di tengah situasi saling serang artileri antara kedua belah pihak. “Perlu disampaikan bahwa kejadian terjadi di tengah saling serang artileri,” ujar Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait.

Mabes TNI juga melaporkan hal serupa, menegaskan bahwa insiden terjadi ketika kedua belah pihak tengah melancarkan serangan. “Insiden terjadi di tengah saling serang persenjataan dan hingga saat ini belum dapat dipastikan pihak yang secara langsung menyebabkan kejadian tersebut,” ungkap Mayjen Aulia Dwi Nasrullah. Ketidakpastian mengenai pihak yang bertanggung jawab secara langsung atas serangan tersebut menambah kompleksitas situasi.

Rekam Jejak dan Dedikasi Praka Farizal Romadhon

Praka Farizal Romadhon, yang lahir di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada tanggal 3 Januari 1998, merupakan prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang berasal dari satuan Batalyon Infanteri (Yonif) 113/Jaya Sakti, di bawah naungan Brigif 25/Siwah, Kodam Iskandar Muda. Dalam perjalanan karir militernya yang tergolong cemerlang, ia terakhir menjabat sebagai Rektor Taban 1 Ru Provost Kima. Posisi ini merupakan jabatan operasional yang krusial dalam menjaga disiplin dan tata tertib di lingkungan Kompi Markas satuan Yonif.

Dedikasi dan loyalitasnya dalam menjalankan tugas sebagai prajurit TNI tidak diragukan. Ia tercatat pernah menerima tanda kehormatan berupa Satyalancana Dharma Nusa (SL Dharma Nusa) serta Satyalancana Kesetiaan VIII Tahun. Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas loyalitas, disiplin, dan pengabdian tanpa cacat yang telah ia tunjukkan selama bertugas.

Semangat pengabdiannya yang tinggi membawanya mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan misi internasional sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian dunia. Pada bulan April 2025, Praka Farizal ditugaskan dalam misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai anggota United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Penugasan ini menjadi sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar, menunjukkan kontribusi Indonesia dalam menjaga stabilitas dan perdamaian global.

Namun, takdir berkata lain. Pengabdiannya di tanah Lebanon harus berakhir secara tragis. Praka Farizal Romadhon meninggal dunia di usia muda akibat serangan militer Israel yang mengenai kontingen Indonesia di dekat wilayah Adchit Al Qusayr.

Kehidupan Pribadi dan Kepergian yang Mengharukan

Di balik seragam militernya, Praka Farizal adalah seorang suami dan ayah yang penuh kasih. Ia menikah dengan Fafa Nur Azila pada 4 Juli 2023. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai seorang putri bernama Shanaya Almahyra Elshanu, yang lahir pada 6 Mei 2024. Keluarga kecil mereka selama ini tinggal di Asrama Militer Kima Yonif 113/Jaya Sakti di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Aceh.

Kepergian Praka Farizal meninggalkan luka mendalam bagi istri dan putrinya yang masih sangat kecil. Kehilangan sosok ayah dan suami yang dicintai di usia yang masih belia tentu menjadi pukulan berat bagi keluarga ini.

Kenangan di Kampung Halaman

Praka Farizal berasal dari Padukuhan Ledok, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kulon Progo. Wakidi, salah seorang warga Dukuh Ledok, menceritakan bahwa Praka Farizal sempat pulang ke kampung halamannya pada Lebaran 2025 lalu. Saat itu, ia datang bersama istri dan anaknya. “Lebaran kemarin saya sempat ketemu, tapi kalau Lebaran tahun ini orangnya tidak pulang,” ujar Wakidi.

Wakidi menggambarkan Praka Farizal sebagai anak yang aktif dalam kegiatan masyarakat semasa mudanya, sering ikut serta dalam kegiatan Karang Taruna di Ledok. Meskipun berjauhan di Aceh dan kemudian bertugas di Lebanon, ia dikenal rajin berkomunikasi dengan keluarga di kampung halaman.

Kabar duka mengenai meninggalnya Praka Farizal pertama kali diterima oleh keluarganya melalui Babinsa Sidorejo. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa Praka Farizal meninggal dunia saat bertugas di Lebanon akibat serangan rudal dari Israel.

Setelah berdiskusi dengan pihak keluarga, diputuskan bahwa Praka Farizal akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang berjarak sekitar 1 kilometer dari rumah orang tuanya di Kulon Progo. Pihak keluarga masih menunggu kepastian mengenai jadwal kepulangan jenazah ke tanah air. Namun, dipastikan bahwa pemakaman akan dilaksanakan secara militer sebagai bentuk penghormatan terakhir atas jasa dan pengabdiannya.

Persiapan pun tengah dilakukan di kampung halaman untuk menyambut kedatangan jenazah. Warga sekitar membantu membersihkan lahan di sekitar rumah almarhum sebagai bentuk dukungan dan persiapan. Komandan Komando Distrik Militer (Kodim) 0731/Kulon Progo, Letkol Inf Dyan Niti Sukma, juga telah membenarkan kabar meninggalnya Praka Farizal.

Meskipun prajurit TNI yang bertugas di misi perdamaian menghadapi berbagai risiko, termasuk ancaman keamanan, dedikasi mereka dalam menjaga perdamaian dunia patut diapresiasi setinggi-tingginya. Gugurnya Praka Farizal Romadhon menjadi pengingat akan pengorbanan para prajurit TNI dalam misi internasional.